Fariz RM – One Night In Barcelona at Bogey’s Teras Hyatt Regency Yogyakarta

Fariz RM show crop res wm

Penikmat musik Indonesia 80an pasti tau Fariz RM (Rustam Munaf). Jika ingin memberi gelar padanya, “maestro” bisa jadi kata yang tepat. Karyanya terekam dalam ratusan album, baik album solo maupun album kompilasi dan album penyanyi lain. Di album fenomenal OST Badai Pasti Berlalu yang ikut menorehkan tinta emas di dunia musik Indonesia, Fariz ikut serta di sana sebagai drummer.

Album solo pertamanya, Selangkah Ke Seberang (1979) sekarang menjadi buruan para kolektor kaset karena sudah menjadi barang langka. Namanya lebih berkibar di album Sakura (1980) dan lagu itu sudah dinyanyikan beberapa penyanyi dan sampai sekarang masih sering terdengar. Kemudian, karya-karya hebatnya berlanjut. Sebut saja lagu Nada Kasih yang dinyanyikannya bersama Neno Warisman, kemudian Hasrat dan Cita yang dilagukan oleh Andi Meriem Mattalatta, Sungguh yang disuarakan Vina Panduwinata, Kurnia Dan Pesona, Penari, dan lain-lain….. Fariz adalah fenomena!

Kejayaan Fariz sejak tahun 80an membuat dia banyak dikagumi. Dan ketika Hyatt Regency Yogyakarta menampilkannya sebagai pengisi acara malam pergantian tahun, tentunya popularitas Fariz RM adalah pertimbangan utama. Dengan judul “A Night In Barcelona” bisa dipastikan acara ini berbau latin (Spanyol) dan lagu Barcelona pasti akan dibawakan.

Faktanya memang begitu. Lagu Barcelona yang terdapat di album Living In The Western World (1988) memang dibawakan sebagai lagu penutup (puncak) acara ini. Lagu ini menjadi lagu ke sebelas dari seluruh penampilan Fariz RM yang berakhir 10 menit sebelum pergantian tahun. Tanpa permintaan encore (lagu tambahan) – meskipun Fariz sudah menyiapkan dua lagu tambahan di song list nya – yang biasanya diteriakkan penonton, pertunjukkan ini tak terkesan sebagai pertunjukan musik oleh seorang maestro.

Pertunjukan ini dibuka dengan sebuah pengantar (overture) lalu masuk ke lagu Fenomena, sebuah komposisi baru dari album terbaru Fariz RM. Judul lagu yang sama dengan judul album. Setelah itu, Fariz membawakan Selangkah Ke Seberang (1979), Kurnia Dan Pesona (dari album Hitz, 1989), berlanjut ke Hasrat dan Cita (album Bahtera Asmara, Andi Meriem Mattalatta, 1979) dan kemudian Penari (yang diciptakan di Yogyakarta) yang dibawakan bersama Superdigi.

Setelah itu, Fariz membawakan lagu Terindah yang diciptakan Glenn Fredly dari album Fenomena. Berlanjut ke lagu Sungguh yang dulunya dibawakan Vina Panduwinata di album Wow (1989). Selepas Sungguh, satu lagu yang juga banyak dikenal pun meluncur, Nada Kasih. Lagu ini ada di album Do Not Erase (1987) dinyanyikan bersama Neno Warisman. Setelah lagu itu, lagu hits lainnya menyusul, Sakura (1980) dan ditutup dengan Barcelona. Di tiga lagu terakhir itu, Fariz ditemani tiga penari sebagai bumbu pertunjukan.

Seluruh lagu dibawakan Fariz sendirian, didukung oleh peralatan synthesizer. Fariz menyanyi secara live dengan iringan peralatannya. Sesekali ia berada di belakang keyboard-nya dan memainkannya secara live Namun secara keseluruhan, pertunjukan ini lebih terkesan sebagai pertunjukan “minus one”. Dengan peralatan yang sudah disiapkan sebenarnya terbukti Fariz adalah seorang instrumentalis.

Secara umum, pertunjukan ini jauh dari kesan sebuah pertunjukan musik. Tak ada apresiasi yang bisa meningkatkan energi sang bintang. Tepuk tangan pun jarang membahana. Harga tiket Rp 150.000,00 Rp 250.000,00 dan Rp 450.000,00 menunjukkan bahwa pertunjukan ini memang ditujukan untuk penonton berkelas sebagaimana pasar sasaran hotel Hyatt Regency.

Para penonton yang datang pun nampaknya lebih ingin menikmati malam pergantian tahun sebagai sebuah gaya hidup kaum berpunya, bukan sebagai penikmat karya Fariz RM. Tak mengherankan, interaksi yang coba dijalin oleh Fariz dengan penonton tak begitu mendapat respon sebagaimana yang biasa terjadi antara sang artis dan penggemarnya.

Secara bisnis, Hyatt Regency boleh lah tersenyum karena tiket terjual habis. Tapi, secara musikal, apakah sang Maestro, Fariz RM merasa puas? Entahlah. Saya sendiri lupa menanyakannya pada beliau pada saat kami berjalan bersama ketika beliau menuju kamar untuk berganti pakaian. Saya sendiri, merasa hambar malam itu. Malam pergantian tahun yang menjadi tak begitu berkesan karena menghadiri pertunjukan musik oleh seorang Maestro tapi tak merasakan atmosfer pertunjukan musik.

@singolion
Penikmat musik Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s