Album (yang harganya bikin) Terpukau!

terpukau coverSaya (dulu) selalu membeli album musik Indonesia di toko kaset/CD. Membeli di tempat ini artinya saya ke sana karena kemauan dan kesadaran membelanjakan uang untuk karya musik Indonesia. Tapi, dengan adanya perubahan cara dan tempat penjualan album musik Indonesia, mau tak mau saya harus mengikutinya.

Sekarang, saya harus mengikuti trend membeli album musik Indonesia di gerai restoran ayam goreng cepat saji atau toko buku berjaringan atau juga cara-cara lain. Hanya saja, saya tetap membeli karena kemauan saya. Saya tak mau terjebak promo yang sebenarnya akal-akalan agar saya membeli barang lain selain album musik Indonesia (CD). CD yang dijual di gerai restoran waralaba ayam goreng cepat saji yang terbungkus kata manis penjualnya, buat saya adalah persuasi agar pembeli ikut membelanjakan uangnya membeli produk utama mereka, ayam goreng. Masih mendingan di gerai restoran cepat saji pembelian album bisa dengan cara bundling (dengan membeli ayam goreng) atau non-bundling (boleh membeli CD saja).

Hari ini saya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Astrid (Sartiasari) dan manajemennya yang merilis album keempatnya, Terpukau. Untuk penjualan album ini, Astrid (dan pihak labelnya) menggandeng perusahaan seluler Smartfren. Saya mendatangi gallery Smartfren yang berada di Jl Kenari No 62 Timoho Yogyakarta. Pembelian album ini harus dilakukan dengan cara bundling. Tak ada pilihan lain.

bundlingApa sulitnya membeli album bundling dengan produk? Memang tak ada kesulitan. Tapi, jika harga sebuah CD yang rata-rata berkisar di angka Rp 50.000,00 dianggap pantas, maka pembelian bundling album Astrid ini sungguh di luar perkiraan saya. Saya harus membeli produk Smartfren, baru bisa mendapatkan album Terpukau. So what? Penjualan album ini adalah bonus bagi pembelian paket bundling produk smart phone dan modem. Harga termurah disematkan pada produk Andromax C + Modem CE/AC81B seharga Rp. 934.000,00! Artinya, saya harus membayar harga itu kalau ingin memiliki album Astrid terbaru. Alamak!

Ternyata, sebuah album yang merupakan karya seni hanya menjadi pelengkap sebuah produk teknologi. Sebegitu penting dan mendesakkah sebuah produk teknologi yang sekarang tak lagi sekedar produk fungsi (function) tapi lebih menjadi produk gaya hidup (fashion)??? Saya tak alergi pada produk teknologi, tapi ketika saya sudah memiliki, apakah saya harus membelanjakan uang untuk barang yang bukan kebutuhan? Produk seni (album musik) lebih merupakan preferensi saya.  Ketika saya dipaksa membeli produk smart phone yang tak saya butuhkan baru bisa mendapakan album musik, logika saya harus jalan, kalkulator saya harus berfungsi.

Saya mencoba berdiskusi dengan teman yang pengetahuannya tentang industri musik Indonesia lebih mumpuni dari saya. Ternyata, penjualan album secara bundling ini memang begitu adanya. Pihak label yang menaungi Astrid tak ambil pusing dengan seberapapun harga yang harus dibayar fans Astrid untuk memiliki album ini. Saya menyimpulkan, pihak label menjual lepas album ini sebanyak jumlah tertentu kepada Smartfren dan keputusan penjualan ada di pihak perusahaan seluler itu. Dengan penjualan jumlah tertentu, pihak label bisa bernafas lega karena keuntungan (minimal biaya produksi) sudah ada di tangan, tidak rugi. Sederhana bukan?

Lalu, bagaimana dengan peminat pembeli karya (fans) Astrid? Akankah mereka bersedia mengeluarkan uang minimal hampir satu juta (paling murah) untuk membeli album artis pujaannya? Bahan pemikiran yang perlu disampaikan adalah siapa pasar album Astrid? Siswa SMA, mahasiswa perguruan tinggi, orang yang baru berkarir di dunia kerja, para eksekutif? Jika jawabannya adalah tiga yang pertama, Astrid harus siap dengan konsekuensi pembeli albumnya tidak mencapai angka ideal untuk dikatakan sebagai angka penjualan yang bagus. Kalau asumsi saya benar, akankah Astrid bisa berdiri di podium acara penghargaan musik dan mengucapkan “terima kasih kepada para fans yang telah setia membeli album saya”?

Konsekuensi apa lagi yang mungkin terjadi? Karya Astrid bukanlah karya jelek. Penjualan albumnya tidak buruk. Jika sepuluh persen dari pengikut di akun Twitter-nya membeli albumnya, artinya angka penjualan albumnya bisa mencapai sembilan ribu. Tidak buruk untuk kondisi sekarang, bukan? Kesadaran membeli produk asli sudah meningkat seiring bertambahnya kemakmuran. Tapi dengan harga bundling produk seluler yang sedemikian tinggi, bukan tak mungkin fans Astrid terpaksa beralih memilih membeli barang bajakan. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku tetapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah….. Waspadalah!!!” “ Itulah pesan bang Napi yang sekarang tak pernah muncul lagi tapi nasihatnya tetap melekat di hati.

Buat saya pribadi, dengan harga itu, saya tak bisa melengkapi koleksi karya Astrid yang terdiri dari album Astrid (2005), Jadikan Aku Yang Ke 2 (2006), Lihat Aku Sekarang (2010) dan juga beberapa album kompilasi OST Tusuk Jelangkung (2003), OST Vina Bilang Cinta (2005), A Portrait of Yovie Widianto (2005 ) dan OST Badai Pasti Berlalu (2007). Sayang sekali!

koleksi astrid koleksi astrid compilasi

@singolion

Advertisements

2 thoughts on “Album (yang harganya bikin) Terpukau!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s