Lilo – Kenthir tapi Asik!

Singo & LiloDi A Cup of Tea sebelumnya bersama Adi Adrian, saya sudah sampaikan KLa Project adalah group idola saya. Dan, a cup of tea ini adalah masih dalam serangkaian bersama personil KLa Project lain, Lilo. Pembicaraan dengan Lilo ini terjadi lebih panjang tapi tidak dalam satu waktu. Kedatangannya saat “pulang ke kotamu” dalam waktu hampir 48 jam sejak hari Jumat, satu hari sebelum konser mereka, dan kehangatannya kepada semua orang membuat kami tak bisa punya waktu khusus secara ekslusif sebagaimana pembicaraan saya dengan Adi.

Dan, tulisan di sini tak bisa saya buat dalam bentuk “jaim” seperti tulisan-tulisan di A Cup of Tea sebelumnya yang menggunakan bahasa baku. Saya memang harus menyesuaikan tulisan kali ini dengan gaya Lilo. Lilo memang gokil!

Setelah tak mendapatkan jadwal pasti jam berapa dia akan check-in di hotel tempat dia menginap, saya memperkirakan sendiri kapan saya sebaiknya menunggu dia check-in di hotel. Tak menunggu lama (sekitar sepuluh menit), Lilo turun dari mobil menuju lobby. Dia selalu menunjukkan kehangatan dan keakraban. Kami berpelukan seperti Teletubbies saat bertemu sambil menyapa “Apa kabar, bro?”. Itulah yang pertama dia ucapkan. Itulah Lilo. Tak pernah formal.  Dia memang asik sebagaimana dia selalu mengatakan, “gua bukan gitaris jago, tapi gua gitaris asik”.

Sesaat setelah check-in, kami berbicara sekitar seperempat jam sambil berdiri di lobby hotel. 15 menit berbicara buat saya adalah waktu yang sangat berharga. Ada pelajaran yang bisa dipetik, ada omongan dia yang membuat saya “awake”. Lilo tak pernah menggurui. Dia menyampaikan dengan cara dia sendiri tapi mengena di hati. Setelah 15 menit berlalu, dia pun ingin menuju ke kamar untuk beristirahat. Dia mengajak saya sarapan sambil meminta saya membangunkan dia kalau saya sudah datang tapi dia belum bangun. Saya menunggu beberapa saat di koridor hotel karena ternyata dia pindah kamar, dan telepon ke kamarnya tak berfungsi karena salurannya rusak. Ah, hotel ini memang “aneh”.

Kami sarapan di saat waktu yang disediakan oleh hotel hampir habis. Di tengah sarapan, saya dikenalkan pada seseorang yang punya peran atas sejarah KLa Corp. Kami pun tak bisa bicara dengan intens karena Lilo memang selalu hangat bagi semua orang. Setelah itu, rombongan additional players KLa Project, crew dan group Violet juga datang. Pembicaraan intens kembali tak terjadi. Tapi, di kondisi apa pun, berbicara dengan Lilo selalu asik. Dia bisa bicara tentang apa saja. Dari soal politik sampai musik. Dari yang teoritis sampai yang realistis tapi logis.

Dan, pembicaraan terhenti karena Lilo segera cek sound untuk konser malam harinya. Pembicaraan berlanjut kembali setelah selesai show. Dan inilah yang bikin sakit perut. Pembicaraan tak lagi ekslusif tapi telah menjadi pembicaraan berjamaah. Banyak yang ikutan di sana. Dia bicara apa saja. Dari bisnis sampai politik. Dari yang religius sampai yang tendensius (saya tak tega untuk menuliskan “jorok”). Dan, inilah Lilo sebenarnya. Apa saja yang dibicarakan, serius, bisa menjadi dagelan. Tak sekali ia menunjukkan sense of humor-nya yang tinggi. Dia juga plesetan secara cerdas. Dan kami yang di bar hotel di sekitaran dia tak berhenti terbahak-bahak. Dalam bahasa canda Yogya, Lilo ki cen kenthir koq.”. ha…ha…ha….

Disampaikan secara serius atau guyon, Lilo tetap memberi “pencerahan”. Inilah yang saya suka dari berbicara dengannya. Memang, bicara dengan orang satu ini, waktu tak pernah cukup. Sampai-sampai saya masih bersedia melanjutkannya beberapa saat sebelum dia take off menuju Jakarta. Kami bicara lagi tentang KLa Project. Saya mendapat jawaban keingintahuan saya tentang A Tribute to KLa Project. Tentang rencana berikutnya. Ah, saya tak ingin menuliskannya di sini. Itu untuk mencegah jika kelak yang terjadi tak seperti yang direncanakan. Bisa mengecewakan orang yang berpegangan pada rencana yang terbaca di sini.

Ah, kenapa juga saya lupa bertanya tentang lagu Semoga padanya? Ternyata saya mengalami “demam panggung” juga berhadapan dengan idola saya, sampai-sampai apa yang saya rencanakan jadi hilang. Atau mungkin karena ketika berbicara dengannya semua bisa melebar kemana-mana?

Lo, kapan-kapan kita ngobrol lagi yuuuuk. Gua mau tanya soal Semoga. Lagu favorit gua dari group favorit gua yang ciptaan elu itu. Gua sih udah tau cerita lagu itu, tapi gua pingin tau itu pengalaman pribadi elu atau …….. Tapi, gua gak sanggup kalau ngobrolnya sambil minum bir menemani elu. Gua cukup soft drink aja. Biarlah kolom ini tetap menjadi A Cup of Tea, bukan A Pitcher of Beer.  Is it a deal, bro? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s