Kembali Indah

Partai Pembuka
Yang terlintas di benak saya pertama ketika hendak membuat tulisan ini adalah lagu lama Jikustik yang berjudul “Akhirilah Ini Dengan Indah”,

Ketika slamanya pun harus berakhir
Akhirilah ini dengan indah
Kau harus relakan setiap kepingan
Waktu dan kenangan

Potongan lirik dari lagu ini (tepatnya bagian refren) adalah sebuah nasihat yang indah dan sempurna untuk sebuah pemutusan hubungan.

Dan, pemutusan hubungan itu, faktanya terjadi pada group ini. Pongki, sang vokalis, memiliki “Sebuah alasan yang sungguh sempurna ‘Tuk tinggalkanku”
……..

Perubahan: Tanda “Tak Ada Yang Abadi”
Sebuah group band ibarat sebuah system sebuah perusahaan. Personil atau pejabat teras di sebuah perusahaan bisa kapan saja berpindah berkarya pada institusi lain. Tapi, sebuah perusahaan yang baik tak harus menggantungkan berjalan atau tidaknya perusahaan tersebut pada orang, tetapi pada system yang dimilikinya. Jika sudah ada system yang baik dan berjalan, siapa pun orang yang ada di situ, perusahaan tersebut tak akan “habis”.

Inilah yang hendak ditujukkan group band Jikustik, sebuah group band asal Yogyakarta, beraliran sweet pop, yang memiliki lagu-lagu berlirik manis pada 8 album yang telah mereka hasilkan sejak tahun 2001 sampai 2008. Seusai merilis album Malam (trilogy album Pagi, Siang & Malam) di tahun 2008 dan melakukan serangkaian promo dan kegiatan show, group yang merilis album setiap tahun, mulai berpikir untuk merilis album kesembilan mereka pada tanggal istimewa, 9 September 2009 (9-9-99). Sayang, rencana hebat ini harus kandas.

Sang vokalis waktu itu, Pongki Barata, lebih berkonsentrasi pada kehidupannya di kota tempat tinggalnya yang baru, ibukota Jakarta, dan lebih banyak melakukan kegiatan karir pribadi maupun bersama band baru yang dibentuknya. Sebuah keputusan berani – namun tetap harus dihargai sebagai hak universal setiap manusia – untuk meninggalkan rumah yang dibangun dan dibesarkan bersama teman-temannya selama bertahun-tahun dengan merangkak ngamen dari mall ke mall dan café ke café di Yogyakarta.

Keempat anggota band lain yang masih “Setia” berada di kota kelahiran group ini, yang tumbuh bersama dalam komitmen gaya hidup “ndeso” dan “hidup sederhana”, sungguh terpukul karena sebuah rencana hebat harus kandas. Mereka tak bergairah dan bahkan hendak membubarkan band yang 10 tahun ke depan akan menyandang gelar grup legendaris.

Adalah kekuatan “Jikustikan” (fans Jikustik) yang menjadi inspirasi mereka untuk bertahan. Sambil mengumpulkan energi-energi yang masih tersisa untuk disinergikan, di tengah masa vakum, mereka diam-diam berkarya sambil mencari vokalis pengganti. Dan, pilihan jatuh pada Brian Prasetyoadi, seorang vokalis muda belia, pemenang BRTV tahun 2008.

Vokalis Baru
Kehadiran vokalis baru, Brian Prasetyo Adi, menjadi nafas dan semangat baru untuk keempat anggota group band yang ada. Brian ibarat hembusan angin semilir yang kembali menyegarkan group band ini. Usia yang masih belia menjadi magnet baru bagi Jikustik mendapatkan pendengar baru yang juga belia. Sebuah rencana tak terduga yang pantas disyukuri hasilnya.

Kualitas vocal Brian tak perlu diragukan. Sebagai pemenang BRTV 2008, pastilah Brian sudah melalui sekian filter dari ratusan vokalis lain yang ingin menunjukkan kebolehan. Dengan range vocal yang tinggi dan teknik yang baik, lagu-lagu yang dibawakan Brian menjadi nyaman masuk ke indra dengar.

Selain menjadi vokalis, Brian juga telah diberi kepercayaan menciptakan tiga lagu di album ini. Tanpa pengalaman rekaman sebelumnya, sang vokalis telah menunjukkan kemampuannya dalam berkarya. Inilah yang menjadikan album ini lebih berarti. Seorang anggota baru, garda depan, diberi kepercayaan berada di rumah baru.

