Ngayogjazz 2013 – Rukun Agawe Jazz, Jazz Agawe Rukun

Sabtu, 16 November 2013. Waktu beranjak menuju tengah hari. Perjalanan menuju Padukuhan Jethak II, Desa Sidoakur tempat dilaksanakannya Ngayogjazz 2013 sangat lancar. Jalan raya mendekati desa itu penuh umbul-umbul sponsor pendukung acara. Jalan kecil menuju venue sudah dipenuhi para pemuda pengatur jalan sekaligus penyambut tamu (penonton) yang akan ikut berpesta di desa wisata itu.

Para pemuda mengarahkan dan menunjukkan jalan menuju ke tempat perhelatan dengan sambutan yang ramah. Mereka sama sekali tak menunjukkan keangkuhan. Kesan bersahabat ditunjukkan dalam menyambut tamu-tamu yang akan datang ke pesta itu. Desa Sidoakur seperti punya hajatan besar. Mereka menunjukkan arah tempat parkir yang tepat buat siapa saja yang datang.

Sudah banyak orang berkumpul di sana. Penduduk desa, awak media, panitia, pranata adicara maupun beberapa musisi yang hendak tampil di acara itu. Tak ada tatapan curiga dari para penduduk terhadap “orang asing” yang berdatangan. Mereka memperlakukan para tamu sebagaimana mereka adalah tuan rumah sebuah pesta. Hajatan apa yang ada di sana? Pesta apa yang mereka adakan?

Mungkin ini pesta yang tak mereka bayangkan sebelumnya. Desa mereka menjadi tempat pagelaran musik yang bernama jazz. Apakah mereka kenal jazz? Entahlah. Tapi yang jelas, pengurus desa wisata ini terinspirasi Ngayogjazz 2012 di dusun Brayut, Pandowoharjo, Sleman tahun sebelumnya. Mereka mengajukan diri kepada panitia dan panitia setuju mengadakan Ngayogjazz di Desa Sidoakur tahun ini.

Jalan masuk menuju desa ini tak lagi ber”jerawat” sebagaimana hari-hari biasanya. Infrastruktur telah disiapkan, bagaikan orang yang pergi ke klinik kecantikan berbulan-bulan dan mendapatkan hasil perawatan kulit wajah yang halus pada hari yang ditentukan untuk bergaya. Wakil desa wisata ini, pak Bambang, tahu apa yang harus diperbuat untuk menyambut tamu di desanya supaya kesan pertama begitu menggoda. Ia “naik” ke jajaran birokrasi dan mendesak agar dana untuk mempersolek desanya segera diturunkan, tak harus menunggu tahun depan demi kepentingan partai politik yang hendak berkosmetik menjadi pahlawan dengan memberikan bantuan merapikan desa mereka.

Rekan-rekan media sudah berkumpul di griya media. Beberapa meter dari griya media, panggung Sayuk Rukun mulai menggeliat dengan persiapan Kirana Big Band untuk tampil. Tak lama setelah itu, MC untuk panggung itu muncul. Lusy Laksita, Santi Zaidan dan Alit Jabangbayi membuka acara ini dengan gaya khas Yogya; bahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa pergaulan, guyonan, tak lupa juga plesetan. Cocoklah mereka dibilang Trio Kwek Kwek. He..he..he…

