Krakatau – Tetap Gemilang

cover album all krakatau crop res
Jika diminta menyebut group band jazz Indonesia yang sampai sekarang namanya masih terpatri di dunia musik Indonesia, Krakatau jelas harus disebutkan. Group ini sampai sekarang masih ada namun genre yang dibawakan tak lagi sama dengan ketika mereka memulai menancapkan karirnya di dunia musik Indonesia. Krakatau yang sekarang merupakan group jazz bergenre ethno-kontemporer setelah sebelumnya berada di jalur fusion jazz. Perubahan ini terjadi sejak tahun 1995 setelah sebelumnya mereka bermain di aliran fusion jazz sejak 1985.

PERJALANAN
Banyak pendengar musik Indonesia mengenal Krakatau sebagai group fusion jazz dengan formasi Donny Suhendra (gitar), Dwiki Dharmawan (keyboard), Gilang Ramadhan (drum), Indra Lesmana (keyboard), Pra B Dharma (bass) dan Trie Utami (vocal). Formasi ini sebenarnya bukanlah formasi awal. Formasi ini bisa disebut formasi industri karena formasi inilah yang mengantar mereka memasuki dunia industri musik sampai namanya menjadi gemilang.

Krakatau merupakan band yang dibentuk di Bandung tahun 1985. Band ini terbentuk sepulang Pra B Dharma dari Seattle, Amerika. Dia ingin meniti karir sebagai musisi jazz di Indonesia. Bersama Donny Suhendra, gitaris terkenal di Bandung yang sempat rekaman bersama Rien Djamain dan D’Marszyo (1982), Dwiki Dharmawan, seorang pianis muda berbakat dan Budhy Haryono, seorang drummer beraliran rock, anggota Jam Rock, cikal bakal band Jamrud. Inilah formasi pertama Krakatau. Nama Krakatau dipilih dengan alasan adanya perasaan nasional, Jawa Barat dan ada kesan anggun dan penuh power (Majalah Populer, Juni 1988). Mereka mempertontokan permainan mereka di program “Jazz Break” di Bandung. Kemudian, group ini mengikuti LMC (Light Music Contest) 1985. Di kontes ini, mereka berhasil menggondol penghargaan sebagai band terbaik. Budhy, Donny, Dwiki, dan Pra menyabet gelar terbaik sebagai drummer, gitaris, keyboardist, dan bassist. Mereka bak Vini Vidi Vici. Datang, main dan menang! Setelah itu, Krakatau menambah vokalis dan bergabunglah Harry Moekti dan Ruth Sahanaya. Bersama Ruth Sahanaya mereka sempat tampil di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di negeri ini kala itu.

Ketika akan memasuki dunia rekaman, terjadilah sedikit problem. Budhy menginginkan group ini bermain dengan sentuhan rock. Dan Ruth Sahanaya terlanjur kontrak dengan pihak label sebagai pribadi. Akhirnya, group ini harus segera mencari pengganti. Gilang Ramadhan, drummer muda berbakat saat itu, dan Indra Lesmana, the wonder boy, yang juga sahabat karib Gilang, diajak serta bergabung. Pilihan vokalis jatuh pada Trie Utami. Trie Utami adalah vokalis terbaik pada LMC 86. Waktu itu Trie Utami adalah vokalis group Kahitna. Pilihan ini tak main tunjuk. Trie Utami sempat mengikuti audisi dan pada saat itu ia menyanyikan lagu ciptaan Dwiki Dharmawan yang berjudul Now Is The Best Time To Start. Itu kejadian pada Desember 1986.

Di tahun 1987, mulailah Krakatau dengan formasi Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan, Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Pra B Dharma dan Trie Utami masuk dapur rekaman dengan album pertamanya.

EKSISTENSI PERSONIL KRAKATAU
Dibandingkan group (jazz) lain yang lahir di masa itu, Krakatau merupakan group yang sampai sekarang seluruh personilnya masih eksis di dunia musik Indonesia. Sebutlah satu per satu, pendengar musik Indonesia masih mengenal mereka. Mereka masih ada dan bergerak di dunia industri musik, baik tetap sebagai pemusik, sebagai komentator maupun pemilik sekolah musik.