Kembali Indah
Sangatlah pas dan pantas jika Jikustik memberi tajuk Kembali Indah pada album barunya. Mereka telah kembali dengan indah. Dengan semangat untuk tetap menghasilkan karya yang cantik dan manis, semangat pembuktian pada Jikustikan yang setia, dan semangat untuk terus berada di belantara musik Indonesia yang saat ini masih dikuasai oleh lagu-lagu stereotip bertema cinta dan perselingkuhan yang dibawakan dengan cengeng, mereka kembali. Bangun dari sebuah masa hibernasi tanpa kehilangan ciri manis mereka dan bukti sebuah group yang tak hanyut oleh trend industri. Mereka punya jati diri dengan tetap konsisten di pusaran ciri khas mereka.

Album ini berisi sepuluh lagu. Terbagi atas beberapa lagu yang rancak, slow dan kental akustik, album ini menjadi oase di padang lagu bernada melayu dan bertema seragam yang tak mendidik.

Lagu-lagu pada album ini bercerita tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan dan harapan bersatunya sebuah perpisahan. Sebagai pendengar Jikustik, saya menginterpretasikan tema di album ini sebagai sebuah dedikasi terhadap hubungan Jikustik dengan vokalis terdahulunya dan harapan-harapan di masa mendatang.

Proses rilis album ini tidaklah semulus album-album sebelumnya. Setelah vakum selama dua tahun dan ditengah mengalir derasnya group band serta artis solo baru, Jikustik harus memulai kembali melakukan promo dari radio ke radio, dari stasiun televisi satu ke stasiun televisi lain dan “ngamen” dari satu panggung ke panggung lain agar mereka dapat menunjukkan bahwa mereka masih eksis. Prosesnya tak semulus ketika mereka belum vakum. Mereka seolah menjalani proses ketika berkarya pada awalnya. Dan, mereka bersedia menempuh semua ini demi sebuah eksistensi untuk menjadi kembali indah.

Para Gita Cinta
Lagu-lagu di album ini memiliki musikalitas yang lebih variatif dibanding album-album sebelumnya tanpa kehilangan ciri manis pada lirik-lirik lagunya.

  • Track pertama pada album ini adalah Aku Bukan Untukmu yang dulu dinyanyikan Rossa pada album Kembali (2004). Lagu yang bercerita tentang perasaan sesal seorang yang telah mengecewakan pasangannya karena tak memberi jawaban yang pasti ini merupakan karya sang bassist, Aji Mirza Hakim. Lagu yang membuat nama Rossa ngetop ini dibawakan sang vokalis Jikustik tanpa perubahan ekstrim. Tentu saja, ada keuntungan tersendiri karena lagu ini sudah akrab di telinga pendengar musik Indonesia.
  • Tak Pernah Menyerah, ciptaan Icha, adalah lagu kedua. Lagu ini bercerita tentang kegigihan seorang lelaki dan berharap sang pujaan hatinya lebih memilih dia daripada orang lain.
  • Sebagai lagu pada track 3 adalah Pujaan Hatiku, ciptaan Adhit. Lagu dengan intro kental akustik dan unsur flute yang tak lazim di delapan album sebelumnya tak menghilangkan ciri manis Jikustik. Lagu yang bercerita tentang kerinduan seorang lelaki pada pujaan hatinya ini ini menjadi single kedua yang mereka promosikan setelah Untuk Cinta yang ada di track 4. Lagu yang asik ini menjadi jembatan bagi Jikustik untuk dekat (kembali) pada para pendengar karyanya. Dan, timing yang tepat menjadikan lagu ini membuat Jikustik kembali akrab di musik Indonesia dibanding single Untuk Cinta yang ada di track 4.
  • Sebagai single pertama yang dipromosikan (track 4 pada album), lagu Untuk Cinta karya Dadik bercerita tentang harapan pasangan yang terpisah dan masih menginginkan bersatu kembali. Lagu ini sebenarnya tak hanya bercerita tentang pasangan yang saling merindu untuk bersatu kembali, tapi juga bisa berlaku universal, antara teman yang pernah berada di wadah yang sama. Interpretasi yang beraneka menjadikan lirik lagu ini begitu dalam dan kadang menyayat hati, membuat merinding.
  • Di track kelima, lagu yang penuh unsur akustik berjudul Menunggumu. Diciptakan oleh Icha. Intro nada awal mengingatkan kita pada lagu Now And Forever-nya Richard Marx. Lagu ini bercerita tentang sebuah harapan yang bertepuk sebelah tangan karena sang juwita lebih memilih pria lain tanpa menunggu waktu untuk sebuah pembuktian cinta.
  • Juwitaku merupakan lagu keenam. Ciptaan Icha, sang bassist. Lagu ini masih berkisah tentang hubungan cinta yang tak berlanjut karena sang juwita meninggalkan sang pria tanpa tahu apa kesalahannya.
  • Lagu Kembali Indah seperti judul album ini, muncul pada track ketujuh. Masih bercerita tentang putusnya hubungan asmara dan harapan untuk bersatu kembali, agar kembali indah. Lagu ini merupakan karya Dadik dan Brian, vokalis dan anggota baru yang langsung diberi kepercayaan untuk ikut berkarya.
  • Menyusul Kembali Indah adalah lagu Yang Terhebat, karya bersama Dadik dan Brian, pada track kedelapan. Dibungkus dengan nada riang, lagu ini bertutur tentang dukungan terhadap seorang kawan untuk menjadi orang yang lebih baik meski mereka terpisah. Secara pribadi, saya menginterpretasi lagu ini sebagai harapan kepada mantan personil Jikustik. Meskipun, bisa juga lagu ini diintepretasikan sebagai hubungan antar sejoli yang terpisah.
  • Setelah lagu kedelapan yang riang, lagu kesembilan yang berjudul Kau Segalanya, ciptaan Brian, juga berirama rancak. Lagu ini bertutur tentang permohonan kepada seseorang untuk bersedia menjadi kekasih hati.
  • Album ini ditutup dengan lagu Sampai Akhir Waktu, ciptaan Icha, sebuah lagu sendu dengan balutan musik akustik. Kisah cinta bertepuk sebelah tangan terasa kental pada lagu ini.

