Jati Diri

Semenjak menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas, saya sudah memulai membeli karya musik yang waktu itu berbentuk kaset. Mendengarkan karya musik sudah saya jalani sebelumnya. Ketika itu, lagu anak-anak memanjakan indra dengar saya sambil bertumbuh. Banyak lagu yang layak didengarkan pada usia saya saat itu, mulai lagu anak-anak klasik (folk) semacam Balonku, Libur Tlah Tiba, Naik Kereta Api, dan lain-lain dan juga lagu anak-anak pop lantunan penyanyi cilik saat itu, dinasti Koeswoyo (Chicha, Sari, Helen), Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha, Diana Papilaya, Santi Sardi, Fitria Elvy Sukaesih, dan lain-lain.

Saya juga ikut mendengarkan lagu-lagu orang dewasa saat itu, seperti Titiek Sandhora & Muchsin, Bob Tutupoly, Arie Koesmiran, Broery Pesulima, Titiek Puspa, Franky & Jane, Chrisye, Emillia Contessa, Grace Simon, Hetty Koes Endang dan sederet penyanyi lain yang top saat itu. Suara mereka terdengar lewat radio yang suaranya tak sebening radio saat ini maupun pemutar (tape player) yang masih mono. Mendengarkannya pun kadang dilakukan satu RT, bersama-sama tetangga. Itulah kekerabatan masa lalu.

Di saat SMA, dengan menyisihkan uang saku, membeli kaset menjadi kebiasaan baru. Dari sinilah saya mengagumi Chrisye, Vina Panduwinata, Atiek CB dan sederet penyanyi lain yang kala itu diistilahkan penyanyi pop cengeng (Iis Sugianto, Christine Panjaitan, Betharia Sonata). Istilah lagu cengeng sendiri sebenarnya muncul di paruh tahun 80 – 90. Istilah ini dicetuskan oleh Menteri Penerangan (Harmoko) saat itu. Entah apa yang melatarbelakangi beliau untuk mengatakan itu. Kebiasaan ini berlanjut ketika mahasiswa. Namun, keterbatasan finansial sebagai mahasiswa yang hidup terpisah dengan orangtua, menjadikan saya harus selektif membeli album musik Indonesia.

Album-album Chrisye, Vina Panduwinata, Krakatau dan KLa Project selalu saya beli. Sementara album lain saya beli ketika saya tau album tersebut berisi banyak lagu yang bagus dan mood untuk membeli ada. Itulah mengapa, saya menempatkan keempat artis (group) itu sebagai favorit saya.

Berlanjut ke usia produktif secara ekonomi, saya masih melakukan rutinitas pembelian album Indonesia, sambil sesekali diselingi membeli album artis manca negara. Tapi, ketika sudah berumah tangga, saya harus menjadi lebih selektif tanpa absen membeli album-album keempat artis/group favorit saya. Ada satu masa dimana saya amat sangat jarang membeli album musik Indonesia. Seolah ada masa terputus di sana.

Di tahun 2007, ketika trend 80an bangkit, saya mulai mencari lagu-lagu 80an dalam bentuk digital. Internet menjadi sahabat untuk mendapatkannya, dan bergabunglah saya dengan Multiply, sebuah social media dimana berbagi cerita dan lagu adalah menjadi kenikmatan baru. Daya tarik berbagi lagu dan bagaimana teman-teman bisa memiliki lagu-lagu 80an dalam bentuk digital membuat saya intens berada di sini. Dan, ketika saya tau bahwa lagu-lagu 80an itu bisa diperoleh lewat berburu kaset lama, maka saya pun tertular virus ini.

Setelah berburu kaset, ilmu berikutnya adalah mendigitalkan karya-karya itu lewat teknologi komputer. Makin banyak kaset lama yang saya dapatkan, makin “terjerumus” saya ke dunia musik Indonesia. Perburuan tak hanya melengkapi koleksi 80an yang dulu tak terbeli, namun menjalar ke album-album tahun berikutnya. Dari situlah, mengumpulkan koleksi terjadi dan kemudian orang-orang menyebut saya kolektor, predikat yang tak saya bayangkan sebelumnya.

Vina Panduwinata, Cium Pipiku, 1987
Yogyakarta, 151012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s