Donny Suhendra: sampai saat ini, Donny, sang gitaris, masih mengisi banyak album penyanyi-penyanyi Indonesia sebagai session player dan sesekali membuat group untuk mengisi acara-acara perhelatan jazz. Syaharani merupakan salah satu penyanyi yang mempercayakan albumnya dihiasi petikan gitar Donny Suhendra.
Dwiki Dharmawan: Selain memiliki sekolah musik Farabi di Jakarta, Dwiki masih aktif di dunia musik dengan memperkenalkan musik etnik Indonesia ke seluruh dunia. Dia terus melanglang dunia bersama Pra B Dharma memainkan musik Krakatau yang bergenre ethno-kontemporer.
Gilang Ramadhan: memiliki sekolah musik GRSB (Gilang Ramadhan Studio Band) bersama Pra B Dharma dan aktif menyatukan para drummer Indonesia dalam wadah Indonesian Drummer. Masih aktif juga bermain musik. Boleh dibilang, Gilang adalah “kakek” para drummer muda sekarang. Muridnya yang bernama Gerry Herb (drummer Alv, Kin, Premix dan juga memperkuat Yovie & Nuno sebagai additional drummer serta Krakatau) telah memiliki murid bernama Alsa, drummer cewek, yang juga sekarang aktif di dunia musik. Sebut saja Hendy GIGI, Posam (ex Kotak), Konde Samson, Adri Nidji. Mereka semua adalah murid Gilang Ramadhan.
Indra Lesmana: siapa yang tak kenal musisi yang satu ini? Entah berapa banyak karya yang sudah ia hasilkan. Sampai sekarang, Indra masih aktif bermusik. Bersama musisi-musisi muda, dia menjadi orang yang memberi dukungan bagi mereka untuk berkarya. Dia memiliki lounge yang aktif menjadi wadah bagi musisi mementaskan musik-musik jazz.
Pra B Dharma: bersama Dwiki Dharmawan, dia tetap menjaga eksistensi Krakatau. Di tahun 1988, Pra menjadi produser musik Sunda di Bandung. Dia juga menulis buku-buku musik yang diterbitkan Gramedia. Dari tahun 1992 sampai 2004, dia menjadi prinsipal program musik kontemporer di sekolah musik Farabi milik Dwiki Dharmawan. Menghitung pemain bass fretless di Indonesia tak membutuhkan lebih dari dua tangan dan Pra B Dharma adalah salah satunya.
Trie Utami: Saat ini, kegiatan menyanyi Trie Utami tidaklah seaktif dulu. Tapi, dia tetap saja memiliki popularitas yang tak surut. Menjadi juri untuk acara pencarian bakat, juri lomba vocal group, menulis dan seabrek kegiatan kesenian lain masih dijalaninya. Suaranya yang tak berubah dan orang masih merindukan penampilannya yang stabil.

Jadi, tidaklah mengherankan jika Krakatau adalah sebuah group yang meskipun tak lagi berisi enam orang itu, orang selalu mengingatnya. Brandingnya begitu kuat, meksipun – dengan formasi 6 orang tersebut – hanya menghasilkan empat album. Lagu-lagunya hidup bagi pendengar musik Indonesia.

KARYA KRAKATAU
Berbicara tentang Krakatau artinya berbicara tentang karya mereka dengan formasi enam orang tersebut dan Krakatau dengan genre ethno-kontemporer. Album-album dengan formasi berenam (formasi industri atau fusion jazz) adalah First Album (1987), Second Album (1988), Top Hits Single (1989) dan Kembali Satu (1990) serta Let There Be Life (1992). Setelah Let There Be Life, mereka mengubah jenis musik yang mereka mainkan dan menghasilkan karya Mystical Mist (1994), Magical Match (2000), dan di tahun 2006 mereka merilis dua album sekaligus, Two Worlds dan Rhythm of Reformation.

First Album – 1987
cover krakatau album 1 crop res wm2Album ini dirilis 1987 dengan hits Gemilang (ciptaan Dwiki Dharmawan dan Mira Lesmana) yang sampai sekarang masih sering terdengar. Lagu ini pernah menjadi theme song acara pencarian bakat Dream Band yang diadakan oleh Majalah Hai di pertengahan tahun 2000. Kemudian, Andien membawakannya dengan aransemen yang berbeda di albumnya Kirana (2010). Album ini memiliki dua versi. Versi pertama, tulisan KRAKATAU pada cover samping dan belakang kaset berwarna hitam dengan susunan lagu pada side A adalah Kemelut, Imaji, Haiti, Gemilang, Dirimu Kasih dan Miles sementara versi kedua, tulisan KRAKATAU semuanya merah dengan susunan Gemilang, Kemelut, Haiti, Imaji, Dirimu Kasih dan Miles. Cover versi kedua ini juga bertuliskan “The Famous Jazz Group” yang ketika dirilis Krakatau sudah terkenal. Album ini berisi 10 komposisi dimana lima komposisi diisi oleh vocal (Gemilang, Kemelut, Imaji, Dirimu Kasih, Winter Grays) dan lainnya komposisi instrumental (Haiti, Miles, Pelican, Kite To Fly, Senja, Passport). Pengubahan susunan lagu pada kaset tak pelak merupakan revisi karena Gemilang menjadi hits di radio-radio. Lagu-lagu lain pun juga selalu diputar di radio-radio, sementara komposisi instrumental sering digunakan sebagai backsound acara radio.

