Remy Soetansyah – Kepergian seorang yang menganggap semua teman adalah sahabat


Nama Remy Soetansyah tak pernah saya ketahui sampai kami berkenalan via social media Multiply. Meskipun saya tau banyak lagu Indonesia, nama Remy Soetansyah tak pernah terlintas di benak saya sebagai pencipta lagu. Sampai pada akhirnya, lewat interaksi di Multiply itulah, saya tau dia adalah orang yang jago mengolah kata menjadi puisi dan lirik lagu.

Interaksi kami banyak diwarnai canda. Dia tipe khas wartawan yang urakan. Profesi yang saya ketahui belakangan. Interaksi intens di Multiply itu lah yang akhirnya juga membuat kami bertemu di Yogya, 8 Agustus 2008, 8-8-08. Dan, saya tak menyangka ketika bertemu, dia hanya mengenakan kain sarung membelut bagian tubuhnya pusar ke bawah. Seperti sarung orang Bali. Pertemuan itu membuat saya menyimpulkan dia orang yang rock n roll.

Beberapa kali mas Remy membantu saya bertemu dengan artis yang ingin saya temui. Setelah keramaian di Multiply berkurang, kami masih bertemu di social media yang sedang berada di puncak ketenaran saat itu, Facebook. Interaksi dengannya di Multiply dan Facebook membuat saya tau dia sangat dekat dengan salah satu penyanyi, lady rocker, ternama Indonesia, Nicky Astria. Dia pula lah yang mengenalkan saya dengan Nicky Astria di dunia maya. Dari sana pula saya tau, mas Remy adalah orang yang punya tempat khusus buat Nicky Astria.

Ketika banyak orang bermigrasi ke Facebook dan mulai meninggalkan interaksi di sana, mas Remy masih setia menuangkan tulisannya di Multiply. Dia berinteraksi di Multiply dan Facebook dengan frekuensi yang adil. Dan, dia paling suka menggoda saya dengan mengunggah foto dia bersama artis yang dia tau saya pasti iri.

Beberapa saat setelah bertemu dengannya di Yogya, mas Remy sempat menghilang di dunia maya. Tak ada interaksi dengan dia. Ketika saya menyadari “menghilang”nya dia dari dunia maya, saya merasa tak nyaman. Saya kangen komentar-komentar dia yang usil. Saya mengirim pesan menanyakan kabarnya. Di luar perkiraan dan harapan saya, dia membalas pesan saya dan mengatakan baru saja terserang stroke ringan dan kondisinya sudah membaik. Puji Tuhan.

Selanjutnya, dia kembali aktif di dunia maya. Ada perubahan pada dirinya. Status-status yang dia buat di Facebook lebih religius. Seorang teman menanyakan apa yang terjadi dengan mas Remy sehingga status-statusnya “begitu aneh”, tak lazim, tak seperti mas Remy biasanya. Saya melihat perubahan ini sebagai proses kesembuhannya dari stroke. Mungkin dia menjalani terapi alternatif nan religius.

Tahun lalu, dia berada di Yogya untuk sebuah acara. Ingin bertemu dengannya tapi waktu tak berpihak. Mas Remy sempat menghubungi saya dan meminta saya datang di acara itu sambil membawakan beberapa koleksi saya untuk menjadi bahan presentasinya. Saya sangat senang bisa membantunya tapi sayang, saya tak bisa meninggalkan anak-anak untuk menuju lokasi dia menjadi pembicara. Untuk mencapai lokasi itu, butuh waktu paling cepat setengah jam, sementara di rumah tak ada orang menemani anak-anak.

Ketika buku Chrisye: Kesan Di Mata Media, Sahabat Dan Fans terbit, mas Remy adalah orang pertama yang berkicau di Twitter tentang tulisan saya yang ada di buku itu. Dia memang usil tapi juga penuh perhatian. Dia hafal siapa saja artis favorit saya. Padahal, kami hanya dua kali bertemu dan interaksi lain hanya terjadi lewat social media.

Beberapa bulan yang lalu, saya ingin bertemu Oppie Andaresta yang saat itu berada di Yogya. Saya meminta bantuannya tapi karena satu dan lain hal, tak terealisasi. Tapi, dia sempat menyampaikan, “cari saja pak. Oppie orangnya asik koq. Rock n roll, gak jaim”. Sayang, saya tak berhasil menemui Oppie.

Beberapa minggu yang lalu, dia menyebut nama saya di salah satu foto yang dia unggah di Facebook. Dia menyebut nama saya karena di foto itu karena ada Vina Panduwinata di foto itu. Dia tau kalau saya pasti berkomentar yang bernada sirik dan iri. Dia hafal betul bagaimana memancing saya.

Beberapa hari yang lalu, lini masa saya terisi berita kurang baik. Beberapa orang yang saya ikuti menyampaikan mas Remy tak sadarkan diri dan berada di rumah sakit. Saya memang orang yang tak begitu suka dengan berita seperti ini karena trauma dengan apa yang terjadi pada mami beberapa tahun yang lalu.

Dan kemarin petang, lini masa berisi berita kepergian mas Remy kepada Sang Khalik. Perangkat Blackberry saya pun bertubi-tubi menerima berita duka cita ini. Berita kepergian selamanya seorang sahabat tak pernah menjadi berita baik. Suka cita, kenangan keusilan dan bantuan yang tulus dari seorang Remy Soetansyah mulai hari ini tak akan saya dapatkan lagi. Dia meninggalkan rencana mendirikan Rumah Musik Indonesia yang sudah lama dia idamkan menjadi ketidaknyataan. Dia telah pergi menghadap Sang Pencipta bersama puisi-puisi yang telah ia tulis. Selamat jalan sahabat bagi banyak orang. Titip salam buat idola saya di sana. Mas Remy pasti tau siapa yang saya maksud. Ciptakan lebih banyak lagu agar sang legenda bisa menyanyikan kidung indah hasil goresan pena dan pilihan kata bernilai sastra darimu. Unggalah foto bersama dengannya dari sana agar saya tetap sirik dan iri kepadamu yang selalu dekat dengan banyak orang.

Selamat jalan mas Remy Soetansyah. Tersenyumlah engkau dari sana agar terlihat lesung pipitmu yang tak begitu dalam sambil membetulkan letak kacamata plusmu.

yogya, hari terakhir Oktober 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s