Addie MS – A Man of Value

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.”
– Albert Einstein –

Singo & Addie MS
Kutipan di atas menjadi penutup pembicaraan antara mas Addie MS dan saya lewat tengah malam setelah mas Addie selesai menjadi guest conductor pada The World In Theatre GMCO yang dipentaskan di TBY (Taman Budaya Yogyakarta), 18 Mei 2013. Pembicaraan di sela makan malam yang terlambat setelah pilihan ditetapkan karena resto yang cukup kondusif tanpa hangar bingar musik pengiring sudah tutup sehingga mau tak mau mas Addie harus memilih resto berisi live music yang sebenarnya kurang pas untuk dia. Untungnya, live music itu segera usai dan mas Addie yang “starving to death” lebih bisa nikmat menyantap makan malam yang terlambat itu.

Sebenarnya, lepas tengah siang kami sudah bertemu di venue saat sesi sound check. Dari balik panggung saya melihat sosok yang wajahnya sangat familiar yang selama ini karya-karyanya (garapan musik maupun album) saya nikmati lewat album-album penyanyi Indonesia seperti Chrisye, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, sampai penyanyi baru seperti Bunga Citra Lestari dan beberapa album OST Dealova, Biola Tak Berdawai serta musik orkestrasi Twilite Orchestra yang banyak digunakan secara komersil – bahkan oleh stasiun televisi sebagai closing tune – tanpa pemberian apresiasi yang berbentuk performing rights.

Interaksi yang selama ini terjadi di dunia maya via media sosial Facebook dan Twitter telah menjadi pertemuan nyata. Bayangan saya sebelumnya tentang sebuah stereotip kaum 40+ yang berbadan melar ternyata salah ketika melihat mas Addie. Dia tak seperti yang saya bayangkan. Dia atletis untuk orang seumuran dia. Masih layak menjadi mahasiswa dengan wajah yang tak terlihat sebagaimana umurnya. Saya menunggu mas Addie selesai dengan latihannya. Dia tak tahan udara panas sementara pendingin ruangan tak dinyalakan. Tangannya berulang-ulang menjadi kipas pengusir udara yang tak bersahabat yang membuatnya bersimbah keringat dan baju bagian punggungnya basah.

Begitu bertemu muka, mas Addie pun langsung menyapa “piye kabare?” dengan hangat seolah kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Sapaannya menggugurkan kesan yang selama ini saya miliki. Sebelumnya saya berpikir mas Addie adalah orang yang serius. Dan, ternyata, dia “ancur” seperti yang dia katakan sendiri.

Sebelum kami ngobrol intense, beberapa (cenderung banyak) pemain orkestra meminta berfoto dengan mas Addie. Dia tak kalah laris dengan anaknya, Kevin Aprilio yang jadi pujaan cewek-cewek ABG masa kini. “Ritual” meminta tanda tangan di album-album yang melibatkan mas Addie pun dimulai. Sambil membubuhkan tanda tangan, kami tetap berbincang tentang musik Indonesia, mulai musik 80an sampai sekarang. Mulai peran sebagai penggarap musik sampai stempel yang melekat padanya sebagai “soulmate” Vina Panduwinata di karir musik mereka. Nama Addie memang tak bisa dipisahkan dari Vina Panduwinata di album-albumnya di awal-awal karirnya.

Mas Addie pun berinisiatif memotret semua cover album yang sudah ditandatanganinya. Ia mengunggahnya menjadi kicauan foto. Tak semua orang memiliki “passion” seperti yang mas Addie lakukan. Ada yang “jaim”, ada yang “malu” dengan masa lalu. Buat saya, “ketidaksungkanan” ini adalah sebuah kerendahan hati, salah satu ciri orang berjiwa besar.

Setelah itu, saya bertanya tentang nama Staff, group mas Addie bersama Ikang Fawzy, Raidy Noor, Mauly Gagola, Riza Noor, dan Cendy Luntungan di tahun 1982. Inilah satu-satunya group yang pernah ia buat dan hanya menghasilkan 1 album saja. Penamaan Staff terjadi tanpa rencana. Di studio rekaman, mereka melihat tulisan “Staff Only” dan itulah yang mereka ambil. Solusi sederhana? Pembicaraan terputus karena sesi sound check berlanjut. Saya pun pamit pulang.