Second Album – 1988
1988 - Second Album wm res

Dirilis di tahun 1988, album ini berisi 10 komposisi dengan hanya 2 komposisi instrumental (Ananta & Peterpan). Larisnya album pertama serta popularitas mereka yang meningkat tak membuat mereka punya daya tawar. Produser – sebagai kapitalis yang selalu punya hak penuh dalam menentukan penjualan – membuat Krakatau tetap harus mau kompromi menuruti apa kata produser dengan lebih banyak memasukkan komposisi berisi vocal. Namun, album ini tetap saja mencentak hits dengan lagu-lagu La Samba Primadona, Mega Pagi, Cita Pasti, Ironis, Sayap-sayap Beku, Somewhere In Silence, Tiada Abadi dan Dunia. Album ini tetap memiliki sisi positif dan mengangkat nama Krakatau karena pendengar musik Indonesia memang lebih akrab dengan komposisi berisi vocal.

Top Hits Single dan Kembali Satu – 1989 & 1990
cover krakatau top hits kembali satu crop resPenggarapan album Top Hits Single dan Kembali Satu sebenarnya terjadi pada saat yang sama. Label merilis Top Hits Single sebagai mini album terlebih dahulu (1989) sebagai tes pasar. Berisi empat lagu: Kau Datang, Feels Like Forever, Rasa dan Treasures di sisi A dan di sisi B, keempat lagu itu dikemas menjadi minus-one. Setelah diluncurkan, ternyata album ini laku keras dan dicetak berulang kali dan tanpa terasa, album ini sudah berada di pasar selama setahun. Pihak Krakatau mendesak label untuk merilis full album yang telah mereka buat sehingga muncullah album Kembali Satu di tahun 1990. Tanpa butuh promosi, album Kembali Satu laku keras karena terbantu oleh popularitas Top Hits Single. Album ini berisi sepuluh lagu, tanpa ada komposisi instrumental.  Lagu-lagu Kembali Satu, No Easy Streets, Suasana, Seraut Wajah, Feels Like Forever, Perjalanan, Kau Datang, Rain, Save The Whales dan Teman menjadi lagu jazz yang terlalu ringan dan boleh dibilang mengarah ke pop. Yang menarik dari album ini adalah lagu Save The Whales yang bertema lingkungan. Lagu ini memicu Krakatau untuk menciptakan karya bertema lingkungan pada album berikutnya, Let There Be Life (1992).

Let There Be Life – 1992
1992 - Let There Be Life wmSetelah album Kembali Satu, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan dan Indra Lesmana memutuskan keluar. Sangat disayangkan karena formasi Krakatau berenam tadi sudah memiliki penggemar dan popularitas di kancah musik Indonesia. Tapi, dalam sebuah group, pergantian personil adalah hal jamak. Krakatau masih ada dan mereka kemudian menghasilkan karya Let There Be Life (1992). Di album ini, Budhy Haryono yang di formasi awal merupakan founding father kembali ke “rumah”. Album ini termasuk album yang prosesnya paling lama dan secara financial tidak menghasilkan profit. Namun, album yang bertemakan lingkungan dan hubungan manusia ini menjadi album Krakatau favorit bagi Dwiki, Pra dan Trie Utami. Lagu yang menjadi hits di album ini adalah Sekitar Kita. Lagu-lagu lain di album ini adalah Let There Be Life, Satu Kembali, Untuk Sesama Kita, If Heaven Is Like This, Love Will Stand, Damai Yang Hilang dan Ternyata. Dan, mulai di album ini, Krakatau tak lagi menampilkan foto personilnya sebagai cover album. Cover album ini hanyalah sebuah mata yang jika diperhatikan dengan seksama, mata itu adalah milik Dwiki Dharmawan.

