Alvin Adam – Jurnalisme Rasa

Jika banyak tulisan di kolom A Cup of Tea adalah obrolan dengan artis (musisi), itu karena interest saya memang ada di musik. Tapi, bukan berarti yang bukan musisi tak saya minati. Saya ingin berbicara dengan siapa saja, belajar dari mereka yang saya kagumi karena karya dan sikap (attitude) nya.

Dan, ketika Alvin Adam adalah orang yang saya tuangkan di tulisan ini, itu karena saya mengagumi dia. Saya mengenalnya sejak tahun 2000an awal ketika dia menjadi artis sinetron Tersanjung yang perannya adalah suami dari Ratih (Novita Wibowo). Saya sudah lupa cerita dan peran dia di sana. Tapi, ketika dia muncul lagi di acara Just Alvin, lalu kami berkomunikasi via Facebook dan Twitter, dari situlah saya melihat betapa dia adalah orang yang bisa memberikan contoh baik.

Selama menyaksikan acaranya di Metro TV, Just Alvin, saya semakin kagum bagaimana dia bisa mendapatkan cerita dari nara sumbernya yang sifatnya sangat personal, tak pernah muncul di media massa dengan begitu terbuka. Ingin sekali saya mendapatkan cerita-cerita semacam itu untuk saya pelajari bagi kehidupan saya. Dan, orang-orang yang ingin saya ketahui itu kebanyakan musisi. Tak mudah mendapatkan cerita-cerita yang tak pernah mereka ungkapkan di media. Dan inilah salah satu tag acara Just Alvin, UNTOLD.

Selama mengikuti acara yang dipandunya, saya terus mencoba memahami Friendship, Trust, Untold, Achievement yang menjadi tag acara itu. Dan, saya meyakini, Jurnalisme Rasa yang dia pegang juga menjadi kunci suksesnya acara ini. Inilah yang membuat saya ingin belajar dari dia. Sungguh suatu yang tak mudah bisa membuat orang-orang yang diundangnya di acaranya (hampir semuanya celebrity, public figure) bisa bicara dan tertawa lepas atau bahkan menangis tanpa skenario. Semua terjadi begitu natural.

Ketika kesempatan bertemu dengannya tiba, saya langsung menanyakan resepnya. Tanpa prasangka berlebih, Alvin bersedia membagikan ilmu yang dia miliki. Dia bersedia membagikan apa yang dia miliki pada saya yang selama ini hanya berkomunikasi via dunia maya. Alvin memang orang yang positif. Baca saja kicauannya di lini masanya. Tak ada kicauannya yang bernada negatif. Semua pelajaran positif dan rasa syukur pada Tuhan.  Mungkin ini juga yang membuat dia disegani para tamunya yang biasa dia sapa sebagai “Sobat Just Alvin”.

Ketika saya melontarkan sebuah kesan negatif, dia meluruskan dengan nada yang positif. Alvin pun bercerita bagaimana dia memperlakukan sobat-sobatnya. Dia adalah orang yang sangat menghargai sobat-sobatnya. Sikap apresiatif inilah yang menjadi kunci bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan baik sehingga acara Just Alvinselalu saya tunggu dan saya pelajari.

Pertemuan singkat – tak sampai 30 menit – ini memberi pelajaran yang berarti buat saya. Tidak banyak tapi ada! Jika saja ada waktu lebih, pasti akan lebih banyak lagi yang bisa saya pelajari dari seorang Alvin Adam yang begitu terbuka, hangat, positif dan apresiatif kepada siapa pun. Pertemuan tanpa hidangan “a cup of tea” di hari cerah yang bikin gerah di salah satu ruang terbuka di universitas ternama di Yogyakarta inilah yang ingin saya bagikan. Betapa sebuah sikap positif dan apresiatif bisa menjadi kunci keberhasilan sebuah acara atau hubungan dengan semua orang. Itulah Alvin Adam, Just Alvin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s