Kirana Big Band tampil, cuaca cerah. Penonton yang datang dan juga warga desa semuanya menikmati penampilan ini. Inilah awal “cuci otak” bagi penduduk desa atas apa yang disebut musik jazz. Mereka senyum-senyum saja. Tak ada penolakan. Belum sampai setengah jam mereka tampil, Kirana Big Band harus berhenti sejenak. Bukan hujan yang membubarkan tapi prosesi arak-arakan sedang menuju ke panggung, tanda pembukaan acara ini segera dimulai. Sekelompok orang berpakaian tradisional dengan dandanan pertunjukan ketoprak muncul. Ada tokoh berbaju merah menyala didampingi “kuda”nya. Dia memerankan tokoh Aryo Penangsang yang akan membuka acara ini. Tokoh yang nampak angker ini pasti serius ketika memberikan sambutan? Jebule blass ra serius. Ndagel! Pemilihan Aryo Penangsang mungkin aneh bagi kebanyakan orang dimana biasanya sebuah peristiwa dibuka oleh pejabat. Tapi, Ngayogjazz tetaplah Ngayogjazz. Inilah sebuah simbolisasi perlawanan. Jazz awalnya dianggap sebagai musik perlawanan atas kemapanan.

Setelah dibuka oleh Aryo Penangsang, Kirana Big Band melanjutkan penampilannya disertai hujan yang mulai mengguyur. Empat panggung lainnya (Guyub, Srawung, Tradisional dan Wawuh) juga mulai berbunyi. Ada Gejog Lesung di panggung Tradisional, Kesper Percussion di Guyub, Coriander & The Spice Cabinet di Wawuh dan Blue Batik Replica (Pekalongan) di Srawung. Pranata adicara siap di panggung masing-masing. Mereka adalah nama-nama yang tak asing di Yogyakarta; Hendro Pleret, Bambang Gundul, Gepeng Kesana Kesini, Gundhissos, Fira Sasmita, Anggrian Hida dan Diwa Hutomo.

Gejog Lesung, Paduan Suara Sidoakur, Hadrah Sidoakur, Keroncong Adakalanya dan Orkes Soesah Tidoer tampil di panggung Tradisional sementara Blue Batik Replica dari Pekalongan, Blank On 5, Jazz Udu (Purwokerto), Gubug Jazz (Pekanbaru), Nilam & The Uptown Boys, Etawa Jazz serta Nana Banana (ketiganya dari Komunitas Jazz Yogya), Peni Chandra Rini & Solo Jazz Society, Bagus and Friends dan juga AbsurdNation Quartet (Semarang) di panggung Srawung. Coriander & The Spice Cabinet, Page Five, Kirenia, The Tampans, Berempat dan MuciChoir yang semuanya dari Komunitas Jazz Yogya, Jazz Ngisor Ringin (Semarang), Balikpapan Jazz Lovers, DAC Band dan D’Aqua (Jepang) tampil di panggung Wawuh dan ISI Yogyakarta, Kesper Percussion & Ketzia featuring Bad Cellists (Yogya), Shadu Band, Oele Pattiselano, Dony Koeswinarno Quintet, Brink Man Ship (Swiss), Nita Aartsen yang tampil bersama Bintang Indrianto & Jalu Pratidina serta Monita Tahalea tampil di panggung Guyub. Sayuk Rukun yang menjadi panggung utama menjadi panggung bagi Kirana Big Band, Jerry Pellegrino (Amerika), Everyday (Yogya), Erik Truffaz (Perancis), Chaseiro, Idang Rasjidi Syndicate dan Baraka (Jepang).

Siang sampai senja, alam agak tak bersahabat. Hujan turun, semakin sore semakin deras. Jalanan di desa tergenang air di sana sini tapi keceriaan pengunjung perhelatan ini tak goyah. Mereka lalu lalang menuju panggung yang tersebar untuk menyaksikan penampilan musisi pilihan mereka. Hujan tak jadi masalah karena mereka sudah menyiapkan payung dan jas hujan, membuat mereka bisa bertahan karena kedap air. Hujan bertahan sampai sebelum Maghrib. Setelah istirahat Maghrib, alam memahami keinginan semua pihak. Panitia, musisi, para pembuka lapak dan penonton. “Tangisan” dewa dari atas sana sudah berhenti sampai selesainya acara. Penonton pun semakin menyemut membuat jalan penghubung panggung Wawuh, Guyub dan Sayuk Rukun macet.

