Everyday – A Beautiful Day

Everyday - A Beautiful Day wmSatu lagi sebuah band lahir dari sebuah proses panjang yang merangkum karya mereka dalam bentuk fisik tanpa takut dengan kondisi penjualan album fisik yang katanya amburadul. Everyday, band dari Yogyakarta, lahir dari sebuah proses standar; kumpul-kumpul antar teman, ngamen dari café ke café di Yogyakarta, bermain rutin pada Senin malam di komunitas Jezz Mben Senen selama beberapa tahun sampai akhirnya merangkum karya-karya mereka di album ini setelah single-single mereka diputar di beberapa radio di kota ini. Inilah sebuah album yang berisi lagu-lagu berbumbu kisah asmara.

Everyday beranggotakan Harly Yoga Pradana alias Yoga pada bass, Bramantyo Wikantyoso atau Itonk pada keyboard & synthesizer, Gilang (Adhyaksa) pada keyboard dan piano, Anggrian Hida atau Anggri pada drum dan Reagina Maria alias Riri sebagai vokalis. Band ini tak memiliki pemain gitar yang merupakan alat standar pada sebuah band. Entah kenapa nama-nama alat musik yang dimainkan masing-masing personil tak tertulis di kemasan album ini.

Menyadari bahwa lagu-lagu jazz memiliki segmen terbatas, band yang lahir dari komunitas jazz ini membungkus lagu-lagu di album ini menjadi jazz ringan mengarah pada pop. Agar album ini tak sekedar menjadi album musik pada umumnya, Everyday menjadikan lagu-lagu yang ada di album ini sebuah kisah asmara. Cerita untuk masing-masing lagu menjadi satu kesatuan sebuah cerpen, dicetak secara khusus dalam bentuk booklet yang disertakan di kemasan yang artwork-nya dikerjakan oleh tim kreatif Dagadu, sebuah perusahaan cindera mata Yogyakarta yang dikenal dengan kaos-kaos bertemakan Yogyakarta dengan bahasa plesetan. Dengan membeli produk asli, pendengar bisa mengetahui jalinan kisah asmara yang terintegrasi dengan lagu-lagu di album ini. Memang diperlukan cara kreatif seperti ini untuk menarik orang agar bersedia membeli album asli.

Cerita di album ini merupakan kisah asmara antara Surya dan Bulan. Bagaimana mereka bertemu, menjalin kisah cinta, termasuk kebiasaan mereka menghadiri acara Jezz Mben Senen, kemudian mereka harus menjalani kisah cinta terpisahkan benua dan waktu yang berselisih setengah hari, merasakan rindu, sampai akhirnya Surya pulang ke tanah air. Akhir cinta mereka diserahkan pada pembaca, tak seperti opera sabun (sinetron) yang mudah ditebak ending-nya.

Album ini dibuka dengan lagu Swara Suling, sebuah lagu bernafaskan budaya Jawa ciptaan Ki Narto Sabdo yang dikemas secara jazzy dan terisi suara rap. Lagu kedua, Kapan Ke Jogja Lagi, menjadi lagu yang menggugah kerinduan pada kota Yogyakarta. Lagu ketiga, Surya Kembara, bertema cinta Surya kepada Bulan. Lagu keempat dan kelima, Move It & Let’s Do It, merupakan kisah indah percintaan tokoh di album ini. Let’s Do It pernah menduduki tangga lagu di radio Geronimo. Pelangi Kelabu sebagai lagu keenam menceritakan awal perpisahan (sementara) kedua tokoh dalam cerita ini. Dan sebagaimana dalam sebuah hubungan jarak jauh yang sering tercipta rasa rindu, di situlah lagu Bulan Menanti berkisah tentang kerinduan itu. Kembali Rindu di urutan berikutnya menjadi titik balik kembalinya Surya dari perantauan dan berlanjut pada kisah cinta mereka. Lagu ini sempat menduduki tangga lagu di radio Swaragama Yogya.  Album ini ditutup dengan lagu A Beautiful Day yang sekaligus menjadi judul album dan bercerita tentang kebahagiaan Bulan menyambut kepulangan Surya.

Meskipun Everyday bukanlah band, duo atau solois yang pertama kali merangkum lagu-lagu dalam album menjadi sebuah cerita, kisah yang disajikan dalam bentuk cerpen oleh Everyday dan disunting oleh Lelaki Budiman menjadi salah satu cara ampuh agar orang tertarik membeli album asli. Selain lagu Swara Suling dan Kembali Rindu, lagu-lagu di album ini diciptakan oleh para personil Everyday sendiri.

Pengalaman mereka bermusik dari panggung ke panggung terdengar rapi di album ini. Riri memiliki suara bagaikan “bunglon”. Pada lagu-lagu berlirik bahasa Inggris, suaranya bak penyanyi kulit hitam dan ia bernyanyi dengan pengucapan seperti penutur asli bahasa Inggris karena secara genetik memang memiliki garis keturunan Eropa. Sementara pada lagu berlirik Indonesia, pengucapannya juga jelas.

Album ini lahir atas kerja sama dengan Dagadu Djokdja dan distribusi oleh Demajors. Proses rekaman di bawah supervisi Danny Eriawan Wibowo (bassist Kua Etnika) hampir semuanya dilakukan secara langsung di studio Kue Etnika. Sebagai sebuah album studio, improvisasi pada masing-masing alat musik sebagaimana lazimnya sebuah pertunjukan band jazz tak perlu banyak dilakukan di sini. Biarlah improvisasi menjadi bagian dari permainan di panggung.

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s