Pesta Untuk Fans

Tak ada yang lebih membahagiakan fans sebuah group selain mendapatkan apresiasi dari band atau artis pujaannya. Inilah yang dialami oleh Jikustikan, fans Jikustik, di ulang tahun Jikustik ke-17. Di ulang tahun ke-16 Jikustik, Jikustikan yang berinisiatif mengadakan acara Liburan Bareng Jikustik di sebuah desa wisata. Mereka berbaur di desa itu, saling curhat tentang lagu-lagu Jikustik yang menjadi tema percintaan atau kehidupan para Jikustikan. Curhat sebagai teman, bukan sebagai fans dan artis, berurai air mata yang susah dibedakan apakah itu air mata bahagia atau sedih. Di tahun ini, giliran Jikustik yang membalas Jikustikan yang ”setia” mengiringi perjalanan mereka meskipun personil Jikustik telah berganti.

Acara menggelar konser mini tak semudah mengadakan acara pesta ulang tahun biasa. Tinggal berangkat ke sebuah restoran, membeli kue ultah, makan dan minum serta meniup lilin kue ultah sambil mengucapkan harapan. Perlu perencanaan matang dan yang tak kalah penting adalah biaya yang besarannya tak kecil, tak bisa dikeluarkan dari kantong satu orang atau satu group band yang saat ini kembali berjuang untuk menjadi “yang terhebat”.

Ide membalas kesetiaan Jikustikan ini dibicarakan dengan gaya khas Yogya, santai ngobrol di angkringan. Mungkin juga tanpa target. Begitu beruntungnya Jikustik yang memiliki “teman seperjuangan” yang bekerja tanpa pamrih dan berhasil menggandeng Telkomsel yang menanggung biaya produksi tanpa biaya untuk artis. Jikustik memberikan kemampuannya kepada Jikustikan dalam acara ini secara cuma-cuma.

Malam itu, 9 Juni 2013, bertempat di pelataran Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Jikustik tampil dengan formasi terbaru mereka tanpa Icha yang sudah mengundurkan diri tahun lalu. Jikustik tampil dengan formasi terbaru: Adhit sebagai pemencet keyboard, Bayu sebagai pencabik bass, Brian sebagai vokalis, Carlo sebagai penggebuk drum dan Dadik sebagai pemetik gitar dan dibantu oleh Dyas sebagai backing vocal. .

Dimulai pukul 20.30 dengan gebukan para pemain drum yang tergabung dalam ID Drummer Jogja untuk mengantarkan Jikustik menuju ke panggung. Jikustik memulai konser ini dengan lagu berirama rancak, Kau Menghilang dari album pertama, Seribu Tahun (2000 & 2001). Penonton langsung tepuk tangan karena rasa kangen mereka yang terobati.

Sang vokalis, Brian, yang penampilan panggungnya makin bagus menyapa penonton, mengucapkan terima kasih dan mengajak penonton bersenang-senang malam itu. Sapaan itu mengantarkan lagu Aku Datang Untukmu dari album Kumpulan Terbaik (2005) yang di album aslinya dinyanyikan oleh Pongki dan Lea Simanjuntak. Setelah itu, terdengarlah intro Pandangi Langit Malam Ini dari album Perjalanan Panjang (2002) yang membuat penonton bertepuk tangan. Mereka akrab dengan lagu ini. Lagu berhenti sejenak dan Brian memancing penonton melanjutkan lirik lagu ini untuk bernyanyi berjamaah. Seusai lagu ini, Brian mengambil nafas dan mengajak penonton untuk tetap percaya kepada pasangannya sebagai pengantar lagu Tetap Percaya dari album Malam (2008). Setelah lagu selesai, Adhit bercerita tentang lagu berikutnya. Entah dia serius atau tidak ketika bercerita lagu ini awalnya adalah lagu dangdut yang ditawarkan kepada teman-teman dan masuk di album Kembali Indah (2011). Lagu Pujaan Hatiku pun mengalun, penonton juga ikut bernyanyi. Lagu ini menjadi lagu pentutup sesi pertama pertunjukan malam itu.

Di sesi kedua Jikustik tampil dengan busana jas formal. Mereka memainkan intro lagu dengan irama jazz. Penonton tau itu adalah lagu itu Setia dari album Seribu Tahun versi kemasan ulang. Penonton yang tak hanya anak-anak muda semua ikut bernyanyi. Sebagian dari mereka seusia personil Jikustik formasi awal bahkan beberapa membawa buah hati mereka. Seusai lagu Setia, Brian mempersilahkan bintang tamu malam itu, Andien Tyas untuk naik ke panggung. Bersama Andien, Brian menyanyikan lagu Puisi dari album Siang (2006). Andien pernah menyanyikan lagu ini sebagai single di tahun 2010. Setelah lagu Puisi, Andien sendirian membawakan Saat Kau Tak Disini (SKTD) – dari album Seribu Tahun. Setelah itu, Brian melanjutkan show dengan Samudra Mengering dari album Sepanjang Musim (2003). Penonton bertepuk tangan dan kembali bernyanyi. Seusai lagu tadi, Brian memanggil bintang tamu lain malam itu, pak Andi dan pak Rudi, produser album Jikustik pertama. Brian mengucapkan pada kedua orang itu karena peran mereka mengantarkan Jikustik masuk dunia rekaman. Kedua tamu ”agung” itu langsung mengambil posisi. Pak Andi berada di belakang keyboard dan pak Rudi di drum memainkan lagu Seribu Tahun Lamanya. Setelah lagu itu, mereka melanjutkan dengan Akhiri Ini Dengan Indah dari album Perjalanan Panjang. Penonton terus bernyanyi bersama di lagu yang menjadi penutup sesi kedua.