Di panggung Wawuh, tampillah MuciChoir yang ramai kremesek dan asyik. Penonton penuh. Setelah menyanyikan beberapa lagu mereka sendiri, panggung menjadi penuh sesak karena rekan-rekan mereka dari komunitas jazz Yogyakarta merangsek ke panggung sekaligus menandai peluncuran album kompilasi Ngayogjazz 2013, Study-Ing Babad Jazz. Penampilan MuciChoir di panggung ini memang diatur jadwalnya setelah Maghrib karena salah satu anggota mereka, Riri, sebelumnya tampil bersama Everyday yang baru saja merilis album di panggung utama, Sayuk Rukun. Penampilan Everyday termasuk yang ditunggu penonton. Penonton ingin menyaksikan penampilan langsung Everyday yang lagu-lagunya yang sudah sering didengar.

Dan, salah satu group yang ditunggu penampilannya adalah Chaseiro. Halaman tempat panggung Sayuk Rukun berada benar-benar penuh sesak dengan penonton. Tak hanya penonton berusia kepala empat dan lima yang berada di sini. Ternyata, beberapa anak muda pun ada di tengah-tengah penonton. Chaseiro memang layak menyandang nama besar. Di Ngayogjazz kali ini, mereka tak tampil bersama Omen dan Rizali. Rizali tak bisa datang karena alasan pekerjaan sedangkan Omen tak bisa tampil karena alasan keluarga yang tak mungkin ditinggalkan. Namun, Chandra Darusman, Aswin Sastrowardoyo dan Irwan Indrakesuma dengan dukungan pemain bass, perkusi, gitar dan drummer tambahan tetap bermain apik. Penonton yang larut dalam nostalgia masa remaja mereka menikmati lagu-lagu Chaseiro dan suara tepuk tangan tak berhenti.

Sementara Chaseiro memainkan musik mereka, di panggung Wawuh ada penampilan DAC Band. Band asal Semarang ini adalah peserta Band Explosion (LMC) 88. Meski lama tak manggung, permainan mereka masih asyik. Salah satu karya yang mereka tampilkan adalah Sky Channel yang membuat mereka menyabet gelar runner-up pada kompetisi LMC. Penonton generasi 80an menunggu penampilan mereka. Permainan mereka mengingatkan akan kejayaan fusion jazz di Indonesia yang marak di tahun 80an – 90an awal.

Malam makin larut. D’Aqua menutup panggung Wawuh, AbsurdNation Quartet (Semarang) menjadi penampil pamungkas di panggung Srawung, Monita Tahalea di panggung Guyub dan Baraka (Jepang) sebagai pemuncak di Sayuk Rukun. Seluruh pranata adicara menutup rangkaian acara Ngayogjazz bersama-sama di panggung utama. Penonton berangsur pulang pada saat yang bersamaan dan menciptakan kemacetan di sepanjang jalan Godean.

Seluruh panitia masih berkumpul di griya media. Perasaan lega terpancar dari teriakan mereka. Sebuah gawe besar terselesaikan. Dalam keadaan lelah tak terhingga, mereka masih juga bercanda bersama, menikmati sisa-sisa kudapan yang ada, menyelesaikan tugas mereka dan membantu tuan rumah menyapu lantai yang sepanjang hari dipenuhi kertas dan abu rokok serta sampah sejenisnya. Dalam situasi belum mandi masih ada tawa yang menunjukkan kerukunan. Perhelatan ini memang akhirnya menghadirkan apa yang dijadikan tema tahun ini, “RUKUN AGAWE NGEJAZZ”. Rukun tanpa keributan, rukun yang menambah persaudaraan.

Sampai jumpa tahun depan, Ngayogjazz 2014 yang entah akan diadakan dimana. Saya pasti akan kembali untuk menikmati acara ini. Karena acara ini adalah acara yang penuh dengan persaudaraan, paseduluran dalam arti sebenarnya.

Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s