5 Juni Yang Kunanti: KLa Returns With Love Pulang Ke Kotamu

Pengantar: catatan ini bukanlah tulisan pengamat musik. Catatan ini semata-mata rekaman peristiwa oleh seorang pecinta KLa Project yang mengagumi sebuah band yang ikut mengisi hidupnya dan merasakan konser kali ini adalah konser yang sangat Up Close & Personal buatnya.

Tanggal 5 Juni bukanlah hari dimana ada kewajiban mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang yang istimewa buat saya. Tapi, tanggal 5 Juni 2010 adalah hari yang saya tunggu setelah di bulan Maret mendapat bocoran akan ada konser KLa Project, band favorit saya. Band yang mengisi perjalanan hidup dan perjalanan asmara saya.

Saya tak main-main. Saya harus memberikan sesuatu pada hari yang saya tunggu itu sebagai bukti kegilaan & kesetiaan pada mereka. Bak menunggu saat jadi pengantin, saya harus bersabar menanti mereka menuju ruang press conference. Mendapat info press conference dilaksanakan pada pukul 13.00, saya sudah bersiap setengah jam sebelumnya. Bak apel pertama aja, gak boleh telat!

Angka 13:00 di pencatat waktu digital sudah berlalu, tak ada tanda-tanda press conference dimulai. Mengirim SMS ke salah satu dari KLa, mendapat jawaban 13:30. 13:30 sudah berlalu, tak muncul juga. Pantat saya sudah terasa panas karena terlalu lama duduk dengan tak sabar bak menanti kekasih hati. Akhirnya, beberapa menit selepas 14:00 barulah mereka terlihat keluar dari lift.

Sebelum press conference, hadiah yang sudah saya siapkan untuk Katon, Lilo, Adi & Sisca, saya berikan kepada Lilo & Adi, sementara Katon bergegas menuju ruang press conference sebagai sebuah sikap seorang professional. Kami sempat bersapa hangat bak teman yang sudah lama tak bersua sebelum mereka memasuki ruang itu. Kenangan dari saya buat Katon saya sodorkan di tengah press conference itu.

Press conference tak hanya dihadiri para pemburu berita tapi juga sepasang suami istri penggemar berat KLa yang juga menginap di hotel itu, entah sengaja atau tidak. Ketika sesi tanya jawab tak lagi dicecari pertanyaan oleh pemburu berita, sang suami tadi menyeruakkan curhatnya. KLa adalah bagian dari perjalanan asmara mereka! Selesai acara, Lilo dengan bangganya menunjukkan kaos yang dipakainya sebagai pemberian saya. Saya juga bangga dengan hadiah itu. Semua personil KLa sudah mendapatkan persembahan saya buat mereka.

Waktu beranjak menuju angka 20:00. Di dalam gedung pertunjukan, sambil menunggu KLa beraksi, saya bertemu beberapa pemburu berita yang dari penampilannya adalah pemburu berita yang masih kinyis-kinyis, yang nampaknya tak kenal KLa. Perkiraan saya benar. Mereka masih duduk di bangku sekolah dasar ketika KLa merajalela di panggung musik Indonesia di tahun 90an.

Acara utama yang saya tunggu-tunggu dimulai. Akses ke segala penjuru venue ada di tangan saya. Kebebasan ke sana kemari menambah sumringah hati. Dibuka dengan lagu Satu Kayuh Berdua dari album Ungu (1994), para pemburu berita yang belum lama jadi sarjana (kalau gak DO!) bertanya pada saya apa judul lagu itu. Mereka bertanya adakah song list dari konser ini. Di kamar ganti memang ada selembar song list, tapi kosong! Saya menjadi “pemandu wisata” buat mereka. Pemandu wisata khusus judul lagu.

