Prasadja B Dharma – Sepekan Bersama Bassist Band Idola

Mungkin inilah cerita di A Cup Of Tea yang perbincangannya paling lama. Satu minggu! Tapi, waktu satu pekan itu tak terasa karena melewatkan hari bersama bassist band idola selalu terasa kurang waktunya.

singo & pra at JIH6 Desember, saya menuju ke hotel tempat Pra B Dharma menginap. Selain ingin menemuinya, saya juga menghadiri konferensi pers acara Jazz Traffic yang diadakan esok harinya. Tentu pertemuan itu didahului dengan perjanjian lewat alat komunikasi. Seperti biasa, kami selalu bercanda lewat alat komunikasi itu sampai tiba waktunya bertemu. Dan, setelah acara konferensi pers, saya tak mungkin melewatkan sesi berfoto bersama. Kali ini, saya bisa berfoto dengan separuh dari anggota Krakatau. What a blessing!

Sebenarnya, setelah acara itu, bisa saja kami berbincang lebih lama. Tapi, tugas kerja tak bisa saya tinggalkan. Kami membuat janji lain bertemu malam hari pada saat sesi gladi kotor di venue. Inilah kali pertama saya akan menyaksikan Kayon, group musik etno jazz yang personilnya adalah separoh dari personil Krakatau, band idola saya. Malam itu, gladi kotor berakhir tengah malam. Perbincangan terpaksa dibatalkan karena badan saya tak bisa kompromi.

7 Desember. Menjelang tengah hari, kami bertemu. Banyak pembicaraan di situ. Ya tentang Krakatau, Kayon, jazz, kehidupan pribadi, gadget dan berbagai macam lah. Berbicara dengan Pra memang tak ada habisnya. Di tengah perbincangan serius, kadang terjadi ledakan humor yang tak direncanakan. Wajahnya memang serius, tapi keseriusan itu terjadi hanya jika ia harus berbicara serius. Selebihnya, ancur abis! Sekali lagi, waktu harus membuat pembicaraan terhenti. Tugas lain harus saya kerjakan, dan Pra memang perlu istirahat untuk persiapan pentas malam harinya.

Malam harinya, tibalah waktunya menyaksikan Kayon. Ini adalah salah satu pertunjukan yang saya tunggu. Sudah lama saya mendengar tentang Kayon tanpa sekalipun menyaksikannya secara langsung. Permainan Kayon memang luar biasa. Dan setelah mereka selesai, saya menemui mereka di belakang panggung. Belum sampai lima menit berinteraksi dengan Pra, tiba-tiba dia merasakan sesak di dadanya. Seketika, orang-orang disekitaran belakang panggung pun ikut mengkhawatirkan kondisinya yang sebenarnya nampak sehat walafiat. Ia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Antara ingin bersamanya atau tetap berada di venue tempat Jazz Traffic masih berlangsung, saya meyakinkan diri that he will be fine.

Menyaksikan musisi-musisi lain bermain di ajang itu dengan perasaan khawatir sungguh tak nikmat. Tapi saya tetap yakin, semuanya akan baik-baik saja sampai selesainya acara dan saya ingin menuju rumah sakit. Tapi Gilang Ramadhan menyarankan saya tak usah datang agar Pra bisa beristirahat. Tentu Gilang tau apa yang terbaik untuk Pra dan saya pun juga harus tahu diri untuk tak mementingkan ego saya menjenguknya.

Minggu malam, Gilang mengirimkan pesan kalau hari Senin dia akan kembali ke Jakarta dan berpesan agar saya menemani Pra. Langsung saya menuju ke rumah sakit menengoknya. Ruang ICU yang sebenarnya trauma buat saya, malam itu saya abaikan. Saya ingin melihat bassist band favorit. Syukurlah, Pra merasa lebih sehat. Kami tak bicara banyak karena saya tahu ICU bukanlah tempat terbaik untuk berkomunikasi karena di sana ada beberapa pasien yang sedang meregang nyawa.