Album Kompilasi
cover krakatau album best crop
Sudah menjadi kebiasaan di Indonesia, pihak label memanfaatkan pasar yang sedang menggemari sebuah group atau artis dengan merilis album kompilasi Best Of atau Terbaik atau apalah namanya. Sayangnya, kompilasi sejenis ini tak jarang dilakukan tanpa sepengetahuan pihak artis atau group. Krakatau pun tak luput dari “tindakan” ini. Sejauh yang saya miliki, ada tiga album kompilasi Best Of/Terbaik Krakatau. Yang mengherankan, meskipun selama menghasilkan album Krakatau berada di bawah label Bulletin, ada album kompilasi 20 Lagu Terbaik yang diproduksi oleh label Blackboard. Entah bagaimana ceritanya? Bulletin sendiri merilis dua album The Best Of vol 1 yang menggunakan cover Second Album yang dimodifikasi sedikit dan 20 Private Collection yang covernya diambilkan dari cover lirik Second Album. Dan, yang lebih mengejutkan, di kedua album kompilasi terbitan Bulletin ini, ada lagu-lagu yang tak ada di album resmi atau istilahnya unreleased. Di album The Best of vol 1, ada tiga lagu unreleased: Sometimes, Only Dreams dan Suspicious. Di lagu Sometimes dan Suspicious terdapat lantunan suara Gilang Ramadhan. Di album 20 Private Collection, terdapat satu lagu unreleased berjudul Kawan menurut informasi yang saya dapat, lagu itu ciptaan Krakatau bersama Irianti Erningpraja.

Album-album Genre Ethno-Contemporer
cover krakatau album ethnic crop
Setelah memutuskan untuk mengubah jenis musiknya, Krakatau menghasilkan empat album bergenre ethno-contemporer: Mystical Mist (1994), Magical Match (2000), Two Worlds dan Rhythm of Reformation (2006).

Saya yang sejak awal menggemari Krakatau termasuk orang yang “memprotes” penggantian genre ini dan tak lagi mendengarkan musik mereka yang menurut saya berat untuk dinikmati. Namun, di balik “protes” saya, acungan jempol perlu diberikan karena apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah global thinking. Dengan bermetamorphosa menjadi genre yang baru, Krakatau tak hanya berpikir tentang musik nasional. Lewat musiknya, Krakatau justru membawa Indonesia ke tingkat dunia. Dengan musik yang mereka mainkan, mereka menjadi duta kementrian Budpar (Budaya & Pariwisata) dan mempromosikan musik Indonesia di level dunia.

Pada album Mystical Mist yang diproduksi oleh Krakatau Prod dan didistribusikan oleh Aquarius Musikindo, personil Krakatau adalah Adhe Rudyana pada kendang Sunda, Budhy Haryono pada drum, perkusi dan kendang, Dwiki Dharmawan pada keyboard, Pra B Dharma pada bass, Trie Utami pada vocal dan Yoyon Dharsono pada rebab, terompet, suling, saron, boning, karinding.
Album Magical Match diproduksi oleh Kita Production dan didistribusikan oleh Musica. Personil pada album ini sama dengan album Mystical Mist. Album Magical Match merupakan album terakhir Trie Utami bersama Krakatau.
Setelah itu, mereka merilis album 2 World dan Rhythm of Reformation pada tahun yang sama. Di kedua album ini, Krakatau diperkuat oleh Adhe Rudyana pada kendang & perkusi; Dwiki Dharmawan pada keyboard; Gerry Herb pada drums; Pra B.Dharma pada slendro fretless bass; Ubiet pada vocal; Yoyon Dharsono pada rebab, suling, tarompet dan Zainal Arifin pada gamelan dan perkusi. Di album 2 World mereka diperkuat beberapa musisi tambahan.

BERSATU, BERPISAH dan KEMBALI SATU
Para fans Krakatau melihat group dengan formasi berenam itu sebagai sebuah group yang solid. Karya mereka hebat dan melekat. Tapi, ternyata formasi itu tak bertahan. Perginya Donny Suhendra, Gilang Ramadhan dan Indra Lesmana sampai akhirnya Trie Utami dari Krakatau banyak disayangkan dan dipertanyakan para penggemarnya. Praktis setelah perginya Donny, Gilang dan Indra, Krakatau berubah dan pendengarnya tak lagi mengikuti musiknya yang tidak friendly. Perginya mereka lalu dikaitkan dengan perpecahan dan bumbu-bumbu cerita lain yang tak sedap. Benarkah demikian?

