Chrisye: Kesan Di Mata Media, Sahabat Dan Fans


JUDUL BUKU        : Chrisye Di Mata Media, Sahabat Dan Fans (Memperingati Lima Tahun Kepergian Sang Legenda, 30 Maret 2007 – 30 Maret 2012)
Penulis                  : Ferry Mursyidan Baldan, Nini Sunny, Dudut Suhendra Putra dan Muller Mulyadi
Penyunting           : Nini Sunny
Fotografer             : Dudut Suhendra Putra
Foto Cover            : Muhamad Firman
Desain Cover        : Omen Rohman, Muller Mulyadi
Penata Letak        : Muller Mulyadi
Penerbit                : Media Kita
Jumlah Halaman  : iv + 132

Lima tahun kepergian Chrisye, sang Legenda, banyak orang masih merasakan kehadirannya serta tak percaya beliau sudah tiada dan ketika mereka sadar, mereka melagukan:

“Mengapa terjadi kepada diriku
Aku tak percaya kau telah tiada
Haruskah kupergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa dengan mu”

Dan, dalam rangka memperingati lima tahun kepergian sang Legenda, terbit sebuah buku Chrisye Di Mata Media, Sahabat Dan Fans. Ibarat sebuah album musik, buku ini adalah sebuah buku “kompilasi”. Sebuah buku tentang tokoh (tepatnya legenda) yang banyak diidolakan orang, ditulis secara keroyokan dan dikumpulkan dari berbagai (nara) sumber (kliping dan tulisan baru).

Walau termasuk kelompok biografi, buku ini bukanlah kisah hidup Chrisye sebagaimana buku Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007) oleh Alberthiene Endah (AE) atau The Last Words of Chrisye (2010) dari pengarang yang sama. Dan meskipun buku ini kumpulan pendapat dari publikasi yang pernah ada, jangan pula nyinyir mengatakan “ini sih buku yang gampang buatnya, tinggal ’copy and paste’ pendapat orang atau publikasi media.” Buku ini sudah dirancang sebelum sang Legenda meninggalkan dunia dan sebelum kedua buku AE itu terbit. Penyusun buku ini harus menyeleksi ribuan artikel untuk dikompres menjadi intisari yang pantas disajikan dalam satu karya “kekaguman” terhadap seorang Legenda. Dalam istilah album musik, buku ini adalah “previously unreleased”.

Upaya Ferry Mursyidan Baldan, Nini Sunny, Dudut Suhendra Putra dan Muller Mulyadi adalah sebuah bukti kecintaan, kekaguman dan pendokumentasian seorang Legenda yang juga idola mereka. Ide yang awalnya “disangsikan” oleh sang Legenda sendiri, akhirnya tersaji justru setelah sang legenda hidup menjadi Legenda. Jika buku ini harus bercerita sebagaimana kedua buku AE, tentu buku ini akan dikelompokkan menjadi fiksi. Kutipan wawancara yang terdapat di dalamnya bisa jadi nyata, bisa pula imajiner, yang secara esensi bisa saja faktual.

Buku ini merupakan kumpulan (kompilasi) kutipan berita, kesan, pendapat dan berjuta kata lain tentang Chrisye (Chrismansyah Rahadi), seorang musisi (vokalis pria) Indonesia yang hampir semua pecinta musik mengenalnya, memiliki penggemar dari segala lapisan, golongan dan umur. Tulisan-tulisan dikumpulkan dari kutipan pemberitaan media yang pernah ada yang ditulis oleh para jurnalis dan fotografer atas kegiatan musikal sang Legenda. Kesan, pendapat dan cerita tentang Chrisye di buku ini juga berasal dari wartawan (pers), sahabat dan orang-orang yang berada di lingkaran industri musik seperti teman seprofesi, koreografer, perancang grafis, penyair dan staf di perusahaan rekaman. Tulisan mereka adalah tulisan baru, dibuat dalam rangka penerbitan buku ini.

Yang menarik dari buku berhalaman 132 ini adalah pemberian ruang bagi orang luar media untuk menulis. Yang termasuk di kelompok ini adalah lingkaran satu sang Legenda (mantan manager & asisten pribadi) dan orang-orang dari berbagai lapisan dan kelompok seperti politikus, sopir taksi, penyiar radio, kolektor dan fans. Satu hal yang rasanya baru kali ini terjadi. Suara fans, yang bagi sang Legenda adalah barisan terdepan bersama media dalam menunjang karirnya, adalah suara yang jujur. Bagaimana fans diperlakukan oleh idolanya bukanlah cerita yang bisa disamaratakan. Tak semua idola (musisi, aktor, aktris – tak selalu bisa disebut artis) tulus melayani fans mereka meskipun mereka sering dan selalu mengatakan “tanpa kalian, saya bukan apa-apa” ketika idola itu menerima hadiah di ajang pemberian penghargaan (award). Faktanya, banyak idola yang kadang jengah dimintai tanda tangan atau foto bersama. Namun, tidak demikian dengan Chrisye. Dari pengakuan fans yang ikut menjadi nara sumber di buku ini, semuanya punya suara yang hampir sama tentang sang Legenda. Itulah yang membedakan Chrisye dengan idola pada umumnya. Pengakuan tulus diperoleh setulus Chrisye melayani fans-nya.

