Rumah Musik Indonesia Edisi Koes Plus

Glenn Fredly memang bukan penyanyi Indonesia sembarangan. Dia boleh dibilang penyanyi R & B terbaik Indonesia saat ini. Selain kualitas suara dan penampilan serta kharismanya, Glenn juga punya kepedulian terhadap musik Indonesia berkualitas. Kepedulian ini  ditunjukkan dengan sikapnya yang tak mau tampil di acara musik televisi yang melibatkan penonton bayaran untuk menjadi penggembira, bersorak-sorak di jam aktif sekolah atau kuliah. Glenn mengambil sikap pada acara musik yang hanya menampilkan lagu-lagu selera pasar yang dikendalikan oleh label rekaman. Kepedulian lain yang ditunjukkan Glenn adalah perhatiannya pada studio rekaman pertama milik negeri ini, Lokananta, di Solo. Kondisi Lokananta yang memprihatinkan mengoyak hatinya sampai ia mau dan dengan antusias melakukan rekaman di tempat itu. Rekaman album yang dia lakukan secara langsung (live).

Kepedulian Glenn terhadap musik Indonesia tak berhenti di situ. Ia melakukan usaha-usaha untuk menunjukkan aksinya. Bersama tandemnya, Tompi dan Sandhy Sondoro, yang dinamakan Trio Lestari, mereka siaran di Hard Rock FM membahas musik-musik berkualitas. Ia bersedia menjadi juri ajang pencarian bakat The Voice Indonesia yang disiarkan oleh Indosiar karena ia merasa ajang ini bukan ajang pencarian bakat biasa. Ajang ini memilih peserta karena kualitas suara peserta, bukan fisik dan usia.

Glenn (bersama Tompi dan Sandhy) tampil di acara Rumah Musik Indonesia di Indosiar. Pada episode pertama yang disiarkan tanggal 2 Desember 2012 (tanpa Sandhy), topik mereka adalah tentang Lokananta. Mengajak beberapa penyanyi yang menurut klasifikasi Glenn merupakan penyanyi berkualitas, acara ini mendapat sambutan hangat. Ada David Naif yang prima penampilannya, Endah n Rhesa yang terus melaju popularitasnya, Monita Tahalea yang jazzy, Sruti Respati penyanyi dan pesinden asal Solo, Tompi, White Shoes & The Couples Company yang makin digemari sampai penyanyi senior Bob Tutupoly dan maestro Titiek Puspa. Acara ini benar-benar luar biasa. Kesan-kesan berupa pujian berkeliaran di media sosial, Twitter. Dan di penghujung acara, Glenn berharap acara ini bisa mengudara lagi. Dengan segala kerendahan hati, dia meminta dukungan pemirsa supaya acara ini terlaksana lagi.

Dan, tiga bulan berlalu. Acara ini kembali mengudara. Kali ini, topik yang diangkat adalah Koes Plus, legenda musik Indonesia. Jangan mengaku penikmat musik Indonesia jika tak kenal Koes Plus! Bukanlah hal main-main jika Glenn bersedia mengangkat Koes Plus di acara ini. Rumah Musik Indonesia edisi ini diisi oleh Mike Mohede, Kikan, Tulus, Gugun Blues Shelter, Iwa K bersama Ras Muhammad dan Bellia, Jamaica Café, The Brothers, Rieka Roslan dan Sundari Sukoco bersama Keroncong Tugu, Fiersha yang dulunya peserta ajang pencarian bakat Mamamia, serta penyanyi yang sedang berjuang di The Voice Indonesia, Saenab & Yunita.

Pilihan lagu-lagu seperti Bunga Di Tepi Jalan, Di Dalam Bui, Jemu, Ayah, Kolam Susu, Why Do You Love Me, Diana, Mari-mari, Cubit-cubitan, Tul Jaenak, Bujangan dan Manis dan Sayang sebagai penutup, membuat acara ini begitu istimewa. Kehadiran para fans Koes Plus yang berusia tak lagi muda, menambah semaraknya acara ini. Tampilan cerita dan diskografi Koes Plus yang dibacakan Trio Lestari semakin membuka mata kita bahwa Koes Plus memang layak disebut legenda. Bahwasanya Koes Plus pernah diproduseri oleh orang Kanada adalah sebuah bukti lain tentang kehebatan Koes Plus.

Yang mencuri perhatian di acara ini adalah penampilan Tulus. Penyanyi yang terus menanjak ini membawakan Di Dalam Bui. Suaranya khas. Sementara lagu Jemu yang berirama rancak menjadi makanan empuk bagi Gugun Blues Shelter. Munculnya Jamaica Café yang membawakan medley Diana, Mari-mari dan Cubit-cubitan memberi arti tersendiri buat Glenn yang mengontraskan group ini dengan boyband yang makin marak dengan sedikit memberi sindiran bahwa mereka bukanlah penyanyi lipsync. Ruang lain diberikan kepada Rieka Roslan dan Sundari Sukoco dan kelompok Keroncong Tugu dengan mengaransemen lagu Tul Jaenak secara keroncong. The Brothers tampil membawakan Why Do You Love Me secara grande karena mereka bak penyanyi tenor di pertunjukan teater. Lagu Kolam Susu yang juga populer dibawakan ala rap oleh Iwa K dan Raffi Mohammad bersama Belia, penyanyi yang juga sedang berjuang di The Voice. Sebelum penampilan seluruh artis, Tompi bersama Cut Deviana yang memainkan grand piano membawakan komposisi Bujangan. Penampilan mereka disebut The Doctor and The Professor. Dan sebagai penutup, lagu Manis Dan Sayang dinyanyikan bersama-sama. Nampak dari penampilan ini, semua penyanyi tahu betul lagu Koes Plus.

Beragamnya lagu Koes Plus dalam beberapa aransemen seolah memberikan gambaran betapa Koes Plus memang memiliki lagu-lagu yang sederhana dan “all round”. Dan, yang saya tangkap di sini adalah Glenn ingin mengapresiasi Koes Plus secara komprehensif dengan melibatkan banyak penyanyi dari berbagai genre. Kejelian produser dengan memasukkan Cak Lontong membawakan stand up comedy juga menambah nilai pada acara ini. Cak Lontong sangat lancar “merangkai” Koes Plus, baik judul lagu, lirik lagu maupun sejarah Koes Plus menjadi sebuah guyonan cerdas.

Jika ada hal yang saya kurang berkenan pada acara ini itu sifatnya bukan pada penampilan para penyanyinya maupun lagunya. Menurut saya, tak seharusnya acara ini menampilkan para peserta The Voice Indonesia yang telah terpilih masuk ke dalam tim seorang mentor karena mereka seolah “menang sebelum perang”. Dengan tampil di acara ini, para peserta itu seperti “mencuri start”. Penampilan mereka di sini tentu menambah jam terbang sebelum mereka benar-benar berjuang melawan kontestan lain. Semoga mentor lain di The Voice Indonesia tak memiliki pemikiran yang sama dengan saya.

Anyway, jam tidur saya jadi terganggu karena acara ini. Rencana untuk tidur lebih awal batal karena menyaksikan acara yang sayang kalau tak ditonton dari awal sampai akhir. Saya berharap acara-acara musik berkualitas seperti ini bisa lebih sering ditampilkan karena inilah musik berkualitas yang semestinya ditonton, bukan acara musik yang penontonnya dibayar dan presenternya dibiarkan saja melakukan penghinaan (bullying) terhadap penonton dan pengisi acara. Penghinaan bukanlah hal lucu yang perlu ditertawakan.

Salam Musik Bagus Indonesia.

Tj Singo
Penikmat musik Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s