Dilanjutkan lagu Terkenang dari album V (1995) kemudian Terpuruk Ku Di Sini (Ungu, 1994), saya pun menuliskan judul ketiga lagu yang sudah dan sedang dimainkan. Saya ingin, pemberitaan tentang KLa harus benar, walau sekedar judul lagu. Setelah memanjakan para pemburu berita, waktunya buat saya untuk memanjakan kamera saya beraksi. Berada di sisi kiri panggung, kamera saya lebih banyak menangkap aksi sang pemencet kibor, Adi Adrian . Kumandang lagu terus berlanjut. Lagu ketiga menunjukkan mulai menghangatnya suasana. Pengalaman, kematangan & kemahiran Katon Bagaskara mengaduk emosi penonton untuk ikut bernyanyi. Mulut-mulut penonton pun secara spontan ikut berdendang menambah kerasnya suara di gedung pertunjukan.

Penonton yang kebanyakan berusia kepala 3 dan 4 menikmati masa sebelum “tambah usia” mereka. Lagu keempat, Menjemput Impian dari album KLasik (1999) yang sempat menjadi soundtrack sebuah sinetron (dibintangi Erna Libby yang sexy) yang diputar SCTV pun tak luput dari dendang mulut penonton. Dilanjutkan Belahan Jiwa (Pasir Putih, 1992), penonton seolah tak capek ikut berdendang.

Tibalah waktunya bagi sang gitaris, Lilo, beraksi dengan lagu Meski Tlah Jauh dari album V (1995). Lagu ini selalu saya tunggu di setiap konser KLaProject karena lagu ini menunjukkan bahwa Lilo memang tak bisa dipisahkan dari KLa karena suaranya yang tak dimiliki penyanyi lain. Lilo, sebagaimana Katon & Adi, adalah roh yang bersatu dalam KLa. Beruntung saya membawa 2 kamera karena bisa mengambil gambar mati dan gambar bergerak untuk mendokumentasikan lagu ini.

Dan, inilah yang selalu saya tunggu di setiap konser KLa: Semoga! Lagu favorit saya dari semua lagu KLa Project dari album Kedua (1990). Kamera pun berpindah ke sisi kiri dimana Adi Adrian memainkan jari lentiknya menghasilkan nada-nada indah pada komposisi yang paling saya suka. Satu hal yang tak pernah terjadi sebelumnya yaitu mendokumentasikan sendiri lagu favorit saya dimainkan secara live.

Lagu Semoga sangat memuaskan saya. Apalagi berikutnya? Sebuah lagu lama dari album Kedua tapi tetap Lagu Baru mengikuti lagu Semoga. Ingatan saya kembali ke tahun 2000, ketika musik genre ska mulai ramai di tanah air. Di tahun itu, saya dan istri menyaksikan konser mereka di sebuah café kecil yang kini sudah tak lagi beroperasi, hanya berjarak beberapa petak dari tempat konser malam itu. Pada konser kecil yang saya saksikan untuk kedua kalinya bersama “belahan jiwa” itu, lagu ini dieksplorasi dengan improvisasi musik ska, membuat semua penonton ikut bergoyang! Sebuah eksplorasi nakal, karena melenceng jauh dari aliran KLa sesungguhnya.

Baru saja ingin rehat sebentar setelah menikmati Semoga dan capek bergoyang karena Lagu Baru, saya harus kembali lagi memusatkan indra lihat dan indra dengar karena lagu Gerimis berkumandang. Lagu yang inspirasinya muncul ketika sedang dalam perjalanan menuju ke Ancol untuk karantina pembuatan album dalam suasana hujan deras pada tanggal 17 Pebruari 1996 pukul 5.45, di kaca mobilnya yang diusap oleh wiper, Lilo melihat wajah seorang anak. Cerita ini pernah dituturkan di acara “Satu Jam Bersama KLa Project” di stasiun televisi Indosiar. Gerimis ini juga lah yang mengiringi perjalanan asmara dan ritual budaya saya ketika meminang pacar dan kemudian menjadi istri saya. Dalam perjalanan wisata dari Pontianak ke Singkawang, di mobil yang membawa kami, kaset KLakustik #1 tak berhenti diputar sepanjang perjalanan yang diiringi tetesan gerimis.

