Kehangatan seorang Anton Issoedibyo

Saya memang harus mengakui kehebatan FACEBOOK. Beberapa kali saya bertemu teman lama yang tak terpikirkan lagi bakalan ketemu. FB melakukan hal itu untuk saya. Saya bertemu bekas murid, teman main, dan teman-teman SMA. Selain itu, FACEBOOK juga mempertemukan saya dengan artis-artis favorit saya.

Anton Issoedibyo yang namanya berkeliaran di lagu-lagu Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) sudah lama saya dengar. Tapi, untuk mengenal dan bertemu dengannya, buat saya seperti mimpi. Dan, bertemu mas Anton Issoedibyo, lewat comblangan seorang teman, merupakan hal yang istimewa buat saya.

Setelah berkomunikasi lewat FACEBOOK akhirnya kami bertemu di Yogya. Saya pun tak mungkin melewatkan ritual yang selalu saya lakukan jika bertemu artis atau pencipta lagu yang kasetnya saya koleksi.

Tapi, setelah saya bertemu, rasanya saya harus memendam keingian saya yang biasanya menjadi ritual itu. Melihat Mas Anton yang tidak dalam kondisi terbaik, saya ingin mengurungkan niat saya.

Kemudian, saya masuk dalam diskusi (lebih tepatnya, saya banyak bertanya) dengan Mas Anton mengenai lagu-lagu yang pernah diciptakannya yang beredar di tahun 1980an, khususnya lewat ajang FLPI dan group Geronimo, binaannya.

Dalam kesempatan itu, saya memberikan (bahasa kelas tingginya: mempersembahkan) beberapa kaset FLPI dimana terdapat lagu-lagu ciptaan Mas Anton. Beberapa kali Mas Anton mengelus dada dan berucap “Alhamdullilah” ketika saya menunjukkan kaset-kaset yang saya miliki maupun saya berikan pada beliau. Mas Anton paling terkejut ketika saya menunjukkan kaset World Popular Song Festival in Tokyo ‘82 dimana terdapat lagu Lady yang dinyanyikan Harvey Malaihollo.

Diskusi kami berlanjut pada trend musik saat ini dan Mas Anton juga berencana memproduksi ulang lagu-lagunya yang ngetop di jaman itu. Saya tentu saja menyambut gembira. Di tengah keterbatasannya, Mas Anton masih memiliki semangat berkarya demi musik Indonesia. Dan, Mas Anton memiliki ingatan yang hebat atas karya-karyanya. Masih bisa mengingat banyak karya yang dihasilkannya.

Sayang, waktu tak bersahabat. Saya harus menjemput anak saya pulang sekolah sehingga kami harus berpisah sementara waktu. Mudah-mudahan di bulan Mei, kami berjumpa lagi untuk menggantikan foto yang hasilnya kurang memuaskan.

Sebelum pulang, Mas Anton meminta untuk berpelukan. Saya memeluknya dengan penuh haru. Apalah arti seorang Singo, seorang pemulung kaset bekas, sehingga seorang Anton Issoedibyo yang karyanya bersifat internasional itu meminta saya untuk menjadi akrab dengannya dengan pelukan persabahatan itu.

Sambil memeluknya, saya membisikkan, “Ayo Mas Anton, semangat. Mas Anton pasti bisa kembali seperti semula! Karya Mas Anton saya tunggu dan harus bisa jadi kenyataan!”

Dua jam rasanya seperti 1 menit saja. Kita ketemu lagi bulan Mei dengan kaset-kaset lain yang akan saya berikan pada Mas Anton. Dan, di pertemuan Mei nanti, kita berpelukan lagi, mencontoh para politikus yang lebih banyak berpura-pura. Kita berpelukan dalam nuansa persahabatan yang paling indah, Gerha Rowang Nissreyasa Modana (GERONIMO), Sasana Persahabatan Yang Terbaik dan Menggembirakan.

catatan: tulisan ini sudah pernah saya masukkan di Note Facebook, 28 Arpil 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s