Jadi, pekerjaan mengumpulkan cuplikan pemberitaan (klipping), pendapat dan tulisan dari banyak orang untuk menjadi sebuah buku kompilasi bukanlah semudah membuat playlist musik di komputer atau gadget di jaman digital seperti ini. Usaha dan upaya ini butuh waktu, pikiran, tenaga dan semua hal yang menguras keringat dan kadang bikin stress juga.

Satu hal yang tak mungkin dilakukan dari tulisan-tulisan dari berbagai (nara) sumber ini adalah “janjian” saya menulis ini dan kamu menulis itu. Tapi, di buku ini, nara sumber yang tidak semuanya saling kenal sepertinya terkena sihir sang Legenda. Mereka punya kesan yang sama. Kesimpulannya adalah, Chrisye, sang Legenda, adalah orang yang membumi, profesional, konsisten, berprinsip, tepat waktu, konyol, serius dalam berkarya, teliti, “mati gaya”, religius, total, mau belajar, sayang keluarga, dan tak mau mengulang hal yang sama. Tak mau mengulang hal yang sama adalah salah satu ciri seniman. Chrisye memang seorang seniman alias artis.

Tak adakah kesan atau hal negatif tentang sang Legenda? Pasti ada. Tak ada orang yang sempurna. Chrisye pun memiliki kekurangan. Hanya saja, kritik kepada sang Legenda tak disampaikan secara eksplisit. Mengapa? Banyak orang, misalnya media, sangatlah respek pada Chrisye. Bagi Chrisye, media adalah sahabat yang ikut menyukseskan karir perjalanannya. Mereka tahu betul seorang Chrisye adalah orang yang punya hati dan kadang sensitif. Dan, mereka tak bisa (baca: tak tega) menyampaikan kritiknya dengan bahasa lugas. Mereka menyampaikan secara halus dan bergurau. Inilah bukti bahwa Chrisye tak luput dari kekurangan. Beliau pun pernah marah. Tapi, beliau pun tak ragu meminta maaf jika salah sebagaimana dilakukannya kepada Emil Asmam, sang manajer yang dulunya seorang “die-hard” sang Legenda.

Di buku ini tidak ada pendapat dari beberapa sahabat dalam berkarir Chrisye seperti Guruh Sukarnoputra, Keenan Nasution, Eros Djarot, Yockie Suryoprayogo, Addie MS, Adjie Soetama, Vina Panduwinata, Erwin Gutawa dan Jay Subiakto. Bagi pecinta Chrisye yang belum atau tidak memiliki buku Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007), tentu buku ini terasa tidak lengkap. Kesan mereka tentang sang Legenda sudah ada di buku memoar itu sehingga tak perlu diulang di buku ini.

Yang sebenarnya menarik untuk dimintai pendapat ulang adalah Erwin Gutawa dan Jay Subiakto yang berhasil mem-branding Chrisye lewat kerjasama mereka di era sembilan puluhan lewat konser tunggal dan beberapa album solonya (AkustiChrisye, Kala Cinta Menggoda, Badai Pasti Berlalu (re-make), Konser Tour 2001 dan Dekade). Dua orang ini perlu dimintai pendapat ulang karena di tahun-tahun itu, mulai bermunculan penyanyi baru tapi Chrisye tetap bertahan lewat karyanya karena didukung dua orang ini. Karir Chrisye bertahan dan bahkan tetap menjadi panutan dan patokan. Dan, kedua orang ini pula yang menggarap konser Kidung Abadi Chrisye, 5 April 2012. Sebuah konser yang melibatkan peran kemajuan teknologi.

Bagi pengagum Chrisye, buku ini melengkapi cerita perjalanan hidup Chrisye yang ditulis oleh Alberthiene Endah Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007) dan The Last Words of Chrisye (2010). Buku ini bisa membuat pengagum Chrisye lebih kaya pandangan tentang sang Legenda dan semakin cinta karena nara sumber yang berbagi cerita dan kesan adalah orang-orang yang selama ini menjadi “rakyat biasa” bagi sebuah penulisan buku. Suara mereka adalah suara yang jernih, suara rakyat yang dalam politik dikenal dengan ungkapan “Vox populi, vox dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan. Dan, “Tuhan” bersuara lewat buku ini, Chrisye Di Mata Media, Sahabat Dan Fans (Memperingati Lima Tahun Kepergian Sang Legenda, 30 Maret 2007 – 30 Maret 2012). Selamat membeli karya asli dan membacanya.

Tj Singo
Kolektor Kaset Indonesia & Pengagum Chrisye

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s