Bagaimana saya bisa beranjak sekedar rehat jika perjalanan dilanjutkan oleh gita berjudul Tak Bisa Ke Lain Hati dari album Pasir Putih (1992)? Album ini merupakan album terakhir kebersamaan Ari Burhani bersama mereka sebagai drummer. Album yang berkesan buat saya karena lagu yang begitu romantis judulnya, Tak Bisa Ke Lain Hati, justru mengiringi kisah asmara yang tak pernah sampai meskipun tidak bertepuk sebelah tangan. Biarlah menjadi cerita buat saya pribadi.

Baru saja lelah menghampiri setelah kesana kemari, penggebuk drum, Harry Goro, menghentakkan irama derap delman, kendaraan tradisional bertenaga kuda sebenarnya. Sudah bisa ditebak, inilah lagu yang melambungkan KLa ke antero negeri menyuarakan lagu yang mendapatkan penghargaan dari Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lagu Yogyakarta dari album yang sama dengan lagu Semoga menjadi semacam lagu wajib baru tak hanya bagi orang Yogya, tapi juga orang yang melakukan perjalanan ke kota budaya ini.

Tanpa rehat sedikitpun, Katon yang seperti punya “nyawa kedua” terus melanjutkan pagelaran dan berbunyilah nada-nada yang sangat saya kenal baik di tahun 1988, intro lagu Tentang Kita! Bagaikan buah yang disimpan dan menunggu sampai matang untuk dihidangkan, akhirnya Sisca, yang sejak awal konser menunggu dengan sabar di samping panggung sambil sesekali ke kamar ganti, menyeruak ke panggung. Bintang tamu istimewa pada konser ini. Sisca memang tak bisa dipisahkan dari KLa, terutama pada lagu Tentang Kita yang terdapat di album kompilasi 10 Bintang Nusantara (1988) dan album pertama KLa Project (1989) Wah, lagu ini pasti menjadi penutup konser KLa Returns With Love malam ini.

Lagu telah selesai didendangkan, lampu gedung dinyalakan tapi penonton tak beranjak dari sekitar panggung. Mereka meneriakkan kata “lagi….lagi….lagi….” berkali-kali. Sebuah tanda permintaan encore, lagu tambahan. Dengan suka rela, KLa mendendangkan lagu Anak Dara yang juga romantis, sebagaimana lagu-lagu KLa kebanyakan. KLa memang selalu dekat dengan penikmatnya, apalagi ini konser di Yogya, rumah “kedua” mereka yang berkontribusi melambungkan namanya.

Sebelum lagu berakhir, langkah bergegas ke kamar ganti menunggu dan menyambut KLa dengan hati gembira dan puas. Di kamar ganti, wajah-wajah sumringah terus menyeruak sebagai tanda kepuasan atas sebuah performa yang luar biasa.

KLa telah menuntaskan kangen dan dahaga penikmatnya malam itu. Seluruh lagu yang dibawakan tak sama dengan versi rekaman, karena KLa memang tak pernah mau memberikan performa “playback” atau “minus-one” bagi penggemarnya. Inilah bukti, KLa bukanlah band “mati gaya” ala industri. Masih ada ruang untuk selalu bereksplorasi. Itulah yang membuat saya menunggu konser KLa.

Satu pengamatan yang tak lepas dari mata saya adalah beberapa penonton yang sudah suami istri, mengajak anak-anak mereka ikut serta. Inikah tanda para orang tua ini ingin menitiskan roh “romansa” mereka pada keturunannya? Entahlah. Tapi, bisa jadi ini sebuah tantangan bagi KLa bagaimana musik mereka bisa mendarah daging tak hanya berhenti pada penikmat di generasinya, tapi juga menurun ke generasi berikutnya. Siapkah KLa Project menerima tantangan ini? SEMOGA!

terima kasih saya ucapkan kepada Den Mas Totok, Yuris Dewandaru dan Sportax sebagai EO yang telah mendatangkan KLa Project ke kota penuh cinta.

photo oleh: Den Mas Totok

catatan: tulisan ini sudah pernah saya posting di Note Facebook pada 8 Juni 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s