Sweet Seventeen Jikustik

“Ask not what your country can do for you but what you can do for your country.” – John F. Kennedy

Itulah sebuah ungkapan lama dari seorang Presiden negara adidaya, Amerika. Ya, apa yang bisa saya berikan pada negara saya? Dalam skala kecil, pertanyaan ini saya tanyakan pada diri sendiri ketika berbicara tentang Jikustik, salah satu group band Indonesia yang saya cintai. Tahun ini, band ini berusia 17 tahun. Jika diibaratkan seorang gadis, band ini bagaikan bunga yang sedang mekar. Begitu kata Elvy Sukaesih dalam salah satu lagunya. Dan, di usia 17 tahun, biasanya ulang tahun seorang gadis dirayakan secara khusus. Orang-orang tercinta dan mencintainya memberikan hadiah untuknya. Begitu juga saya. Saya juga ingin memberikan hadiah untuk gadis yang sedang mekar itu. Meskipun hadiah itu hanyalah berupa tulisan tapi ……
tulisan dariku ini……
mencoba mengabadikan ……
mungkin akan kau lupakan ……
atau untuk dikenang

Saya pikir, ini adalah salah satu saat yang baik berbuat untuk Jikustik karena …..
kapan lagi kutulis untukmu
tulisan- tulisan indahku yang dulu
pernah warnai dunia
puisi terindahku hanya untuk mu …..

mungkinkah kaukan kembali lagi
menemaniku menulis lagi
kita arungi bersama
puisi terindahku hanya untukmu

Tulisan kecil sebagai kado saya buat karena suatu rencana besar saya untuk Jikustik harus kandas. Mungkin tahun ini belum waktunya. Mungkin harus menunggu tiga tahun ke depan ketika band ini digelari band legendaris? Tulisan itu bisa dibaca di sini.

publikasi pitulasanSelain “kado” tersebut, ulang tahun mereka ke-17 ini akan terasa istimewa karena mereka telah mempesiapkan diri untuk acara 17 th Jikustik Dapatkan Lebih Dengan Berbagi yang didukung oleh salah satu operator seluler. Entah kapan terakhir saya menyaksikan mereka di atas panggung. Kali ini, suasana pasti terasa lain dengan adanya bassist baru mereka. Beberapa hari ini, saya memutar seluruh lagu mereka untuk me-refresh karya-karya indah mereka.

Mereka menyiapkan lagu-lagu mereka dalam show ini dengan aransemen baru. Sebuah bukti musikalitas mereka yang pantas diapresiasi. Mereka tak hanya memainkan lagu-lagu itu di atas panggung persis seperti di album mereka. Mengaransemen lagu membutuhkan kreativitas baru. Lagu-lagu yang akan mereka bawakan adalah lagu-lagu hits mereka dari album pertama 1000 Tahun (2000) sampai album terakhir Kembali Indah (2011). Menonton sebuah pertunjukan langsung di panggung merupakan sebuah bukti apakah sebuah band itu hanya jago di rekaman atau memang memiliki kemampuan musikalitas. Yang tak kalah penting adalah bagaimana band tersebut melakukan interaksi dengan penggemarnya.

Buat Jikustik yang sudah berpengalaman manggung, hal ini tentu tak jadi masalah besar. Yang penting justru penonton yang menyatakan diri sebagai penggemar perlu menyaksikan bagaimana penampilan Jikustik yang sebenarnya. Apakah mereka hanya bagus dalam membuat lagu yang kemudian menjadi barang jadi (album) atau mereka memang memiliki musikalitas yang bagus serta interaksi dengan penontonnya? Saya sih yakin Jikustik bukan jago kandang yang hanya piawai dalam membuat lagu dan karya tapi juga mampu berinteraksi dengan penonton dan mempunyai musikalitas yang bagus. “Mereka main musiknya benar,” begitu kata Roedy Emerald pada saya ketika saya menanyakan pendapatnya tentang Jikustik di acara Solo City Jazz, 22 September 2012.

Ayo bareng-bareng nyanyi Setia, Seribu Tahun, Puisi, Kembali Indah, Untuk Cinta dan sederet lagu-lagu romantis lainnya……. Sampai jumpa di FIB UGM, hari Minggu, 9 Juni 2013, pukul 19.00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s