Ketika Fans Adalah Sebuah “Magic”

Saya tak menemukan padanan kata “magic” dalam bahasa Indonesia untuk ungkapan “Fans are magic”. Dikatakan ajaib gak pas. Dikatakan luar biasa juga gak persis seperti itu. Ah sudahlah, intinya, fans adalah sebuah kekuatan yang tak pernah bisa dirumuskan dan tak ternilai harganya. Fans memang memiliki hubungan dengan idolanya dan hubungan ini sangatlah mutualis, tak bisa dirumuskan secara tepat dan tak ada harga yang bisa dibeli di sana.

Tak heran, sebuah artis, group band pada khususnya, bisa menjadi besar karena kehadiran fans-nya. Bagi sebuah band besar yang sudah berkarir bertahun-tahun dan menjadi band idola, kehadiran fans memang tak diragukan bisa memberi mereka sebuah energi dan semangat. Hal ini begitu terasa ketika band itu sedang mengalami keretakan, kevakuman dan masalah lain yang menjadikan band itu seperti hidup segan mati tak mau.

Padi wm res

Dan, fans are magic ini benar-benar dirasakan oleh anggota band Padi yang sudah tiga tahun ini mengalami kevakuman. Di tahun 2010, Padi manggung di Yogyakarta di acara yang diadakan oleh stasiun televisi. Itulah pertemuan pertama saya dengan Padi. Sejak itu, tak ada lagi kegiatan dari band yang namanya berkibar di tahun 2000 awal sampai pertengahan. Mereka sempat merilis sebuah single Terbakar Cemburu namun ternyata tak berlanjut menjadi album. Mereka memutuskan vakum.

Setelah memutuskan vakum, sang drummer, Yoyo, harus berhadapan dengan pihak yang berwajib karena kasus obat terlarang. Sebagai sebuah band yang pada masa jayanya terkenal solid, seluruh anggota Padi mengunjungi Yoyo. Praktis setelah itu, kegiatan mereka benar-benar tak ada. Tak ada lagi publikasi kegiatan mereka. Kemudian Piyu mulai dengan proyek pribadinya. Dalam sebuah group, proyek sampingan personil band bukanlah hal haram.

Selepas Yoyo bebas dari hukuman penjara, tak ada tanda-tanda Padi akan bersama lagi sampai akhirnya Ari, Fadly, Rindra dan Yoyo memutuskan membuat group Musikimia dengan menambahkan Stephan Santoso yang sering membantu proses album-album Padi. Ari sang gitaris tidak aktif sebagai personil band melainkan menjadi manager Musikimia.

Apakah Padi bubar? Tidak! Tak pernah ada kata bubar dari seluruh personil Padi. Piyu mengerjakan proyek pribadinya, sementara empat anggota lainnya sudah mulai bermusik lagi dengan Musikimia. Mereka seperti berjalan sendiri-sendiri. Mungkin memang waktu belum berpihak kepada mereka untuk berjalan bersama lagi.

Kejadian jalan sendiri-sendiri inilah yang akhirnya bisa menghadirkan istilah “fans are magic”. Para Sobat Padi (fans Padi) pasti tak rela group itu bubar. Group dengan karya-karya bagus dan meninggalkan banyak kenangan pada fans nya layak untuk dipertahankan. Tak bisa diingkari, Padi telah menorehkan karya-karya yang tak terlupakan seperti Sobat, Kasih Tak Sampai, Perjalanan Ini, Begitu Indah, Sesuatu Yang Indah, Mahadewi, Semua Tak Sama, Kasih Tak Sampai, Menanti Sebuah Jawaban dan masih banyak lagi. Sobat Padi merindukan mereka berlima ada di panggung dan menjadi bagian dari dunia musik Indonesia.

Lahirnya Musikimia diikuti oleh Sobat Padi yang menjelma menjadi Senyawa (fans Musikimia). Single mereka Apakah Harus Seperti Ini tak ubahnya lagu baru Padi buat mereka. Namun, Sobat Padi tetaplah menginginkan Padi seperti dulu. Mereka tetap setia menunggu Padi yang utuh, yang siap menjadi makanan pokok mereka dan membuat mereka hidup.