Saatnya sesi tiga alias sesi terakhir pertunjukan malam itu. Kali ini, personil Jikustik berkostum casual. Dadik memulai sesi ini dengan cerita bahwa lagu yang akan mereka bawakan adalah lagu favorit Pongki. Meluncurlah Untuk Dikenang dari album Sepanjang Musim. Belum lama lagu ini dimainkan, tiba-tiba beberapa Jikustikan muncul dari pinggir panggung tanpa menunggu kesempatan yang tepat. Interupsi itu cukup mengganggu, merusak indahnya lagu yang sedang dinikmati dan mengagetkan para personil Jikustik (dan mungkin juga penonton). Penonton yang sedang asik menikmati lagu tiba-tiba dipotong begitu saja. Salah satu Jikustikan yang bersuara lantang membawa kue ulang tahun dan kado untuk semua personil Jikustik. Kemudian perhatian tertuju ke panggung dimana seluruh personil Jikustik meniup lilin kue ulang tahun yang dipersembahkan oleh Jikustikan. Personil Jikustik membuka kado-kado itu. Inilah sebuah bukti kedekatan Jikustikan dan Jikustik yang menjadi aset dan bisa membuat mereka bisa bertahan sampai sekarang.

Setelah pemberian kado dan kue ultah, acara berlanjut dengan lagu Untuk Cinta dari album Kembali Indah. Meskipun lagu ini masih berusia muda, penonton juga ikut bernyanyi. Setelah itu, sebuah lagu dari album Pagi, Bahagia Melihatmu Dengannya mengalun. Penonton masih ikut bernyanyi. Berlanjut ke lagu Tak Ada Yang Abadi dari album Perjalanan Panjang. Ini adalah sebuah lagu dengan cerita sedih pada akhirnya, tentang kandasnya sebuah hubungan cinta karena kematian. Akhir pertunjukan sudah mendekat. Brian memanggil bintang tamu lain, FDJ Arrisa, untuk menemaninya menyanyi lagu Maaf, lagu yang membuat nama Jikustik terkenal di Indonesia. Kembali, penonton tak ketinggalan menyanyikan lagu ini. Dan, puncak pesta ulang tahun Jikustik ditutup lagu ke-17, Selamat Malam dari album Malam (2008). Kehadiran FDJ Arrisa membuat aransemen lagu ini terasa berbeda; lebih meriah, lebih hidup dan lebih ramai dan menutup pesta malam itu menjadi sangat meriah.

Lagu Selamat Malam menutup pesta malam itu. Seusai lagu itu, beberapa penonton menyerbu ke belakang panggung untuk bisa berfoto bersama Jikustik. Dan semua personil Jikustik memenuhi permintaan mereka dengan sabar. Ini sebuah bukti begitu membuminya personil Jikustik, tak peduli dengan predikat artis yang melekat pada mereka. Kerendahan hati mereka pantas ”untuk dikenang” para pecintanya untuk selalu bersama mereka.Jikustikan yang tetap setia sebenarnya masih berharap pesta itu dihadiri oleh Icha yang berada di kota asalnya dan Pongki yang malam itu mengadakan pertunjukan akustik – juga menyanyikan Selamat Malam sebagai penutup – di sebuah tempat tak kurang dari dua kilometer jaraknya dari tempat Jikustik mengadakan pesta.

Sekitar 450 penonton yang hadir malam itu menjadi saksi betapa mereka mengenal Jikustik dengan baik. Mereka tak hanya ikut bernyanyi bersama sepanjang pertunjukan tapi juga mengikuti perjalanan panjang Jikustik sejak album Seribu Tahun sampai Kembali Indah. Jikustikan yang datang dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, Sukabumi, Banjarnegara, Bojonegoro, Sidoarjo, Malang dan kota-kota sekitar Yogyakarta semuanya larut dalam kegembiraan dan kepuasan. Mereka sampai lupa berteriak meminta lagu tambahan. Seorang Jikustikan dari Bekasi yang berangkat berdua dengan temannya ke Yogya namun datang sendiri di acara ini berujar “Puassssss” ketika dimintai tanggapannya tentang acara ini. Pesta usai, Jikustik harus terus berkarya. Bersama-sama semua yang ada di tempat itu – Jikustik & Jikustikan bernyanyi lantang ….

Selamat malam dunia
Ku siap ’tuk berpesta
Tunggu aku di sana
Bertemu oh baby

Selamat malam dunia
Gairahku berpesta
Kita lewati malam
Berdua oh baby

Tj Singo

Advertisements

2 thoughts on “Pesta Untuk Fans

  1. Tahun 1999, sebuah album rekaman indipenden, “Bulan di Yogya”, menjadi langkah awal G-Coustic menapaki belantara musik Indonesia. Album tersebut berisi lagu-lagu, “Bulan di Pangkuan”, “Bersanding Denganmu”, “Rie…”, “Menunggumu Pulang”, “Seribu Tahun Lamanya”, “Separuh Hati”, “Didera Hujan”, dan “Adinda”. Album itu di produseri oleh Woodel’s Production, yang akhirnya mempertemukan G-Custic dengan Warner Music Indonesia. Tahun 2000 terciptalah album “Seribu Tahun” dan Jikustik terlahir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s