Pembicaraan berlanjut malam hari setelah mas Addie selesai show. Saya menunggunya di lobby hotel kemudian berlanjut dengan cerita makan malam terlambat di awal tulisan ini. Dan, pembicaraan malam itu, sekali lagi, mematahkan kesan-kesan saya tentang mas Addie. Banyak cerita tersaji. Saya jadi tau tentang kerja sama musikalnya dengan dua idola saya, Vina Panduwinata dan Chrisye; pandangannya tentang politik dan hal-hal yang hangat terjadi di negara ini. Saya memang ingin tau pendapatnya karena sebagai pengikutnya di Twitter, sesekali saya membaca kicauannya yang ”usil” dalam menanggapi kicauan orang lian atau fenomena yang sedang hangat. Mungkin inilah yang dia sendiri sebut sebagai ”ancur” tadi.

Mas Addie juga bercerita tentang kedua anaknya, Kevin dan Tristan, terutama Kevin yang saat ini juga berkiprah di dunia musik. Dia begitu bersemangat bercerita tentang sang sulung yang membanggakannya dan membuat dia salut serta respect terhadap anaknya sendiri. Saya jadi lebih tau tentang Vierratale, group pimpinan Kevin serta perjalanan group itu. Cerita tentang istrinya, Memes, yang juga penyanyi pun saya dapatkan. Saya jadi tau bahwa mbak Memes masih memiliki passion besar dalam tarik suara di tengah menjalankan bisnisnya sekarang ini.

Dan, yang tak kalah menarik buat saya adalah pendapat dan sikapnya terhadap dunia musik Indonesia. Kesimpulan yang bisa saya tarik adalah banyak hal yang harus ditata jika musik Indonesia ingin lebih baik. Tatanan itu menjadi tidak gampang dilaksanakan karena dunia musik tak bisa dilepaskan dari sistem negara yang kita juga tau bagaimana rusak dan munafiknya. Dari mana bisa menata dunia musik Indonesia agar bisa menjadi lebih baik dan berguna serta memberikan jaminan kemapanan bagi para pelakunya (penyanyi, pencipta lagu, band) jika negara tak bisa menjadi sandaran dalam menegakkan aturan? Lembaga yang mengurusi karya cipta akhirnya hanya menjadi mesin uang tapi bukan untuk pemilik karya.

Maka, sikap ”jalani saja” menjadi prinsip yang dipegang mas Addie tanpa harus berpikir keras yang bisa menyebabkan botak dan mengurangi ketampanannya walau istrinya, Memes, takkan berpaling karena sudah ”Terlanjur Sayang”.

Itulah sebabnya, ia memfavoritkan kutipan Einstein di pembuka tulisan ini. Mas Addie memilih menjadi orang yang bernilai atau berguna bagi orang lain di sekitarnya. Datang ke Yogya, membagikan ilmu yang dimilikinya, menghibur orang lain, melayani permintaan foto bersama banyak orang dengan senyuman meskipun dia sendiri harus menahan panas dan lapar. Dan, menjadi orang yang bernilai bagi orang lain itulah yang akhirnya membawa dia menjadi orang sukses. Ukuran sukses memang relatif tapi paling tidak mas Addie telah sukses membuat banyak orang memberi nilai padanya. Nilai rendah hati, etos kerja dan sikap santun yang menurun ke anak-anaknya.

Pertemuan singkat yang sebenarnya tak cukup untuk menggali nilai-nilai yang dimiliki mas Addie. Tapi, saya beruntung bisa berbincang dengannya sambil nyruput wedang asem dan mas Addie sendiri mencoba minuman tolak angin racikan khas hotel tersebut. Terima kasih mas Addie atas perbincangan ini. Rubrik A Cup Of Tea ini harus diubah menjadi A Cup Of Tamarind & Tolak Angin…..

Advertisements

2 thoughts on “Addie MS – A Man of Value

  1. , James F Sundah, plus penata musik Addie M.S. Album yang mulai melambungkan nama Vina itu berisi lagu antara lain “September Ceria”, “Dunia yang Kudamba”, “Resah”, dan “Kasmaran”. Album ketiga Citra Ceria (1984) pun berhasil merengkuh simpati dengan lagu “Di Dadaku Ada Kamu”, “Duniaku Tersenyum”, dan “Di antara Kita”. Lewat albumnya Burung Camar (1985), namanya semakin mencuat. Lagunya dengan judul yang sama dalam album tersebut menjadi icon dirinya, dengan sebutan ‘Vina si Burung Camar’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s