Dalam sebuah group band, pergantian personil dianggap sudah biasa. Alasan klise dan klasik adalah ketidakcocokan visi bermusik. Apa yang terjadi di Krakatau? Yang perlu dilihat secara obyektif adalah kondisi saat itu. Pada saat mereka aktif dan produktif, mereka masih berusia muda, masih darah muda. Adalah hal wajar darah muda sangat rentan terhadap perselisihan karena mempertahankan pendapat masing-masing. Mereka masih dibungkus idealisme yang tebal dan terlalu bijak untuk bisa menghargai pendapat pihak lain. Kira-kira demikian. Dan ketika itu terjadi, tentu dibutuhkan seorang yang bisa menjadi panutan dan pengengah untuk mengembalikan gerbong kereta yang sedang oleng kembali ke rel kedamaian yang bisa membawa mereka pada satu tujuan yang baik. Itulah yang tak mereka miliki saat itu.

Mereka vakum. Pra B Dharma bekerja di Bandung, Dwiki berada di Brunei, Trie Utami berada di kota lain. Sementara itu masing-masing personil memiliki hak dasar untuk mencari kehidupan yang layak. Sambil menunggu masa vakum, para insan kreatif yang tak bisa diam itu berpikir untuk mencari sesuatu yang lain. Faktor vakum itulah yang pada akhirnya membuat Krakatau (saat itu) ditinggalkan Donny, Gilang dan Indra yang bersatu membuat group Adegan bersama Mates (bassist Bhaskara) dan Harry Moekti sebagai vokalis. Adegan lahir bagaikan meteor. Mereka memiliki hits Satu Kata di album kedua (Selangkah Di Depan, 1992) sampai album ketiga (Waktu Berjalan, 1994).

Keluarnya Donny, Gilang dan Indra dan diikuti Trie Utami tidaklah memutuskan tali persahabatan mereka. Di luar Krakatau, mereka masih berhubungan baik. Sebagai sahabat atau bahkan saudara. Sebenarnya, ketika mereka masih aktif, mereka tanpa dirancang bersama telah memiliki “visi” bahwa jika saja group ini bubar, suatu saat akan kembali satu. Dan, ternyata “visi” itu benar-benar merupakan “penerawangan” ampuh. Kini, mereka bersiap untuk kembali satu seperti lagu mereka di album mereka terakhir dalam formasi berenam.

Ku ikuti angin jaman berlalu
Ke masa silam terbayang pilu
Ketika sinar meredup k’labu

Sisa-sisa wajah menanam semu
Di lubuk hati menggenggam rindu
Akan cita-cita yang dulu layu

Ku berlari bebas menembus waktu
Tinggalkan hati tiada menentu
Ku dambakan s’lalu masa depanku
‘Kan pasti kembali satu

Kini penuh harap tak akan ragu
Sejak terbuka hari baru
Bulat tekad hati untuk melaju

Saya ingin mengutip pengamatan Dion Momongan, wartawan musik yang punya spesialisasi mengulas musik jazz. Menurutnya, “Krakatau itu maha dahsyat! Dia memiliki garis kapan harus meletus dan mengguncang.” Mungkin inilah makna penamaan Krakatau. Sebentar lagi, pendengar musik Indonesia dan penggemar Krakatau akan bisa menikmati letusan dan guncangannya di musik Indonesia.

Selamat datang kembali Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan, Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Pra B Dharma dan Trie Utami di dunia musik Indonesia. Rasanya tak sabar menunggu kalian berada di panggung dalam situasi yang berbeda. Dulu saya hanya penggemar yang hanya bisa menikmati karya kalian lewat pemutar kaset atau paling banter menonton kalian di panggung show tapi tak bisa menyentuh kalian, kini kita adalah kawan dan kita bisa bersama menyanyikan lagu unreleased Kawan

Resah hati kian menjelma
Cinta hanya mimpi semata
Dunia seakan tak mau berputar lagi…

Di antara mentari tinggi
Ku berjalan sendiri lagi
Seperti biasa sepi yang kurasa
Ooooooo………

Tiba-tiba saja
Kau ada di depanku
Mengajak tertawa
Sambil berjabat tangan…

Tak terasa semakin dekat
Tak terasa semakin indah
Selalu bersama
Berbagi cerita…
Kawan……

Suasana hati ini
Ceria lagi
Lepas lepas kawan
Duka di dalam diri
Suasana hati kini
Ceria lagi
Bersamamu kawan melangkah pasti

Terima kasih pada Doel yang telah mengirimi kliping Krakatau pada saya sehingga bisa melengkapi tulisan ini. Juga kepada semua anggota Krakatau formasi berenam. Karena kalian-lah saya belajar mendengarkan musik jazz.

Tj Singo
Krakatau Freak

Krakatau & me

Krakatau & me

Advertisements

8 thoughts on “Krakatau – Tetap Gemilang

  1. Pingback: Konser Krakatau Reunion: Gemilang | tattock

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s