Senin, seusai menyelesaikan tugas kerja, saya mengunjunginya. Pra masih di ICU tapi suasananya sudah lain. Ia sendiri mengatakan kondisinya jauh lebih sehat dibanding sebelum kejadian serangan itu. Maka, tawa pun sekali-sekali terjadi sampai harus was-was apakah para perawat melihat dan mendengar kami. Tentu, ruang ICU bukanlah tempat yang tepat untuk berlama-lama berbicara. Pengunjung dibatasi jumlahnya. Saya harus juga bergantian dengan teman lain yang juga ingin menengok Pra.

Selasa, saya tetap pergi ke sana. Harusnya hari itu Pra sudah bisa pindah ke kamar perawatan biasa tapi entah kenapa koq masih juga di ICU. Prosedur masih harus diikuti. Pengunjung bergantian menengoknya. Entah sudah berapa teman yang menengoknya. Banyak teman di Yogya yang memperhatikannya. Pra memang berbeda dengan pasien-pasien lain di ICU. Ketika yang lain masih harus berbalut dengan banyak alat penyambung hidup, Pra bisa berkomunikasi dengan gadget-nya. Seperti bukan orang sakit saja!

Rabu, Pra sudah dipindah ke kamar perawatan biasa. Hari itu saya datang selepas senja. Di ruang VIP itu sudah ada beberapa teman di sana. Dan, benar-benar Pra sudah kelihatan segar. Hanya ada tawa di sana, tak lagi bercerita tentang penyakitnya. Pembicaraan lebih banyak ke kejadian-kejadian lucu. Dan, saya merasa pantas untuk berfoto bersamanya di kamar ini karena di ICU ada larangan berfoto. Saya harus menaati peraturan itu. Beberapa teman lebih dahulu pulang dan tinggal saya yang di sana. Saya menemani sampai malam agak larut. Kali ini, saya pun memberanikan diri bertanya lebih banyak tentang Kayon yang buat saya menjadi referensi baru dalam menikmati musik jazz.

Kamis, Pra kembali dikelilingi teman-teman tercinta yang ada di Yogya. Mereka sudah berada di kamar ketika saya tiba. Kali ini, pembicaraan lebih ke rencana kepulangan dari rumah sakit. Rencananya, hari Minggu Pra akan pulang tapi sayang seluruh tiket penerbangan hari itu sudah habis. Dokter yang ada di ruangan malah menganjurkan melakukan perjalanan dengan kereta api. Tentunya ini kabar gembira karena menunjukkan Pra sudah jauh lebih baik.

Jumat pagi, saya mengirim beberapa jadwal kereta ke Pra. Dibalasnya bahwa hari itu dia sudah boleh keluar dari rumah sakit. Wah, begitu tiba-tiba? Maka, segera saya mencari informasi kereta api yang bisa mengantarkannya ke kota asalnya. Sayang, waktu yang begitu mendesak tak memungkinkan Pra pulang siang harinya. Dan, hotel pun menjadi tujuan setelah keluar dari rumah sakit. Malamnya, kami makan malam bersama dengan teman lain. Tak ada makanan yang harus jadi pantangan. Ia tetap taat pada cara makannya yang veggie. Beberapa kali ia selalu mengatakan ia lebih sehat daripada saat sebelum terjadi serangan. Thank God!

Sabtu pagi, saya dan hampir semua teman yang selama ini selalu berada di rumah sakit sudah berada di hotel tempat ia menginap. Ya, kami bersyukur karena Pra sudah jauh lebih baik. Selama seminggu ia berada di Yogya, kami semua was-was meskipun tetap harus berpikir positif serta selalu bercanda bersamanya. Kami percaya, hati yang gembira adalah obat. Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, kami semua sudah berada di stasiun Tugu. Canda tawa masih berlanjut. Kami tak mau kalah dengan banyak orang yang menjadikan foto bersama sebagai sebuah ritual karena kemudahan teknologi masa kini. Sampai akhirnya pengumuman kereta Argo Wilis tiba dan Pra bersiap menuju ke kotanya.

Sampai bertemu lagi, Pra. My idol, my brother. Stay healthy and stay crazy as you are always 🙂

Singo & Pra at Tugu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s