Adi Adrian – Pendiam Yang Ternyata Juga Rame tuh!

Singo & AdiKetika saya ditanya siapa penyanyi atau group favorit saya, saya selalu menyebut dua penyanyi solo dan dua group band. Dari dua group band itu, salah satunya adalah KLa Project. Bukan berarti saya tak punya favorit lain, dan jika penyanyi solo atau group lain itu mendapat predikat angka setelah satu, itu karena masalah faktor “U”. Saya tumbuh bersama musik mereka. Usia saya merambat ke bilangan yang lebih besar saat group ini juga menapak karir mereka ketika melahirkan mahakarya.

Saya selalu ingin bisa dekat mereka dan berbicara. Bicara tentang musik mereka, tentang karya mereka dan tentang apa saja yang bisa menjadi masukan buat saya. Tentu saja, mendapatkan waktu bersama mereka bertiga bukanlah hal mudah. Ketika mereka “pulang ke kotamu”, mereka punya banyak teman di sini yang kadang-kadang ingin mereka temui.

Dan, ketika saya bisa berbicara dengan salah satu dari mereka, saya merasa orang yang beruntung karena tak semua KLanese punya kesempatan seperti saya. Berbicara dengan Adi Adrian, yang kesannya pendiam ternyata tak menjadikan pembicaraan seperti berbicara dengan Charlie Caplin. Kami sudah beberapa kali bertemu (pertama kali bertemu tahun 1999). Tapi, kali ini, saya memang ingin pembicaraan itu bisa tertuang di A Cup of Tea di sini.

Kami bertemu pukul tujuh malam, di saat penonton konser sudah mulai berdatangan. Meskipun didahului kejadian saya terjebak di lift yang macet, saya yakin kami akan bisa berbicara dengan nyaman. Dan, kami memang berbicara dalam situasi yang sangat asik dan nyaman, senyaman dan seasik saya mendengarkan lagu-lagu KLa Project yang tak pernah bosan saya dengarkan.

Kami berbicara tentang musik Indonesia lama dan juga tentang KLa Project. Sesuatu yang selalu ingin saya ketahui dari mereka lebih dalam. Ini bukan pembicaraan satu arah. Adi bertanya tentang lagu paling saya suka dari seluruh lagu KLa Project dan juga hobi saya mengoleksi album musik Indonesia. Saya sangat antusias menceritakan hobi saya sampai saya bisa tahu musik-musik lama yang Adi ingin miliki koleksinya dalam bentuk digital. Di luar pembicaraan tentang KLa Project, kami juga bicara tentang musik yang bersinggungan dengan Adi seperti RSD, Catio dan Makara.

Dan “tentang kita”, saya menanyakan apakah ia sempat membuka laman yang saya kirimkan padanya pada tanggal 5 Desember lalu, 3 hari sebelum show KLa Project. Itu adalah laman radio streaming dimana saya mencoba berbuat sesuatu untuk group pujaan saya. Apa yang saya lakukan itu membuat saya mengenal beberapa orang di KLa Corp, perusahaan yang membawahi KLa Project dan tentang KLa Corp itu sendiri. Dari pembicaraan itu, saya mendapat tambahan pengetahuan tentang KLa Project.

Saya jadi tahu peran Ari Burhani yang setelah tak lagi menjadi personil KLa Project di album Ungu (1994) ternyata adalah otak di balik lahirnya konser KLakustik. Dia adalah manager hebat yang berbuat banyak untuk KLa Project. Ari adalah manager yang tangguh dalam membuat KLa Project sering “ngamen”. Hal ini memang tidak saya ketahui sebelumnya, baik dari personil KLa Project maupun media massa. Mungkin ini pernah ditulis tapi saya tak membacanya? Saya juga jadi tahu salah satu alasan penundaan rencana konser KLakustik #2 yang beberapa saat yang lalu direncanakan diadakan bulan Oktober tahun ini. Tapi, biarlah cerita itu untuk saya saja mengingat ini adalah sebuah hal yang menurut saya bukan wewenang saya untuk menyampaikannya pada publik.

Kami juga bicara tentang album-album KLa Project dan lagu-lagu di dalamnya. Kami mengupas hampir semua album KLa Project termasuk A Tribute to KLa Project yang tahun lalu dirilis (yang tak masuk dalam discography KLa Project). Saya secara bebas bicara tentang album itu sambil bertanya kemungkinan A Tribute to KLa Project berikutnya. Mahakarya KLa Project memang sudah banyak. Dibuat album tribute to saja sudah bisa untuk kedua dan ketiga.

Dengan bangga, saya menunjukkan majalah yang menulis tentang saya dan foto album yang berisi foto-foto saya bersama beberapa artis yang saya cetak dengan ukuran 10R. Tentu saja termasuk foto bersama KLa Project. Ah, doi senyum-senyum melihat hobi saya.

Adi memang terkesan seorang pendiam. Tapi, karena kami sudah kenal, kesan itu tak ada lagi. Pembicaraan diselingi tawa lepas. Dan, malam itu jadi istimewa buat saya karena kami ngobrol dengan santai dan Adi menikmati pisang goreng buatan saya. Walaupun a cup of tea tak tersaji, saya tak haus, meskipun hanya air mineral yang disajikan. Air mineral yang disajikan idola memang benar-benar melepaskan dahaga dan membuat bangga bahwasanya saya bisa bersama dia dalam ruang khusus, tak ada orang lain di sana, dan membuat saya tak lagi melihat ini sebagai hubungan vertical fans – idola, tapi sudah menjadi hubungan horisontal, antar sahabat. Kalau sudah begini, saya memang Tak Bisa Ke Lain Hati.

Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, Di. Gimana kalau sambil elu mainkan keyboard dan menekan tuts-tuts di keyboard itu menjadi serangkaian nada lagu Semoga, lagu paling saya suka dari KLa Project. Setuju? 🙂

Advertisements

One thought on “Adi Adrian – Pendiam Yang Ternyata Juga Rame tuh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s