Jatuh Cinta Lagi: Catatan Pribadi Penulis Lirik & Pencipta Lagu, Wieke Gur: Membuka Ketertutupan

Judul                            : Jatuh Cinta Lagi: Catatan Pribadi Penulis Lirik & Pencipta Lagu, Wieke Gur
Penulis                        :
Wieke Gur
Penerbit                      :
Akoer
Cetakan                       :
I, Juni 2009
Jumlah Halaman        :
234 halaman

Dulu, orang berlomba-lomba menutup “rahasia dapur” suksesnya supaya orang tidak menirunya. Sekarang, orang berlomba-lomba membagikan rahasia suksesnya. Menulis buku dengan semangat berbagi dan menularkan ilmunya.

Buku Jatuh Cinta Lagi: Catatan pribadi penulis lirik & pencipta lagu, Wieke Gur termasuk buku berbagi resep. Adalah sebuah kejutan, ketika seorang Wieke Gur – yang menurut pengakuannya sendiri – dulu adalah seorang yang pemalu dan pendiam serta tidak percaya diri dan tidak mudah bergaul akhirnya bersedia membuka ketertutupannya karena hasil provokasi sahabat-sahabatnya, Ria Leimena & Kafi Kurnia.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, lugas dan jelas serta mengalir indah dan juga memperkaya hidup karena terselip kata-kata bijak sebagaimana Wieke Gur menulis lirik-lirik lagu yang tak hanya bertaraf nasional, tapi juga internasional karena memenangkan World Popular Song Festival di tahun 1986 lewat Seandainya Selalu Satu yang juga mengantar Harvey Malaihollo menjadi penyanyi terbaik di ajang itu.

Kisah bagaimana lagu-lagu ditulis dan prestasi yang dicapai sebuah lagu serta latar belakang penciptaan lagu-lagu, bisa ditemui di buku ini. Ini tentunya bisa menjadi semacam resep/tips/referensi bagi para pencipta lagu yang ‘mandeg’ karena tak tau apa yang harus ditulis. Wieke Gur menulis bagaimana ia menyelesaikan lagu Ayun Langkahmu setelah sempat mengalami kebuntuan dan tak mampu lagi menulis. Ketika terbangun dari tidur, matahari membangunkannya dari kesedihan. Dan, jadilah lagu yang optimis ini.

Buku ini juga membuka rahasia “perkawinan” Wieke Gur & Elfa Secioria; proses pertemuan, kolaborasi & “perkawinan” yang membawa kedua orang itu menjadi penghasil lagu-lagu bermutu di tahun 1980an lewat ajang Festival Lagu Populer Indonesia, sebuah ajang adu kreativitas membuat lagu berkualitas yang sayang harus berhenti di tahun 1991.

Di buku ini, Wieke Gur juga mengakui kelemahannya yang sempat tidak mendokumentasi beberapa karyanya. Kelemahan ini bukanlah milik Wieke Gur semata. Beberapa pengarang lagu Indonesia sering menganggap enteng pentingnya dokumentasi dan ketika mereka tersadar ingin mendapatkan karyanya, mereka harus mengunjungi pasar loak untuk mencari jejak mereka yang hilang atau menulis status di situs jejaring sosial, FACEBOOK, untuk minta pada siapa yang masih menyimpan karya mereka. Beruntunglah Wieke Gur yang punya teman-teman yang masih memiliki karya-karyanya.

Jika ada yang kurang dari buku ini, itu adalah tidak dicantumkannya di album/kaset mana lagu itu berada. Rasanya ini juga perlu untuk mengingatkan bahwa lagu itu memang pernah ada di belantika musik Indonesia dan bisa menjadi bukti untuk anak cucu.

Lepas dari kekurangan itu, membaca buku ini memang membuat kita “jatuh cinta lagi” pada karya-karya Wieke Gur yang berkualitas, indah, sederhana dan nyata, seperti komentar Elfa Secioria, “belahan jiwa”nya dalam berkarya.

Tj Singo (penikmat musik Indonesia)

catatan: review ini pertama kali saya tulis di note Facebook, 15 Agustus 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s