Datang Untuk Melayani

Tak dapat disangkal, industri musik Indonesia saat ini berada di titik nadir. Pembajakan dibiarkan dan tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Unduh tak legal menjadi sebuah kebiasaan bahkan kebudayaan. Pendengar musik tak lagi punya urat malu untuk meminta laman unduh langsung pada artis/musisi via media sosial Twitter, misalnya.

Pendengar musik merasa unduh tak legal adalah hal legal. Mereka lupa di balik sebuah lagu terdapat sebuah proses panjang; mulai dari kreasi bahan mentah berupa coretan dan dentingan alat musik yang masih tak terbentuk, kemudian memasak bahan mentah di dapur rekaman yang memakan waktu berjam-jam bahkan berbulan-bulan, sampai akhirnya tersaji dalam bentuk lagu yang berdurasi tiga sampai lima menit (saja). Tak jarang, seorang musisi harus mengabaikan kehidupan rumah tangga, tak bertemu keluarga hanya demi sebuah karya, sebuah lagu yang nantinya akan menyenangkan pendengarnya. Sebuah lagu yang mungkin saja sama dengan cerita hidupnya yang membuat sang pendengar sampai berkata: “ini lagu gue banget geto lho…..”

Namun, apa balasan pendengar lagu atau bahkan yang mengaku penggemar? Apakah mereka sudi membeli karya musisi yang dikaguminya? Tak semuanya. Beberapa pendengar memilih jalan pintas (shortcut) untuk memiliki lagu yang digemarinya dengan cara unduh tak legal tadi. Mereka merasa kalau sudah memiliki lagunya, mereka sudah bisa disebut pecinta sang musisi. Mereka lupa, musisi pun perlu support untuk tetap bisa berkarya, untuk melahirkan karya-karya hebat berikutnya. Darimana mereka bisa berkarya lagi jika karya asli mereka tak terbeli?

Di sisi lain, masih ada juga pendengar (fans) yang bisa memahami hak cipta. Mereka tak keberatan membeli karya, menyimpannya menjadi karya abadi. Dan, mereka pantas bangga memiliki karya asli tersebut. Pembeli karya asli inilah yang sebenarnya berhak disebut fans sejati. Dan, fans (sejati) umumya punya keinginan bertemu langsung idolanya, meminta tanda tangan dan berfoto bersama sang idola. Kebahagiaan yang tak terkira ketika apa yang mereka inginkan bisa terjadi.

Tak semua keinginan untuk bertemu, meminta tanda tangan dan berfoto dengan idola bisa terjadi. Ada jarak ruang dan waktu yang kadang menghalangi. Alangkah indahnya ketika pembeli karya bisa bertemu, mendapatkan tanda tangan dan berfoto dengan sang idola. Ketika musisi bersedia mengabulkan keinginan pembeli karyanya, peristiwa ini bagaikan gayung bersambut. Bisakah ini terjadi? Bisa!

Itulah yang dilakukan Glenn Fredly pada 3 November 2012 yang lalu. Satu jam sebelum jadwal sound check di pertunjukan Instrumantic di Yogyakarta, Glenn bersedia menemui para pembeli karya barunya Luka Cinta & Merdeka di sebuah toko kaset/CD Popeye di Yogyakarta. Glenn bersama manajemen dan outlet telah merencakan event kecil ini. Mereka yang membeli album tersebut bisa memesan dan datang pada waktu yang ditentukan untuk bisa bertemu, ngobrol, minta tanda tangan dan berfoto bersama Glenn. Mereka yang mendapatkan kesempatan ini nampak sumringah dan merasa bangga.

Glenn bersedia melayani permintaan berfoto satu per satu dengan sabar. Glenn juga terlihat bahagia melakukannya sambil kadang-kadang menjawab pertanyaan fans-nya. Terciptalah suasana akrab di sana.

Mungkin ini bukan yang pertama terjadi. Namun, apa yang dilakukan Glenn dalam rangka mendekatkan diri dengan fans dan pembeli karyanya merupakan suatu upaya agar fans merasa senang bisa berjumpa dengannya dan lebih menghargai karya musisi Indonesia. “Ini sebuah proses edukasi,” begitu kata Glenn singkat tentang event kecil ini.

Jika saja banyak musisi bersedia melakukan hal seperti yang dilakukan Glenn, nampaknya tak perlu menyalahkan kondisi “titik nadir” industri musik Indonesia. Yang dilakukan Glenn adalah sebuah hal kecil yang bukan tak mungkin menjadi hal besar nantinya. Kesediaan Glenn untuk “saya datang untuk melayani” adalah sebuah jalan kecil untuk menyenangkan fans nya, memberi impresi bahwa pembeli karyanya juga diapresiasi oleh idolanya dan sebuah edukasi yang mudah-mudahan berdampak besar nantinya.

Apakah musisi lain mau melakukannya? Semua kembali pada niatan masing-masing artis/musisi. Persoalannya bukanlah pada bisa atau tidak bisa (sempat) tapi bersedia atau tidak menyediakan beberapa menit mengunjungi outlet dan berinteraksi dengan pembeli karyanya.

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s