Andien Nan Kirana

Butuh waktu 5 tahun untuk seorang Andien, salah satu murid maestro Elfa Secioria, kembali menunjukkan kiprahnya di dunia musik Indonesia. Karyanya sebelum ini, Gemintang, rilis di tahun 2005. Kiran(y)a suasana industri musik Indonesia yang tak begitu kondusif yang membuat Andien bertapa?

Dibanding 3 album sebelumnya, album baru yang bertajuk Kirana ini dari segi kemasan memang jauh lebih superior. Kemasan yang tebal, lux dan ceria warnanya, seolah beraroma melon karena warna hijau pastelnya. Kemasan yang tebal & lux, sebuah ciri album yang diproduksi oleh label Platinum yang kebanyakan berharga 1 lembar rupiah bergambar proklamator Negara Indonesia dikurangi coin terbaru produksi Bank Indonesia bergambar angklung.

Bedah Album
Album ini berisi sepuluh lagu. Tiga diantaranya adalah lagu lama. Terlepas dari dua lagu lama, tema yang diusung adalah tentang (perjalanan) cinta, tema yang banyak menghiasi lagu dan memang paling empuk dijadikan inspirasi karya. Cinta dan liku-likunya menjadi sentra dalam album ini. Cinta bertepuk sebelah tangan, optimisme di balik kegagalan cinta serta indahnya dilanda cinta, merupakan tema pada lagu-lagu di album ini.

Bagaimana rasanya jika cinta tak berbalas, bertepuk sebelah tangan? Ungkapan pembenaran mengatakan “cinta tak harus memiliki”. Simaklah pada track keenam yang merupakan judul album ini, Kirana, hasil karya Rieka Roslan, dan urutannya Kusadari (track tujuh) serta Salahku (track delapan)

Dengarkan track pertama (Moving On), tengah (Cerita Kita) dan track terakhir (Cinta) album ini. Ketiganya tentang kegagalan cinta yang tak selamanya harus berujung derita. Kegagalan cinta bisa menjadi motivasi untuk tidak menyelami luka yang pernah didapat. Hidup harus berlanjut terus, Moving On…..

Cinta memang kadang indah. Cinta yang indah, berbunga-bunga, penuh asa terlantun dari suara Andien di track ketiga (Keraguan) & keempat (Pulang). Kedua lagu inilah cerita tentang betapa indah rasanya jatuh cinta dan bisa menikmati hari-hari bersama sang kekasih.

Lagu Keraguan merupakan lagu lama. Dua penyanyi c(i)lik (badannya) menyanyikan lagu yang sama: Keraguan. Yang dulu, dinyanyikan ketika Andien masih balita dan penyanyinya begitu lincah. Trie Utami adalah penyanyi yang punya pitching sempurna menurut seorang penyanyi senior, dan punya power gila (menurut saya). Lagu ini tentu saja tak bisa dibandingkan karena berbeda genre. Jika dipaksakan, perbandingannya tak lagi apple to apple. Hanya saja, jika harus memilih, saya lebih menyukai versi pertamanya. Mungkin karena saya lebih terbiasa dengan yang seusia dengan saya. Ah, betapa tuanya sang usia mengikuti saya? Tapi, bukankah hidup harus terus berjalan? Moving On…….., itu pesan Andien di album ini.

Selain Keraguan, lagu lama yang dinyanyikan ulang di album ini adalah Bimbi, sebuah lagu ciptaan Titiek Puspa yang melegenda lewat lantunan suara grup legendaris, The Rollies. Lagu yang berkisah tentang “gadis desa” yang tiba-tiba menjadi jet-set (istilah sekarang: celebrity) dan lupa pada akarnya tapi akhirnya kehilangan popularitasnya ditelan bergulirnya masa.

Lagu lama tersisa yang terdapat di album ini terletak pada track kedua. Begitu lagu ini diputar, langsung mengingatkan saya pada gebukan drum Gilang Ramadhan yang menggoda penonton untuk langsung berteriak histeris pada konser Krakatau di Yogyakarta, 24 Oktober 1987: Gemilang. Sama-sama bergenre jazz, tapi aransemen di album Kirana yang mellow tak mengurangi rasa cinta saya pada lagu yang awalnya ada di side A nomor 4 kemudian menjadi side A nomor 1 pada cetakan berikutnya album Krakatau Pertama (1987). From Jazz Rock to Mellow Jazz…..

Moving On…..
Dengan predikat dan suara jazzy yang dimiliki Andien, album ini memang pas jika diberi label bergenre jazz tapi rasanya masih belum waktunya ketika dikelompokkan sebagai “audiophile”.

Andien, yang secara usia adalah penyanyi dengan pasar remaja, di album ini menjadi tidak jelas target pasarnya. Dengan mengusung 3 lagu lama yang sangat akrab bagi pendengar musik berusia kacamata plus dan 7 lagu baru, nampaknya label ingin meraih pasar semua umur. Apakah ini bukan pekerjaan berat di tengah menjamurnya penyanyi solo dan grup yang setiap hari menghias kaca televisi? Apalagi, album produksi Platinum secara distribusi hanya bisa didapatkan di outlet milik produsen label ini, Disc Tarra, yang notabene tak tersedia di kota-kota kelas dua tingkat kabupaten.

Pekerjaan ekstra harus dilakukan Andien dan manajemen untuk lebih mendekatkan album ini agar bisa dimiliki banyak penggemarnya. Sementara keterbatasan tersebut di atas diperparah dengan fakta bahwa membeli album fisik (yang asli) sekarang seperti kegiatan langka saja karena bajakan lebih mendapat tempat dan penyebarannya lebih masif, serta RBT (Ring Back Tone) yang tidak utuh malah menjadi barometer keberhasilan sebuah grup band atau penyanyi solo. Sebuah kemajuan teknologi yang mundur dalam menentukan ukuran keberhasilan.

Ketidaktersediaan album ini di tingkat kabupaten atau kota yang tak memiliki outlet Disc Tarra haruslah diimbangi dengan penjualan cara lain (direct atau online) agar album yang sayang untuk dilewatkan ini bisa dimiliki, dikoleksi dan didokumentasi para pendengar setia Andien dan dunia musik Indonesia.

Mendengarkan semua lagu di album ini berarti mendengarkan suara Andien yang crunchy jazzy yang semakin lama semakin kirana saja. Dan, tantangan untuk menembus pasar lebih luas harus dilakukan karena “tiada lagi yang mampu menghalangi, aku takkan berhenti melangkah, cause I’m moving on”.

catatan: review ini pernah saya muat di Note Facebook, 28 Oktober 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s