Kembali ke masa kevakuman, Sobat Padi membuat komunitas di era media sosial ini. Mereka yang sebelumnya berkomunikasi via mailing list, menggunakan kekuatan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Mereka melakukan gathering, membuat acara Jambore Sobat Padi. Tahun lalu (2012), mereka melaksanakan Jambore Sobat Padi yang pertama di Situ Gintung, Jakarta. Mereka berupaya menghadirkan kelima personil Padi. Pada waktu itu, keempat personil hadir bersama sementara Piyu hadir tidak dalam waktu bersamaan, selisih beberapa jam sehingga keinginan Sobat Padi untuk menyaksikan idola mereka bertemu menjadi “sesuatu yang tertunda”.

Dan, hari ini, 28 April 2013, Yogyakarta menjadi tempat Jambore Sobat Padi yang kedua. Inilah hari yang ditunggu-tunggu para Sobat Padi dimana mereka bisa menyaksikan kelima idola mereka bersatu, meniup lilin ulang tahun yang diperingati tiap tanggal 8 April. Bertempat di Boshe VVIP Club, untuk kali pertama setelah 2010, Padi berada di satu panggung, memainkan lima lagu yang menciptakan suasana haru dan sentimentil.

Suasana haru itu sebenarnya sudah tercipta sejak di ruang artis ketika Ari, Fadly, Rindra dan Yoyo menunggu kedatangan Piyu yang masih dalam perjalanan menuju venue setelah melakukan aktivitasnya sebagai brand ambassador sebuah produk jamu di luar kota Yogya. Yoyo yang tertidur di sofa sempit di ujung ruang artis sambil mendengkur dibangunkan Rindra. Beberapa saat setelah itu, Piyu muncul di ruang artis. Tiga tahun yang lalu merupakan saat terakhir mereka bertemu berlima ketika mengunjungi Yoyo di markas kepolisian. Dan sore ini, mereka berpelukan, penuh haru, saling melepas rindu dan mulai bercanda ala dengan dialek Jawatimuran yang kental. Bisa dibayangkan, sebuah band sebesar Padi, terpisah selama tiga tahun, hampir tak pernah berkomunikasi, dan sore itu mereka berada di ruang berukuran 3 X 3 meter melepas rindu, kembali bersatu.

Tak pelak lagi, beberapa kamera mengarahkan lensa mereka kepada kelima orang ini dan lampu blitz bersahutan menyemburkan cahaya kilatnya. Setelah itu, mereka pun menuju ke panggung dimana Sobat Padi sudah menunggu dengan penuh rindu dan haru. Acara dimulai dengan sajian kue tart ulang tahun yang mereka tiup bersama dan semua yang hadir menyanyikan lagu wajib Selamat Ulang Tahun. Di panggung itu, mereka bergantian memberikan sambutan pendek. Tanpa skenario, mereka semua memuji Sobat Padi yang secara swa-sembada bisa membuat acara ini. Acara ini murni inisiatif Sobat Padi dan menjadi acara yang sangat membanggakan sekaligus mengharukan. Kelima personil Padi sepakat, adalah kekuatan fans mereka yang bisa membuat mereka berada di panggung ini. Mereka berkaca-kaca, begitu pula para Sobat Padi. Mereka mendapat kenang-kenangan khas Yogya, blangkon. Mereka semua mengenakannya, identitas Yogyakarta pun menyemat di kepala Ari, Fadly, Piyu, Rindra dan Yoyo.

Padi 02 ps crop 2 res

Mereka bernyanyi tanpa playlist terencana. Fadly sebagai vokalis menanyakan mereka menginginkan lagu pembuka apa. Serempak mereka menjawab Perjalanan Ini, lagu dari album Sesuatu Yang Tertunda (2001). Disusul lagu Begitu Indah dari album Lain Dunia (1999), Sesuatu Yang Indah dan Kasih Tak Sampai dari album Sesuatu Yang Tertunda dan ditutup dengan lagu Sobat dari album kompilasi Indie Ten (1998) dan Lain Dunia. Konser kecil ini sungguh terasa akrab, sentimentil dan mengharukan. Pada saat lagu Kasih Tak Sampai, beberapa kali Fadly tak mampu melanjutkan menyanyi dan menyodorkan microphone pada Sobat Padi. Matanya berkaca-kaca, suaranya tertahan, sesekali terlihat menyeka matanya yang berisi air mata keharuan. Piyu yang selama ini saya kenal sebagai orang yang tegar pun tertangkap oleh kamera saya dengan mata berkaca-kaca. Lagu ini memang selalu bikin merinding, dan beberapa Sobat Padi pun terlihat meneteskan air mata pada lagu ini.

