Kerispatih – An Unforgettable Meeting….

Singo & Kerispatih 2013
31 Januari 2013, saya berkomunikasi dengan Badai. Komunikasi itu berisi sounding Kerispatih akan manggung di Yogya. Alasan apa yang membuat saya tak gembira jika Kerispatih datang ke Yogya? Mereka sudah terlalu lama tak ke kota ini. Terakhir kami bertemu 30 April 2010 dimana saat itu mereka hanya berempat. Fandy sedang dalam proses audisi sebelum akhirnya bergabung dengan Kerispatih. Singkat kata, Kerispatih confirmed akan ke Yogya pada 2 Mei 2013. Maka, mulailah edisi menghitung hari.

Ketika idola akan datang, maka saya perlu memberi sambutan dan dukungan. Saya pun sangat antusias diajak siaran di I-radio Yogya dalam acara Review Album Idola, membahas album terbaru Kerispatih, Melekat Di Jiwa. Dan menurut penyiarnya, acara RAI saat itu adalah yang terbaik selama ini karena tak hanya penyiar yang bicara namun juga menghadirkan pihak ketiga (pengamat) dan musisi, interaksi telephone langsung dengan Badai di acara itu. Selengkapnya tentang acara itu, baca di sini.

Tak berhenti di sana, saya juga melakukan siaran di radio streaming Pamityang2an pada tanggal 29 April 2013, 3 hari sebelum mereka tiba di Yogya. Acara yang lagunya bisa didengarkan lewat streaming di website mereka dan interaksinya via akun Twitter @pamityang2an mendapat sambutan hangat karena tersedianya hadiah dari manajemen Kerispatih (Bagotz) dan pihak venue, Liquid Café.

Waktu yang ditunggu pun datang. Saya menemui mereka pada saat press con. Sedikit terlambat namun tak apalah. Sebuah kebetulan pula bahwa hari itu saya tak ada kewajiban melakukan pekerjaan rutin saya. Ini adalah pertemuan pertama dengan Kerispatih formasi saat ini. Ini adalah pertemuan pertama dengan sang vokalis, Fandy. Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah bertemu sang drummer, Anton di kota ini dan hanya berbicara beberapa menit. Dengan Badai, pertemuan terakhir terjadi tahun lalu (Mei 2012) ketika dia melakukan promo single ke radio-radio di Yogya. Pertemuan dengan Arief sang gitaris dan Dika sang bassist terakhir adalah tiga tahun lalu ketika mereka tampil di acara televisi swasta di Yogya.

Acara press con berlanjut ke wawancara tiga radio: Geronimo, I-radio dan Unisi. Saya mengikuti mereka sambil merekam semua catatan dan tertuang di sini. Pembicaraan tentang keprihatinan kondisi musik Indonesia, tentang album baru Melekat Di Jiwa, dan tentang interaksi antar mereka dalam sebuah rumah tangga yang bernama Kerispatih. Saya jadi tau mereka memanggil Fandy dengan sebutan “cak”. Fandy berasal dari Jawa Timur. Dia satu almamater SMA dengan saya tapi selisihnya sangat jauh. Ketika saya lulus dari SMA, Fandy baru lahir. Memang pantaslah Fandy memanggil saya dengan sebutan “om”.

Berada di tengah personil Kerispatih adalah sebuah kehangatan. Mereka apresiatif terhadap saya, seapresiatif saya terhadap karya-karya mereka yang cerita-cerita lagunya bisa menjadi cerita nyata bagi banyak pendengarnya. Banyak canda dan tawa selama berada di antara mereka yang tak bisa menyembunyikan rasa capek setelah penampilan mereka malam sebelumnya di kota Semarang dan berlanjut perjalanan darat ke Yogya. Di antara rasa capek itu, mereka tetap antusias menjalani wawancara di tiga radio karena mereka memang sudah kangen Yogya. Suasana akrab di antara personil Kerispatih tercipta selama hampir empat jam. Mereka saling mengejek dalam suasana sebuah kekompakan keluarga. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang pemuja seperti saya melihat apa yang mereka lakukan di depan saya.

Sebenarnya, masih ada satu radio yang hendak dikunjungi namun waktu menjadi alasan batalnya ke radio yang banyak memutar lagu-lagu mereka karena MD (music director) radio itu juga penggemar karya Kerispatih.

Setelah wawancara di radio ketiga, perjalanan berlanjut ke sebuah distro yang menjadi rekanan venue. Beberapa menit mereka berada di distro itu dan kami berpisah sementara karena mereka harus segera rehat demi mengumpulkan stamina untuk Konser 1 Dekade Kerispatih malam harinya. Bangun untuk menuju ke venue pun adalah sebuah perjuangan mengalahkan rasa capek mereka yang belum habis. Pesan yang saya kirim ke perangkat komunikasi mereka tak terbalas sampai akhirnya saya memutuskan menuju ke hotel. Saya masih sempat bertemu dan ngobrol sedikit beberapa menit sebelum mereka berangkat ke venue. Paling tidak, saya mendapatkan cerita latar belakang Konser 1 Dekade Kerispatih ini. Inilah event persembahan Kerispatih dalam rangka 10 tahun mereka berkarya di belantara musik Indonesia. Dari hotel, kami pun berangkat ke venue yang hanya butuh waktu 2 menit.

Selama beberapa jam bersama Kerispatih, satu hal yang membedakan dengan pertemuan terakhir dengan mereka adalah, mereka sekarang lebih narsis. Selama sekian jam itu, sebuah camera selalu mengabadikan setiap gerak-gerik semua personil Kerispatih. Mungkin gerakan dan wajah saya juga tertangkap oleh kamera yang dikendalikan oleh Mail.

Hari telah berganti. Tanggal tak lagi 2 Mei. Waktu telah menunjukkan seperdelapan dari tanggal 3 Mei. Saya tak kuasa menahan kantuk sementara beberapa personil Kerispatih masih ingin memenuhi kebutuhan perutnya. Kami berpisah secara fisik, tapi jiwa kami masih bisa bertemu lewat lagu-lagu mereka. Lagu-lagu yang bercerita tentang cinta dan kehidupan.

Terima kasih atas hari yang indah. A Cup of Tea kali ini lebih cocok disebut a set of early dinner or late lunch karena kami mengobrol sambil makan dan minum di studio radio Unisi. Minuman Indonesia dan masakan Cina sederhana dalam porsi diet yang cocok untuk semua personil Kerispatih, gak cocok buat saya.

Kerispatih makin Melekat Di Jiwa saya……..

Kerispatih 01 wm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s