A Tribute To KLa Project

Tak ada yang lebih menggembirakan bagi seorang fans sebuah band atau seorang artis kecuali terus dapat menikmati karya-karya artis pujaannya.

Begitu juga saya yang begitu mendengar akan adanya album A Tribute To KLa Project, langsung kesabaran saya tak berhenti menunggu rilisnya album tersebut. Dan, ketika di social networking sudah ada yang menyebar gossip sudah tersedianya album itu, saya tak mau ketinggalan, dan setiap hari (sebelum tanggal rilis) mengunjungi gerai dimana album tersebut didistribusikan.

Akhirnya, pada hari-H, konsentrasi saya tertuju pada gerai mini-market penjual album A Tribute To KLa Project. Penasaran, seperti apakah jika lagu-lagu KLa Project dibawakan dengan interpretasi kekinian. Apakah lebih indah dari warna aslinya, atau ………

Tanpa menunggu waktu, sampai lupa waktu mengisi perut siang hari, album ini langsung saya putar berulang kali, untuk memutar memory masa lalu dalam bingkai masa sekarang.

The Album
Album A Tribute To KLa Project berisi 10 lagu dari seluruh karya KLa Project sejak album pertama (KLa Project, 1989) sampai album KLasik (2000) dan dibagi menjadi 3 bagian atas dasar label yang menaungi KLa Project sejak awal sampai akhir. Bagian pertama adalah album KLa Project (1989) dan Kedua (1990) yang waktu itu berada di bawah bendera Team Records dengan judul warna merah. Lagu yang ditampilkan adalah Tentang Kita, Lantai Dansa, Yogyakarta dan Semoga. Hanya saja, saya sedikit bertanya mengapa Semoga dikelompokkan dalam judul warna biru (seharusnya merah donk), dimana warna ini menampilkan lagu-lagu ketika KLa Project bernaung di bawah bendera Pro Sound. Semestinya warna biru ini ditujukan untuk Terpurukku Di Sini dari album Ungu (1994), Bahagia Tanpamu dan Meski Tlah Jauh dari album V (1995). Perjalanan berlanjut pada bagian ketiga dengan judul warna kuning. Sudi Turun Ke Bumi, Prasangka dan Menjemput Impian adalah lagu-lagu yang diambil dari album Sintesa (1998) dan KLasik (2000), saat KLa Project bernaung di bawah bendera Sony Music.

The Songs
Apa yang diharapkan fans tidaklah selalu sama dengan apa yang ada di benak KLa Project. Fans biasanya berpikir lagu-lagu yang mereka suka sedangkan KLa Project pasti mempunyai pertimbangan lain, misalnya artist yang lebih cocok membawakan lagu pilihan di album ini serta nilai jual masing-masing artis untuk ikut “menjual” album ini. Tentu saja, sebagai penggila KLa Project, saya nurut saja karena 90% lagu mereka saya suka. Syukurlah, lagu Semoga dan Meski Tlah Jauh masuk di album ini, dan saya bahagia.

Urutan pertama di album ini adalah Tentang Kita dibawakan oleh RAN. Inilah awal karir KLa Project. Lagu yang awalnya muncul sebagai single di kompilasi 10 Bintang Nusantara (1988) dan berhasil memaksa lagu “turun tahta” tiga bulan kemudian. Pada awalnya, album kompilasi ini menempatkan Tentang Kita di urutan A2 (jaman kaset kan ada A dan B ya?). Tiga bulan kemudian, Tentang Kita menyodok ke A1 dan album ini dicetak ulang, termasuk covernya direvisi. Tentang Kita akhirnya masuk di album pertama KLa Project (1989). Dan, RAN cukup menggigit membawakan lagu ini.

Disusul Lantai Dansa dari album yang sama, dibawakan oleh The Upstair’s. Jika saja saya memilih, lagu rancak yang saya inginkan adalah Lagu Baru dari album Kedua (1990) dan cocok juga rasanya dibawakan group SKA seperti Tipe-X. hmm…..

Lagu Yogyakarta dibawakan oleh Ungu menjadi lagu ketiga di album ini. Siapa sih yang tak kenal lagu Yogyakarta (album Kedua, 1990)? Sebuah lagu yang memberi identitas bagi KLa Project maupun kota Yogyakarta itu sendiri sampai kelompok ini mendapat penghargaan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dan album Kedua pun menyabet beberapa penghargaan dari dunia musik Indonesia. Sayangnya, lagu ini sedikit kepleset dengan cengkok melayu yang dilafalkan vokalis Ungu pada lirik “….ada setangkup dalam rindu” dan “penuh selaksa makna”. Buat saya, ini mengurangi keindahan lagu aslinya.

Lagu Semoga (masih dari album Kedua) dibawakan oleh Vidi Aldiano menyusul kemudian. Inilah lagu favorit saya dari KLa Project. Dengan vocal director Irvan Natadiningrat (ex ME), saya terlalu subyektif mengomentari lagu ini. Yang jelas, saya suka juga lagu ini dibawakan Vidi. Adakah peran penting vocal director dalam membuat lagu ini tetap indah? Mestinya iya sih.

Terpurukku Di Sini dari album Ungu (1994) menjadi lagu berikutnya. Lagu yang liriknya KLa banget ini, terdengar “empuk” dibawakan oleh Ahmad Dani dengan sedikit sentuhan techno yang kental di lagu-lagu KLa pada album Pasir Putih.

