White Shoes & The Couples Company – Menyanyikan Lagu-lagu Daerah

WSATCC - 2013 Menyanyikan Lagu-lagu Daerah wmApa jadinya jika lagu-lagu daerah yang di tahun 70-80an wajib diajarkan di sekolah-sekolah lalu menghilang dan sekarang muncul lagi dalam kemasan lagu pop? Generasi yang sempat kehilangan masa mengenal lagu-lagu daerah itu bisa jadi sadar bahwa tak hanya lagu pop komersial yang asik dinyanyikan, tapi juga lagu daerah yang sudah dikemas sesuai selera mereka. Mereka juga jadi belajar bahwa negara ini memiliki aset luar biasa dalam perbendaharaan lagu.

Itulah yang ingin disampaikan White Shoes & The Couples Company (WSATCC) yang beranggotakan Aprilia Apsari (vocal), Yusmario Farabi (gitar), Saleh Husein (gitar), Ricky Surya Virgana (bas), Aprimela Prawidyanti (organ) dan John Navid (drums) dengan merekam lagu-lagu daerah di CD album mini mereka terbaru Menyanyikan Lagu-lagu Daerah di studio Lokananta, Solo. Selain alasan tadi, mereka memiliki semangat menyelamatkan studio rekaman tertua di Indonesia itu sebagai salah satu aset dan situs bersejarah bangsa khususnya bagi dunia industri musik Indonesia. Tindakan nyata sebagai kecintaan kepada bangsa dengan memopulerkan lagu-lagu daerah menjadi lagu pop juga didasari inspirasi oleh Bung Karno yang ketika menjadi Presiden Indonesia menyetarakan lagu daerah dan lagu pop. Fakta lain yang menjadi pertimbangan mereka adalah Lokananta merupakan perusahaan rekaman yang paling banyak merilis dan merekam lagu-lagu daerah. Tidak sedikit musisi lawas legendaris yang pernah rekaman lagu daerah di studio itu.

Ketertarikan merekam secara live di Lokananta juga berdasarkan alasan teknis bahwa peralatan di studio menghasilkan suara yang bagus. Selain itu, akustik ruangan juga sangat cocok dengan album yang mereka rancang. Materi didapat dari referensi David Tarigan, produser WSATCC sejak di album pertama dari Aksara Record sekaligus kolektor. Dari sekian banyak pilihan, akhirnya mereka memilih lima lagu yang paling cocok dan menyenangkan buat mereka.

Lagu yang mereka pilih pun bukanlah lagu yang banyak dikenal masyarakat seperti Yamko Rambe Yamko (Papua), Anging Mamiri (Sulawesi Selatan) O Ina Ni Ke Ke (Sulawesi Utara), Ampar-Ampar Pisang (Kalimantan Selatan) atau bahkan Gundul Pacul (Jawa Tengah). Pemilihan kelima lagu yang yang tak begitu populer bertujuan agar masyarakat kembali mengenali lagu-lagu daerah yang sebenarnya memang ada.

Kelima lagu yang mereka pilih adalah Jangi Janger lagu daerah Bali yang pernah dikemas di album Pagelaran Guruh Sukarnoputra (GSP) tahun 1979 diberi judul Janger Jakarta; Tjangkurileung karya seniman legendaris Sunda Mang Koko Koswara; Lembe-lembe yang merupakan lagu serenada Amboina yang legendaris; Te O Rendang O lagu pop berbahasa Maluku yang dibesut serta dilantunkan oleh sosok yang terlupakan, Max Lesiangi serta lagu permainan klasik Melayu Tam Tam Buku yang liriknya disesuaikan dengan kreativitas WSATCC.

Track pertama album dikerjakan di Rooftop studio Jakarta. Proses perekaman track kedua sampai kelima mini album ini dilakukan di studio Lokananta, Solo secara live pada tanggal 25 – 28 Oktober 2012. Hari terakhir mereka rekaman di Lokananta bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Ini bukan rancangan dan kebetulan itu bisa diartikan deklarasi WSATCC yang cinta negara, sebuah sumpah pemuda dalam bentuk lain.

Terbitan pertama album mini ini dicetak terbatas sejumlah 1000 keping dan bernomor seri dari nomer 0001 sampai dengan 1000 berbonus sticker, poster dan kartu pos. Sebuah strategi pemasaran agar pendengar WSATCC berlomba mendapatkan edisi khusus ini. Produser mini album ini adalah Aradea Barandana, David Tarigan, dan White Shoes & The Couples Company. Artwork dikerjakan oleh Anggun Priambodo dan Poppie Airil bersama White Shoes & The Couples Company. Ilustrasi dibuat oleh Aprilia Apsari, dan fotografi dikerjakan oleh fotografer Keke Tumbuan.

Pemilihan kelima lagu yang mereka rasakan paling cocok dan memberi kenyamanan buat mereka terdengar dari hasil rekaman yang begitu apik. Musikalitas mereka yang piawai dan rapi jelas teruji di lagu-lagu yang direkam secara live. Aransemen ala WSATCC menunjukkan konsistensi mereka di jalur retro campuran klasik dan swing jazz dengan sentuhan tambahan nada disko bergaya 70-an. Hasilnya adalah lagu daerah dalam balutan musik pop yang asik dan laik dengar.

Kelima lagu yang berdurasi total tigabelas menit kurang dua detik terasa terlalu singkat untuk lagu-lagu yang bisa membuat anak-anak masa kini kembali mengenali lagu-lagu daerah yang tak lagi menjadi konsumsi keseharian mereka karena banyaknya lagu-lagu pop yang tak semuanya mendidik dan bernilai seni. Andai saja WSATCC bisa menyajikan lebih banyak lagu di album ini …

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s