Konser ini memang bukan konser yang lazim. Di tengah suasana konser, Piyu beberapa kali mengeluarkan telepon pintarnya, mengambil beberapa foto. Begitu pula Fadly. Mereka nampaknya tak ingin kehilangan momen ini. Aksi mereka menjadi sah, ditambah Sobat Padi yang juga terus menyorotkan kamera dan telepon pintar mereka untuk mengambil gambar dari momen yang belum tentu bisa terjadi lagi. Saya pun tak lagi mengindahkan teknis fotografi untuk mengambil gambar. Tak ada waktu untuk mengatur kecepatan dan rana. Momen ini begitu mahal untuk dilewatkan. Seleksi foto bisa dilakukan nantinya.

Berkali-kali Fadly mengucapkan terima kasih dan apresiasinya kepada Sobat Padi. Buatnya, Sobat Padi adalah energi dan semangat. Personil Padi yang lain pun sepakat. Inilah kekuatan magis buat mereka berlima. Lima lagu yang mereka persembahkan tanpa direncanakan seolah melambangkan lima personil Padi. Tanpa lagu tambahan, konser kecil ini harus diakhiri karena semua personil harus menuju ke bandara. Tak ada sesi foto bersama namun mereka tak menolak ketika diajak berfoto sendiri-sendiri.

Seusai menyajikan lima lagu tanpa bayaran, mereka menuju ke ruang ganti. Piyu yang masih melayani wawancara dengan wartawan sempat mengatakan bahwa peristiwa bisa menyenangkan orang lain (Sobat Padi) merupakan berkah. Kejadian hari ini seperti menjadi waktu yang tak direncanakan tapi membawa kebaikan. Seperti sebuah kebetulan yang menjadikan semuanya baik adanya. Dalam bahasa kitab suci kaum Nasrani, “Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya”.

Sementara itu, di luar gedung, Sobat Padi yang datang dari Makasar, Menado, Jakarta, Surabaya, Solo, Purwokerto, Bandung dan kota-kota lain masih menunggu personil Padi. Mereka bak idola yang sedang berada di masa jayanya. Dielu-elukan fans nya. Mereka tak rela waktu membatasi setelah ikut hanyut dalam tangis rindu dan haru mendengarkan dan menonton pujaan mereka dalam sebuah event kecil hasil inisiatif mereka.

Inilah contoh ungkapan “fans are magic”…. kekuatan fans yang bisa memberikan energi untuk menyatukan sebuah band yang vakum untuk kembali menjadi sebuah kekuatan utuh sambil semua pecintanya menyanyikan…..

tetaplah menjadi bintang di langit

agar cinta kita akan abadi

biarlah sinarmu tetap menyinari

alam ini

agar menjadi saksi cinta kita

berdua….berdua……

Tj Singo

Penikmat Musik Indonesia

Advertisements

16 thoughts on “Ketika Fans Adalah Sebuah “Magic”

  1. Terima kasih sudah membagi cerita ini, walau batal datang karena suatu hal, saya merasakan dan larut dalam kebahagiaan dan keharuan itu. Bravo panitia jambore sobat padi 2013 *cireumbay*.

  2. Merinding saya bacanya… andai saya ada di Jogja.. ah maksud saya, meski dimanapun itu selama di Indonesia mungkin saya akan datang. Salut untuk spiritnya! Tetaplah menjadi bintang di langit!

  3. terharu saya membacanya, dan karena ketidaktahuan saya ada acara #jamboresobatpadi ,saya gk bisa melihat secara langsung acaranya..tapi waktu @musikimia konser di Purawisata ,saya bisa hadir…meski tak bisa melihat mereka berlima (padi) ,semoga akhir tahun ini padi bisa merilis album baru..amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s