Pra Pementasan Gundala Gawat by Teater Gandrik

Jika ada pentas teater yang saya tunggu, itu adalah pentas Teater Gandrik. Sejak lakon Upeti (1989), saya rutin menonton pertunjukan mereka. Alasan utama saya menggemari Teater Gandrik adalah teater yang “tidak serius”. Tidak serius bukanlah sebuah pertunjukan tanpa pakem, melainkan “keluar” dari pertunjukan teater yang umumnya serius dan buat saya malah bikin stress. Mau cari hiburan koq malah stress?

Dalam pementasan lakon-lakonnya, Gandrik selalu menyajikan kritik sosial dan kelucuan-kelucuan yang bukan disajikan dengan mengeksploitasi kekurangan fisik pemainnya sebagaimana banyak orang menggemari pertunjukan lawak dimana salah satu pemainnya dijadikan “sansak” untuk dihina habis-habisan. Itu bukanlah lawak yang cerdas. Gandrik menyajikan lakon yang disisipi lawakan cerdas. Ungkapan-ungkapan yang keluar dari cocot (mulut) pelakonnya membuat kita berpikir celotehannya mengarah kemana atau kepada personifikasi tokoh siapa. Dan, ketika sudah menangkap sindiran itu kemana atau kepada siapa, meledaklah tawa itu. Puas! Karena, kadang yang disuarakan di panggung mewakili kejengkelan kita terhadap situasi yang sedang terjadi tapi kita tak dapat berbuat banyak. Gandrik seolah menjadi wakil kita lewat cocotnya. Selain itu, Gandrik selalu menggunakan kebijakan lokal (bahasa Jawa sehari-hari) dalam dialog lakon-lakonnya. Sangat akrab dan nyaman buat saya bisa menikmati ungkapan bahasa Jawa yang tepat untuk sebuah celetukan yang tak bisa diterjemahkan secara tepat ke bahasa lain (Indonesia).

Inilah yang akan muncul di lakon Gundala Gawat yang rencananya dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), 16 & 17 April 2013 serta di TIM Jakarta sepuluh hari kemudian.

Mengapa Gundala Gawat? Gundala adalah tokoh superhero lokal ciptaan Hasmi. Tokoh ini muncul di komik pada tahun 70an. Saat itu, komik lokal merajai (taman) bacaan. Bersama Godam, Pangeran Mlaar, Aquanus, Jin Kartubi, Sembrani dan lain-lain mereka membasmi kejahatan di bumi nusantara. Para superhero itu membantu tugas polisi dalam menghabisi para penjahat. Lega rasanya ketika mereka berhasil menumpas kejahatan. Berlanjut pada kisah-kisah yang lain. Terus dan terus, para superhero itu muncul dalam lakon-lakon menumpas kejahatan dan berhasil meskipun kadang harus jatuh bangun dalam menumpas kejahatan. Itulah gambaran manusia tak sempurna. Tak selalu digdaya tanpa cacat.

Akankah Gundala dalam lakon Gundala Gawat yang akan dipentaskan oleh Teater Gandrik, yang selalu bikin kangen, juga digdaya sebagaimana di lakon-lakon komik 40 tahun yang lalu? Inilah yang menarik untuk disimak. Teater Gandrik yang selalu menangkap situasi yang sedang terjadi di negara ini menjadi lakon pentasnya akan menghadirkan Gundala, sang superhero lokal, dalam konteks apa yang sedang terjadi saat ini.

Lakon Gundala Gawat memotret situasi politik di negara ini dimana saat ini penegakan hukum seperti kerupuk yang dibiarkan berada di meja makan terhembus angin. Tak lagi gurih dan enak dinikmati. Seorang Gundala yang dulunya begitu digdaya ikut menegakkan hukum pun menjadi impoten karena dia dikelilingi konspirasi yang merata di semua lini demi menutup aib (kejahatan) yang dilakukan para kriminal.

Naskah Gundala Gawat ditulis oleh Goenawan Muhamad (GM), mantan pemred majalah mingguan Tempo. Ide ini muncul dalam sebuah percakapan ringan bersama sahabatnya, Butet Kartaredjasa yang juga pentolan Teater Gandrik. Kejadian ini terjadi kira-kira tahun lalu. Biasa lah, kalau dua sahabat asik ngobrol, pasti obrolannya bisa saja “ngrasani” kondisi negara yang semakin lama semakin memprihatinkan dan gak jelas bahkan menjadi “auto pilot”. Butet pun menantang GM untuk berbuat sesuatu yang bisa menjadi hiburan, karya seni dan sebuah refleksi untuk kita semua.

GM sudah menyelesaikan naskah. Tapi, sebagaimana kebiasaan Gandrik, naskah bukanlah harga mati yang tak bisa ditawar. Dalam proses menuju sebuah sajian siap saji, Gandrik punya kebiasaan “ngudal-udal” (bongkar pasang) demi sebuah adaptasi yang berciri “Gandrik” banget. Di sinilah kelebihan Gandrik. Naskah berproses di latihan-latihan pementasan mereka sampai nantinya menjadi sajian “mak nyuss”, menjadi sebuah lakon yang Gandrik. Inilah yang menarik buat saya ketika menonton lakon Teater Gandrik. Siapapun penulis naskahnya, yang saya makan adalah seporsi makanan bernama Teater Gandrik. Mengikuti aturan dramaturgi, cerita, lakon, tapi ada bumbu-bumbu penyedap yang bernama dagelan cerdas dan sindiran-sindiran yang mengingatkan kita apa yang sebenarnya sedang tidak beres dalam kehidupan (negara) kita.

Lalu, sejauh apa Gandrik ngudal-udal naskah dan menjadi lakon yang sangat layak ditonton? Saya tak bisa melanjutkan tulisan ini. Mending sekarang pesan karcis dan nonton pada hari H…… sambil berharap disambar petir Gundala agar sadar budaya dan menjadi bijak.

Tj Singo
Penggemar Teater Gandrik

Advertisements

One thought on “Pra Pementasan Gundala Gawat by Teater Gandrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s