Sandhy Sondoro – Find The Way

Salah satu ciri lagu atau album yang baik adalah: semakin sering didengarkan, semakin enak tapi tidak membosankan. Begitu pula dengan album Sandhy Sondoro, Find The Way yang dirilis tahun 2011.

Jika ingin menikmati lagu-lagu bagus, album ini adalah salah satu album yang pantas dikoleksi. Perlu beberapa kali mendengarkan dengan santai untuk merasakan jiwa dari lagu-lagu di album ini. Jenis musik yang disajikan Sandhy Sondoro memang bukan jenis musik yang latah mengikuti selera pasar dan industri yang berorientasi dagang. Namun, secara artistik, lagu-lagu di album ini suatu saat akan dikenang orang sebagai lagu yang bagus.

Album yang menampilkan musik bergenre soul, blues dan sentuhan akustik ini berisi 12 lagu, dimana hanya dua lagu yang bukan merupakan ciptaan Sandhy Sondoro,yang mulai berkibar namanya di dunia musik Indonesia lewat singlenya, Malam Biru (2009) pada album kompilasi Jazz In The City. Dua lagu daur ulang yang ada di album ini merupakan lagu yang evergreen (abad) ciptaan Guruh Sukarno Putra (Anak Jalanan) dan Yok Koeswoyo (Why Do You Love Me). Kedua lagu tersebut tampil dalam kemasan yang fresh dan kekinian khas Sandhy Sondoro.

The Songs
Dari sepuluh lagu ciptaan Sandhy Sondoro, satu diantaranya bertema keprihatinan atas pengeboman yang terjadi atas nama agama. Sembilan lagu lainnya lagu-lagu bertema percintaan.

Diwarnai kentalnya aroma soul and blues yang menjadi pengaruh bagi Sandhy ketika kecil – sering mendengarkan musik Folk, Jazz dan Blues, di rumahnya karena terlahir di tengah keluarga yang mencintai musik – lagu-lagu cinta yang tersaji di album ini memang layak didengarkan. Ketika dinikmati sambil dihayati, lagu-lagu cinta yang diciptakan Sandhy plus Why Do You Love Me ciptaan Yok Koeswoyo menjadi lagu-lagu galau masa kini dalam kemasan yang berbeda dari jenis musik yang sering tersaji di media televisi dan tempat-tempat umum yang sangat mengikuti selera pasar yang hanya populer sesaat.
Ketika ada lima lagu berlirik bahasa Inggris ciptaan Sandhy, tentulah tak perlu menjadi pertanyaan. Sandhy yang pernah tinggal di Amerika dan Jerman, pasti merasa nyaman dan akrab menggunakan bahasa asing ini. Toh, lirik-lirik di lagu-lagu tersebut bukanlah bahasa yang mudah dipahami arti tersiratnya dan tidak njlimet. Benang merah dari lagu-lagu Forever My Queen, Waiting On, Find The Way, Beauty Like Yours adalah lagu tentang cinta; tentang kekaguman terhadap pujaan hati, harapan dan penyesalan atas sebuah hubungan cinta.
Lagu Why Do You Love Me. Siapa pendengar musik Indonesia yang tak kenal Koes Plus? Group yang membawa pengaruh besar di industri musik Indonesia. Jika lagu ini dibawakan, yang terjadi adalah karaoke berjamaah. Dan, Sandhy bisa membungkusnya dengan manis pula. Tak kalah dari versi daur ulang yang pernah ada.
Lagu Anak Jalanan ciptaan Guruh Sukarno Putra pertama kali dibawakan oleh Chrisye di album Resesi (1983). Lagu yang berusia hampir 30 tahun tapi temanya masih relevan dengan kehidupan jaman sekarang. Dan, versi daur ulang ala Sandhy Sondoro juga asik didengarkan.
Lagu-lagu lain di album ini adalah Asmara Kita, Tak Pernah Padam, Biarlah Semua, Dari Ku Untuk Mu. Semuanya bercerita tentang kehidupan asmara dengan lirik yang tidak murahan. Sementara lagu Kehidupan Sempurna, Tak Pernah Ada adalah sebuah lagu penggugah agar kita tak mudah menyerah. Mungkinkah lagu ini merupakan refleksi dari kehidupan nyata Sandhy ketika menjalani hidup di Jerman dan memulai berkarir musik sebagai musisi jalanan?
Sangatlah menarik mencoba memahami lagu berjudul Another Suicide Bomb di track terakhir di album ini. Lagu ini terinspirasi oleh peristiwa pengeboman London Underground, 7 Juli 2005 yang dikenal sebagai peristiwa 7/7. Inilah sebuah pengecaman yang ditujukan kepada teroris yang menyengsarakan umat manusia dengan mengatasnamakan agama dalam bentuk karya seni (lagu) tanpa harus melakukan protes yang berakhir anarkis. Sungguh kejadian menyedihkan ketika ada peristiwa mengenaskan atas nama agama, dimana banyak orang harus tewas atas alasan yang tak berhak mereka dapatkan. Perang terjadi dimana-mana, tak ada tempat untuk berlindung dan entah kapan, kita bisa saja jadi korban berikutnya.

The Packaging & The Distribution
Disain cover album ini dikemas secara lux untuk ukuran harga standar. Menjadikannya nampak mahal (ekslusif) tapi sebenarnya murah untuk ukuran karya yang bagus yang bisa dinikmati dalam rentang waktu yang panjang. Distribusi album ini pun gampang didapat. Beredar di seluruh outlet penjualan kaset/CD baik outlet tradisional – yang sudah banyak tutup karena keterpurukan industri musik Indonesia – maupun outlet berjaringan nasional. Jadi, dengan harga yang terjangkau (untuk ukuran karya bagus), adakah alasan untuk tak menjadikannya bagian dari koleksi musik Indonesia milik Anda?

Tj Singo (@singolion)
Penikmat Musik Indonesia

catatan: review ini pernah dimuat di CD Review Kamar Musik, 30 September 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s