Tulus – Percakapan yang tulus

Singo & Tulus
Ini adalah pertemuan saya kedua dengan Tulus, salah satu penyanyi yang banyak dibicarakan saat ini..Pertemuan pertama terjadi 24 April 2013. Saat itu, saya hanya sempat berfoto dan meminta sign di albumnya. Album yang akhirnya bisa saya dapatkan setelah sekian lama menginginkannya. Saya tertarik setelah melihatnya di acara Wide Shot Metro TV. Tak banyak yang kita bicarakan saat itu karena waktu yang begitu sempit.

Tak disangka, pertemuan singkat itu tak membuat dia lupa pada saya. Tanggal 9 Januari 2014 yang lalu, begitu saya masuk ke ruang artis di tempat dia manggung malam itu, dia langsung menyapa: “Bapak yang kolektor album Indonesia ya?” Tak semua orang (musisi) yang dijumpai bisa mengingat orang yang ditemui, apalagi jika bertemu hanya dalam hitungan menit. Hal kecil seperti ini bagi saya adalah sebuah indikasi bahwa Tulus sangatlah menghargai orang yang ia temui.

Malam itu, pembicaraan dengan Tulus – yang bernama lengkap Muhammad Tulus Rusydi – sebenarnya hampir saja batal karena kondisi yang tak memungkinkan. Tapi ia begitu menghargai orang lain yang ingin mewawancarainya. Pembicaraan kami berkisar tentang prestasi yang ia capai saat ini dan bagaimana ia bisa menjadi seperti sekarang ini. Beberapa orang mungkin berpikir Tulus termasuk artis yang meraih popularitas secara instan, baru menghasilkan satu album langsung terkenal. Benarkah?

Album Tulus dirilis di tahun 2011. Setelah albumnya dirilis, ia tak diam begitu saja. Ia harus banting tulang melakukan promo kemana-mana. Dua tahun setelah albumnya dirilis, ia baru memanen hasilnya. Tentu, gambaran perjalanan waktu di atas adalah jawaban apakah ia artis yang meraih popularitas secara instan. Ia mendapat gelar pendatang baru terbaik (rookie of the year) dari Rolling Stone Indonesia, sebuah majalah musik ternama di negeri ini. Baginya, apa yang ia raih sekarang adalah sebuah proses. Tulus telah meraih popularitas yang baginya bukan tujuan melainkan hasil dari sebuah proses.

Album yang diproduksi sendiri akhirnya mendapat apresiasi yang bagus dari pendengar musik Indonesia. Sampai saat ini, album ini sudah dicetak sebanyak 15000. Dalam kondisi yang dikatakan parah untuk penjualan karya fisik, angka ini bisa dibilang fantastis. Bagaimana karyanya bisa digemari? Ia berusaha mengisi soul pada karyanya karena ini lebih sulit daripada hal-hal teknis seperti merekam, mengaransemen, membuat lirik, menyanyikan atau mempromosikan. Apa yang ia sampaikan menunjukkan bahwa karyanya adalah sebuah idealisme.

Tulus yang menjadikan Chrisye, sang legenda musik Indonesia, sebagai panutan mendapat kesan mendalam ketika menyaksikan penampilan sang legenda saat di kotanya saat ia masih duduk di bangku SMP. Ia ingin menjadi seperti Chrisye yang mampu menghibur banyak orang. Ia pun mengoleksi dan mendengarkan karya-karya sang legenda. Sayang, ia tak pernah bertemu dengan sang legenda.

Obrolan dengan Tulus sepanjang 13 menit harus terputus karena ia akan berkonsolidasi dengan musisi pengiringnya. Tapi, waktu sesingkat itu sudah membuat saya mengenal Tulus sebagai orang yang asik dan hangat. Karyanya adalah idealisme sebagaimana idealisme yang ia miliki sebagai seorang arsitek. Meskipun sekarang banyak orang mengenalnya sebagai seorang penyanyi, dunia arsitek tak pernah ditinggalkannya karena ia harus berjuang keras untuk mendapatkan gelar itu. Ia bahkan sangat bangga dengan pekerjaannya sebagai arsitek yang bisa bersanding dengan pekerjaannya sebagai seorang penyanyi.

Saya beruntung bisa ngobrol dengan Tulus. Obrolan ini bukan cerita seperti lirik lagu ‘Diorama’, lagu yang paling suka dari album pertamanya:

Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia
Tapi kita dalam diorama
Harusnya sisa masa ku buat indah menukar sejarah
Tapi kita dalam diorama

Ini adalah obrolan yang berakhir bahagia dan kami tidak dalam diorama. Semoga nanti akan ada obrolan lanjutan setelah mendengarkan album keduanya yang akan segera rilis. Tentu, sambil menikmati minuman agar pembicaraan menjadi lebih nyaman dan panjang. Tak hanya a cup of tea, tapi bisa juga secangkir kopi, atau minuman lain yang menjadi kesukaannya….. Minuman apa ya? Ah, saya lupa menanyakannya…..

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s