Perubahan Konsep
Walaupun masih setia pada lirik-lirik yang manis, ada sebuah perubahan di album Jikustik ini yang membedakan dengan karya sebelumnya. Dalam album ini, mereka lebih gamblang dan eksplisit mengungkapkan kata “cinta”. Sebuah kata yang tak muncul di delapan album sebelumnya meskipun lagu mereka banyak yang bercerita tentang cinta. Pilihan kata lain yang agak keluar dari kebiasaan mereka adalah pemilihan kata “juwita” dimana sebelumnya mereka selalu menggunakan “bunga” untuk sebuah personifikasi wanita.

Pada disain sampul, baru kali ini Jikustik menampilkan foto personilnya sebagai cover album. Di album-album sebelumnya, mereka menggunakan artwork sebagai cover. Dan, yang tak kalah unik dari album ini adalah sebuah ruang ucapan terima kasih yang disediakan Jikustik untuk JikustikanFC. Sebuah wadah pemersatu fans mendapat ruang di sebuah album band? Nampaknya baru kali ini terjadi.

Tak Ada Yang Abadi
Munculnya album Jikustik Kembali Indah ini adalah sebuah bukti bahwa sebuah grup band memang tak seharusnya tergantung pada seorang figur. Ada beberapa grup band yang berganti personil (termasuk vokalis yang notabene figur sentral) tapi mereka tetap berjalan. Sebuah grup band lebih ditunggu karyanya daripada orangnya. Inilah system seperti di perusahaan. Tidak tergantung pada perorangan, tapi ketika system sudah baik dan berjalan, siapa pun yang ada di sana, perusahaan akan tetap berjalan. Dalam konteks grup band, tentu saja, terhadap anggota baru, perlu selalu ada penyesuaian dan kesempatan untuk menyatukan energi dan bersinergi. Dan, sebuah grup band memang harus selalu siap dengan perubahan yang terjadi pada kelompok tersebut seperti yang pernah dilantunkan sendiri oleh Jikustik:

Kau pernah menjadi terang dalam gelapku
Saat tersesat
juga pernah menyentuh
Rasa sakitku
Kepergian itu mengajarkan aku
Bahwa tak ada yang abadi
Sejak kau putuskan
Untuk melepaskan hidup

Hidup harus terus berjalan, tak perlu apatis, seperti dilagukan Benny Soebardja lewat lagu ciptaan Inggrid Widjanarko di LCLR 1978, Apatis:

Roda-roda terus berputar
Tanda masih ada hidup
Kar’na dunia belum henti
Berputar melingkar searah

Album Jikustik Kembali Indah ini memberikan pandangan bahwa dunia grup musik memang tak pernah abadi. Selalu ada perubahan dalam perjalanan karir mereka. Semua grup band harus selalu siap menghadapinya dan ketika terjadi, tak perlu meratap dan merasa habis karirnya. Harus bangkit kembali untuk kembali berkarya karena yang ditunggu adalah karya, bukan orang. Orang bisa mati, tapi karya selalu abadi.

Singo Tj
Pendengar & Penikmat karya Jikustik

tulisan ini saya dedikasikan untuk Carlo Liberianto yang beberapa hari yang lalu ditinggalkan ayah tercintanya menuju ke keabadian abadi. Selamat jalan untuk Bapak.

catatan: review ini sudah pernah saya pasang pada Note Facebook, 7 Desember 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s