Pesta Untuk Fans

Tak ada yang lebih membahagiakan fans sebuah group selain mendapatkan apresiasi dari band atau artis pujaannya. Inilah yang dialami oleh Jikustikan, fans Jikustik, di ulang tahun Jikustik ke-17. Di ulang tahun ke-16 Jikustik, Jikustikan yang berinisiatif mengadakan acara Liburan Bareng Jikustik di sebuah desa wisata. Mereka berbaur di desa itu, saling curhat tentang lagu-lagu Jikustik yang menjadi tema percintaan atau kehidupan para Jikustikan. Curhat sebagai teman, bukan sebagai fans dan artis, berurai air mata yang susah dibedakan apakah itu air mata bahagia atau sedih. Di tahun ini, giliran Jikustik yang membalas Jikustikan yang ”setia” mengiringi perjalanan mereka meskipun personil Jikustik telah berganti. Continue reading

Sweet Seventeen Jikustik

“Ask not what your country can do for you but what you can do for your country.” – John F. Kennedy

Itulah sebuah ungkapan lama dari seorang Presiden negara adidaya, Amerika. Ya, apa yang bisa saya berikan pada negara saya? Dalam skala kecil, pertanyaan ini saya tanyakan pada diri sendiri ketika berbicara tentang Jikustik, salah satu group band Indonesia yang saya cintai. Tahun ini, band ini berusia 17 tahun. Jika diibaratkan seorang gadis, band ini bagaikan bunga yang sedang mekar. Begitu kata Elvy Sukaesih dalam salah satu lagunya. Dan, di usia 17 tahun, biasanya ulang tahun seorang gadis dirayakan secara khusus. Orang-orang tercinta dan mencintainya memberikan hadiah untuknya. Begitu juga saya. Saya juga ingin memberikan hadiah untuk gadis yang sedang mekar itu. Meskipun hadiah itu hanyalah berupa tulisan tapi ……
tulisan dariku ini……
mencoba mengabadikan ……
mungkin akan kau lupakan ……
atau untuk dikenang

Saya pikir, ini adalah salah satu saat yang baik berbuat untuk Jikustik karena …..
kapan lagi kutulis untukmu
tulisan- tulisan indahku yang dulu
pernah warnai dunia
puisi terindahku hanya untuk mu …..

mungkinkah kaukan kembali lagi
menemaniku menulis lagi
kita arungi bersama
puisi terindahku hanya untukmu Continue reading

Jikustik – Sampai Samudra Mengering

Jikustik kaset all miring 15 crop res
Awal Mula
Awalnya, Jikustik adalah G-coustic. Mereka lahir dari sekumpulan remaja yang sering berkumpul di radio Geronimo di jalan Gayam, Yogyakarta. Dalam suatu kesempatan di sekitar tahun 1996, saya bertanya pada Pulung Agusta, mantan penyiar Radio Geronimo FM, “So, what are you going to do tonight?” Pulung yang pembawaannya sangat casual dan cengengesan menjawab: “I will “ngamen” at Galeria Mall, sir!” Itulah percakapan untuk memancing Pulung mempraktekkan “ilmu” yang dibeli dari saya. Dulu G-coustic memang ngamen kesana kemari. Penamaan G-coustic tak lepas dari instrumen music yang ditampilkan dengan gitar akustik. Waktu itu, demam akustik (unplugged) memang sedang hangat. G dalam G-coustic sendiri adalah Geronimo, tempat awal mula mereka berasal. Continue reading

The Voice Indonesia: Acara Talent Search Ideal

Pada saat saya mengetik tulisan ini, acara grand final The Voice Indonesia di Indosiar masih berlangsung. Keempat grand finalist: Leona, Agseisa, Tiara dan Billy sedang bertarung untuk mendapatkan gelar juara. Tak bisa dikatakan mendapatkan gelar terbaik karena mereka memang terbaik di antara peserta yang sudah berlaga di babak sebelumnya.

Saya bingung mendukung siapa di acara ini. Leona, Agsesia, Tiara dan Billy memang sudah juara, tak perlu dukungan dari saya. Leona di usia muda sudah menunjukkan kematangannya. Agseisa yang juga masih seumuran Leona pun memiliki kelebihan sendiri. Tiara yang sejak blind audition sudah diperebutkan keempat coach dan menjadi semakin matang serta selalu menyanyi dengan hati serta Billy yang nothing to lose tapi menunjukkan kualitas prima. Continue reading

Music Matters

inilah suasana “backstage” sebuah tontonan di televisi. Kita jadi tau apa yang selama ini kita tidak tau. Sebuah tontonan yang tersaji begitu fresh, tapi di belakangnya itu para juri itu sebenarnya harus “mengorbankan” waktunya yang begitu banyak.

Music Matters by Glenn Fredly

Saya masih mengingat betul, bagaimana hari itu shooting babak Blind Audition sangat melelahkan, karena kami para coach (Armand Maulana, Giring, Sherina dan saya)  telah memulai kegiatan shooting Blind Audition dari beberapa hari sebelumnya (dari pagi sampai tengah malam, bahkan selesai subuh…) dan hari itu 1 Februari 2013 adalah hari terakhir kami mencari penyanyi, untuk masuk di team masing-masing…

Kuota penyanyi yang ditentukan untuk masing-masing team dari para coach adalah 14 penyanyi dan  di shooting hari terakhir Blind Audition tersebut, saya telah  mencapai Kuota  yang  telah ditetapkan!

Menurut peraturan The Voice Kuota (jumlah) 14 penyanyi dari masing-masing team tidak mutlak, para coach masih punya  1 hak atau kesempatan ‘istimewa’ untuk menambah 1 lagi penyanyi, untuk masuk kedalam teamnya, asalkan penyanyi yang dipilih tersebut harus benar-benar istimewa bagi si coach…dan seperti saya bilang, di hari terakhir shooting itu, selain rasa lelah yang sudah hampir puool rasanya, saya juga sudah memenuhi kuota standart…

View original post 1,583 more words