Accoustic Duo – Karya Jazz Yang Audiophile

Roedyanto Wasito dan Morgan Sigarlaki adalah 2 orang yang sejak awal berkarya di band Emerald. Emerald adalah sebuah group jazz fusion 80an yang ikut meramaikan khasanah musik Indonesia yang kala itu mengalami masa kejayaan di bidang penjualan karya secara fisik (kaset). Di sekitaran tahun itu, tumbuh beberapa – boleh juga sih dibilang banyak – group band bergenre Jazz. Sebutlah nama Bhaskara, Black Fantasy, Cannizaro, DAC, Frontline, Indonesia 6, Karimata, Krakatau, Spirit, dan tentu saja Emerald, pasti penggemar musik Indonesia mengenal mereka.

Meskipun banyak band bergenre Jazz, masing-masing memiliki “improvisasi” sendiri, memiliki fans alias die-hard sendiri atau bahkan semua pendengar bisa mendengarkan semua band itu tanpa harus mengkotak-kotakkan dan saling menjatuhkan. Masing-masing punya prestasi sendiri. Dan jika ditanyakan pada fans-nya, para fans pasti masih merindukan karya-karya mereka yang seperti dulu untuk didengarkan.

Begitu juga dengan Emerald Band. Band ini punya kharisma yang menancap di dunia musik Indonesia karena prestasinya menjuarai Light Music Contest (LMC) 86 dimana anggotanya kala itu Iwang Noorsaid digelari the best keyboard player dan Inang Noorsaid sebagai the best drummer. Tak berhenti di sana, mereka berangkat ke World Final Band Explosion tahun 1989 di Jepang dan mendapat Silver Grand Prize. Komposisi Karapan Sapi yang mereka bawakan mendapatkan applause yang luar biasa. Lagu inilah yang kemudian identik dengan Emerald dan juga menjadi judul album mereka kedua, Karapan Sapi (1989).

Karapan Sapi merupakan komposisi bernada etnik fusion yang kemudian menjadi ide diikuti band lain sementara Emerald tetap melangkah dengan cirinya sendiri, fusion jazz rock. Dan karya mereka menjadi prasasti emas karir mereka di empat album yang mereka hasilkan; Cemas (1988), Karapan Sapi (1989), Baralek Gadang (1991) dan Marunda (1994). Dan, pada tahun 2009, mereka mengaransemen ulang tujuh lagu terbaik mereka ditambah tiga lagu baru menjadi album The Best Of Emerald.

Pada album Cemas, personil Emerald adalah Roedyanto Wasito (bass), Iwang Noorsaid (keyboard), Morgan Sigarlaki (gitar) dan Cendy Lentungan (drum). Di album Karapan Sapi, posisi Cendy digantikan oleh Yayang dan Ricky Johannes masuk sebagai vokalis. Pada album Baralek Gadang dan Marunda, Edwin Saladin menggantikan Iwang Noorsaid sementara personil lain masih sama.

Duo Accoustic
Kini, Roedy dan Morgan kembali mengemas karya-karya mereka di album-album Emerald dalam album Duo Accoustic. Album ini bukanlah album Emerald namun keberadaan Roedy dan Morgan tentu tak bisa dilepaskan dari Emerald. Ide pembuatan album ini muncul begitu saja ketika mereka berdua di studio dan memainkan lagu-lagu Emerald. Mereka langsung “click” untuk menjadikannya album. Proses produksi pun tergolong cepat, dua bulan plus proses mixing dan mastering.

Album ini menampilkan tujuh komposisi hits dari album-album Emerald ciptaan Morgan Sigarlaki dan atau Roedyanto Wasito ditambah satu komposisi ciptaan Antonio Carlos Jobim. Kedelapan karya di album ini dimainkan secara akustik dan ada tiga komposisi yang berisi vocal Sita Nursanti, mantan anggota group vocal RSD (Rida Sita Dewi).

Ketika album-album Emerald beredar, Sita yang masih belum masuk dapur rekaman bersama RSD pasti juga mengikuti perjalanan Emerald, dan menjadi pengagum yang bersenandung lagu-lagu bagus karya Emerald Dan, kini Sita menjadi bagian dari daur ulang karya-karya Emerald. Dari rencana menyanyikan dua lagu, akhirnya Sita menyanyikan tiga lagu. Ibarat orang makan bakso yang ketagihan, nambah lagi.

Suara sopran Sita yang lembut mengisi lagu Hasrat dan Sudah Cukup Lama (dari album Marunda) serta Cerita Kita (dari album Karapan Sapi). Sementara lima komposisi lainnya adalah Marunda, Sambali, Teman Biasa (ketiganya dari album Marunda), Gantole (Baralek Gadang), dan How Insentive (bonus track ciptaan Antonio Carlos Jobim). Dengan sentuhan lembut dan musik akustik yang halus serta kualitas suara (sound) yang nyaris tanpa cela, album ini pantas dikategorikan sebagai album audiophile recording. Mengapa audiophile? Audiophile identik dengan kualitas audio. Suara audio yang dihasilkan dari alat musik yang dimainkan terdengar sangat detil. Dan, inilah yang ada di album Accoustic Duo.

Proses rekaman yang teliti, permainan alat musik yang membutuhkan pengalaman dan keahlian (expertise) yang tidak biasa nampak hasilnya pada album ini. Komposisi lagu-lagu di album ini cocok didengarkan dengan dukungan peralatan audio yang canggih dan berkualitas. Restoran berkelas dan coffee shop kelas atas layak memutar album ini untuk tamu-tamunya agar betah berada di sana. Nuansa mewah dan anggun petikan gitar, cabikan bass dan suara perkusi yang detil benar-benar membuat album ini tak sekedar memainkan komposisi jazz. Lagu-lagu yang dimainkan bisa menciptakan aura romantisme.

Penggemar berat atau die hard Emerald Band akan terpuaskan dahaganya ketika mendengarkan lagu-lagu yang mengiringi perjalanan mereka tumbuh. Meskipun dalam bentuk akustik, penggemar setia pasti merasa senang bisa mendengarkan lagu-lagu lama band pujaan mereka.

Kekurangan yang ada di album ini hanyalah masalah pilihan lagu. Komposisi Karapan Sapi layak diharapkan masuk di album ini karena komposisi itulah yang membuat nama Emerald membumi di Indonesia dan mendunia. Emerald identik dengan Karapan Sapi. Dan, kedua joki Karapan Sapi itu mestinya kembali mengikuti pacuan karapan sapi sambil membunyikan suara “emboooooooooo……”

Packaging Dan Distribusi
Karena album ini tak dirancang sebagai koleksi audiophile recording, kemasannya pun standar (casing mika) tapi durable untuk dikoleksi. Meksipun disain covernya sederhana dan minimalis, tapi menunjukkan sebuah keanggunan artwork.

Album ini didistribusikan lewat penjualan langsung, lewat komunitas dan Warta Jazz. Ada baiknya, Roedy dan Morgan bisa lebih aktif di social media untuk mempromosikan karyanya dan ketika sudah mendapat sambutan, album ini bisa dijual di gerai toko kaset & CD tradisional maupun berjaringan. Biarkan orang yang membeli datang ke toko karena kesadaran dan keinginan mereka untuk memiliki karya yang bagus. Sayang jika karya yang bagus seperti ini dilewatkan.

Tj Singo (@singolion)
Penikmat Musik Indonesia

catatan: review ini pernah dimuat di CD Review Kamar Musik, 30 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s