Konser Noah – Born To Make History di Yogyakarta

 

Camera
Canon EOS REBEL T3
Focal Length
55mm
Aperture
f/5.6
Exposure
1/60s
ISO
Camera
Canon EOS REBEL T3
Focal Length
55mm
Aperture
f/5.6
Exposure
1/60s
ISO

Noah (dahulu Peterpan) dilahirkan untuk jadi band fenomenal. Fenomenal dalam karya dan fenomenal dalam nama. Band yang awalnya beranggotakan Andika (keyboard), Ariel (vocal), Indra (bass), Lukman (gitar), Reza (drum), Uki (gitar) dan menyelesaikan tiga album, akhirnya harus menjadi empat orang setelah Andika dan Indra meninggalkan band ini. Album kelima, Sebuah Nama, Sebuah Cerita (2008), merupakan album terakhir dengan nama Peterpan karena Andika meminta mereka tak lagi memakai nama itu. Dan, kontrak mereka pun selesai dengan recording company.

Perjalanan karir musikal mereka dipenuhi oleh prestasi dan rekor. Album Taman Langit mendapat triple platinum. Album Bintang Di Langit terjual 3 juta copy! Nama mereka tercatat di MURI karena Konser 6 Kota dalam waktu 24 Jam. Dan, kali ini, mereka kembali ke kancah musik nasional. Mereka melakukan konser Born To Make History. Sejarah yang ingin mereka catat dimulai dengan konser di dua benua dan lima negara pada tanggal 16 September lalu. Berlanjut ke beberapa kota di Indonesia, dimulai di Surabaya (28 September), Semarang (6 Oktober), Padang (10 Oktober), Palembang (13 Oktober), Yogyakarta (17 Oktober), Samarinda (20 Oktober), Medan (24 Oktober), berakhir di Makassar (28 Oktober).

Konser bertajuk Born To Make History ini memiliki konsep selalu ada yang beda di setiap kota. Perbedaan apa yang mereka buat di Yogyakarta pada 17 Oktober lalu? Mereka membawakan total 22 lagu! Konser yang berlangsung di Grand Pacific Hall ini dibuka dengan lagu Cobalah Mengerti. Para penonton yang berada di kelas festival mengokupasi penuh kelas ini. Mereka tanpa lelah sambil berdiri ikut bernyanyi mengikuti suara yang dilantunkan Ariel yang diiringi oleh Uki (gitar), Lukman (gitar), Reza (drum), David (keyboard) dan Ihsan pada additional bass. Para penonton memberikan energi yang membuat Ariel tak nampak lelah. Di belakang kelas festival, adalah kelas tribune yang tak begitu penuh. Tak semua tiket terjual. Total penonton dari seluruh kelas yang tersedia memenuhi ruangan ini berkisar 80% dari 4000 tiket yang tersedia.

Kejutan lain yang terjadi (bisa dibilang sejarah?) adalah ketika Ariel meminta Uki untuk maju dan menyanyikan sepenggal lirik awal pada lagu Mungkin Nanti. Tak ayal, penonton pun kegirangan mendapat kejutan dan kesempatan langka ini. Dan, ketika Uki mengakhiri bagiannya, Ariel langsung menyambung diikuti suara penonton. Kharisma Ariel yang kuat membuat beberapa penonton merinding mendengarkan lagu ini. Setidaknya itu dikatakan oleh beberapa penonton. Dari seluruh pertunjukan musik yang pernah diadakan di tempat ini, pertunjukan Noah kali ini terbilang paling penuh. Inilah sejarah lain yang tak masuk dalam rencana tajuk konser.

Yang jelas, salah satu tujuan membuat sejarah dalam konser Noah yang sudah lebih dari dua tahun tak melakukan konser karena kasus yang menjerat Ariel tercapai di kota ini. 22 lagu yang dilantunkan di kota ini, menjadi jumlah lagu terbanyak dari kunjungan di kota-kota sebelumnya. Sambutan dan histeria penonton yang tersihir oleh kharisma Ariel terlihat juga ketika jeda dan Ariel memberikan sedikit cerita. Penonton diam, antara kagum dan tersihir oleh kata-kata Ariel memang tipis bedanya.

Hampir di seluruh lagu yang dibawakan, terjadi karaoke massal, bahkan pada lagu-lagu album terbaru mereka, Seperti Seharusnya, yang baru saja dirilis 16 September 2012. Lagu-lagu di album terbaru seperti Raja Negeriku, Jika Engkau, Separuh Aku, Terbangun Sendiri seperti bukan lagu baru. Banyak penonton yang ikut bernyanyi. Sebuah ciri khas penonton Yogyakarta yang memang dikenal memiliki apresiasi yang tinggi terhadap pertunjukan musik dan selalu memberi energi pada artis untuk merasa kerasan melakukan show di kota ini.

Pertunjukan yang digelar oleh Berlian Entertainment dan Musica Studio sebagai recording company tempat Noah bernaung bekerja sama dengan Rajawali Indonesia sebagai co-promotor lokal benar-benar tak seperti pertunjukan musik pada umumnya di gedung ini. Tata suara dan lampu pada konser ini sangat megah, panggung yang luas memberi keleluasaan pada Ariel untuk menghampiri penonton yang berdiri di sayap yang berbeda. Berbeda dengan pertunjukan yang pernah dilakukan di gedung ini. Bahkan ketika dibandingkan dengan pertunjukan yang menampilkan artis internasional beberapa hari sebelumnya di tempat yang sama.

Setelah pertunjukan selesai pun, beberapa penonton berjalan keluar sambil berkomentar “gak rugi bayar mahal. Puas!”. Sementara itu masih banyak penonton yang berada di gedung pertunjukan dalam posisi duduk. Kelelahan baru mereka rasakan ketika Ariel dan kawan-kawan tak lagi di panggung. Mereka kehabisan energi setelah bintang pujaannya tak lagi ada di sana, sementara sang bintang pun mengalami hal yang sama seperti yang dikicaukannya dalam akun Twitter-nya beberapa saat setelah konser selesai:

“Kehabisan nafas di jogja, tp mlm ini sangat menyenangkan dengan panggung yg sangat lebar, thank u jogja, thank u sahabat jogja.” (https://twitter.com/R_besar/status/258604573244149760)

Selamat atas sejarah yang dibuat di Yogyakarta!

Tj Singo
penikmat musik Indonesia

catatan: liputan ini sudah dimuat di Berita Kamar Musik, 24 Oktober 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s