Violet, artis besutan baru yang bernaung di bawah bendera KLa Corp, menyusul melagukan Bahagia Tanpamu, yang aslinya ada di album V (1995). Di sini, suara gesekan biola terasa menonjol, serasa lagu ini dihiasi orkestrasi. Asyik juga sih.

Pongki Barata, yang pada awal karir bermusiknya di Jikustik menyanyikan Maaf dan suaranya terdengar mirip Katon Bagaskara, mendapat bagian lagu ketujuh, Meski Tlah Jauh (album V, 1995). Lagu aslinya yang penuh dengan lengkingan suara khas Lilo yang nge-rock – dan di konser-konser KLa selalu memberi kesempatan Katon Bagaskara rehat sejenak – menjadi lebih pop sweet dengan bantuan Sophie Navita, istrinya.

Berlanjut ke lagu berikutnya, Sudi Turun Ke Bumi, dibawakan oleh Babas, yang namanya sangat asing bagi saya. Lagu dari album Sintesa (1998) ini secara pasar kurang berhasil tapi secara artistic adalah album “genius” dari KLa Project. Suara Babas yang agak nge-bass, membuat lagu ini tidak segarang aslinya namun lagu ini menjadi kental dengan suasana rock.

Dua lagu berikutnya adalah Prasangka dan Menjemput Impian dari album KLasik (2000). Prasangka dipercayakan kepada Maliq & D’Essentials. Maliq berhasil membawakan lagu ini dengan sentuhan jazzy. Rasanya fresh dan sejuk kayak jeruk!

Menjemput Impian yang dulu menjadi soundtrack sinetron menjadi lagu terakhir pada album ini. Dan, Kerispatih yang digawangi Badai pasti mendapat kehormatan menjadi pembawa lagu ini mengingat Badai memang mengidolakan KLa Project. Serasa mendengarkan lagu KLa Project rasa Kerispatih.

The Artists
Sebagaimana album-album A Tribute To… , pemilihan penyanyi untuk masing-masing lagu menjadi tantangan tersendiri karena setiap pilihan harus mempertimbangkan nilai jual album secara keseluruhan. Sebagian besar pengisi album ini adalah penyanyi yang sudah dikenal, dan sisanya masih agak asing di dunia musik Indonesia.
Secara teknis, pemilihan artis untuk album seperti ini memiliki kesulitan tersendiri karena masing-masing artis bernaung di recording company yang berbeda. Dan, usahan menyatukan mereka di satu album seperti ini, patut mendapat apresiasi berlebih dan acungan jempol lebih dari dua tangan.
Secara keseluruhan, secara pribadi, saya happy dengan album ini. Para pembawa lagu di album ini berhasil mengingatkan saya pada lagu-lagu aslinya dalam bingkai yang tak kalah nikmat. Mereka pantas diacungi jempol dalam membawakan lagu-lagu di album ini mengingat aransemen & lirik lagu-lagu KLa Project bukanlah lagu yang lazim. Mereka memiliki kesulitan tertentu untuk dibawakan penyanyi lain yang tidak siap dan hanya memiliki musikalitas standard (umum).

The Distribution
Penjualan album A Tribute To KLa Project ini cukup taktis dan jenius. Belajar dari album sebelumnya (KLa Returns dan eXellentia) yang secara distribusi kurang merata karena hanya lewat toko kaset (baik tradisional maupun berjaringan), menjual lewat gerai berjaringan bukanlah metode baru. Sudah beberapa artis menjual karyanya lewat restoran cepat saji penjual ayam goreng dan dirasa cukup berhasil. Tapi, penjualan lewat gerai restoran cepat saja sedikit mengandung pemaksaan karena pembeli “dipaksa” membeli ayam goreng yang tak semua orang suka karena alasan kesehatan.
Lewat mini-market berjaringan sampai ke tingkat desa, distribusi penjualan ini pasti lebih massive. KLanese yang tersebar ke seluruh penjuru negeri, dengan mudah bisa menemukan gerai mini-market tersebut. Saat ini, penjualan lewat toko kaset memang bukan pilihan yang bagus meskipun tetap perlu. Beberapa pembeli masih percaya diri melangkahkan kaki menuju toko kaset.

Semoga
Selain harapan optimis atas penjualan album via mini-market berjaringan, saya berharap Semoga saja masih ada A Tribute To KLa Project lanjutan. Dan, jika saya diminta memilih, saya ingin lagu-lagu berikut bisa masuk ke album lanjutan tersebut: Anak Dara, Lagu Baru, Datanglah Pesona, Hey, Tak Bisa Ke Lain Hati, Romansa, Gerimis, Saujana, Tambah Usia, Kidung Mesra.
Dan, artis yang ikut mendukung yang ada di benak saya adalah: Agnes Monica, Ari Lasso, Astrid, Dira Sugandi, Jikustik, Kotak, Once, Tangga, Tipe-X, Yovie & Nuno.
Tentu saja, ini adalah pilihan pribadi yang harus dikompromikan dengan seluruh hal teknis yang jauh dari jangkauan saya.
Last but not least, jika teman-teman adalah penggemar KLa Project dan juga penggemar artis yang ambil bagian dari album ini, membeli album yang asli bukanlah hal yang mengecewakan.

Note:
1. Review ini ditulis bukan oleh pengamat musik, namun oleh seorang fans KLa Project dengan tetap mengindahkan obyektivitas.
2. Review ini sudah pernah saya muat di Note Facebook, 16 Oktober
2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s