Capung – The Music Producer

“Shared joy is a double joy; shared sorrow is half a sorrow” – Swedish Proverb

Capung - the Music Producer coverItulah sebuah peribahasa Swedia yang jika diterjemahkan menjadi: “Kebahagiaan yang dibagikan akan menjadi berlipat; kesedihan yang dibagikan akan menjadi berkurang”.

Kira-kira itulah yang akan disampaikan Hery Purnomo atau yang lebih dikenal dengan nama Capung, gitaris band Java Jive yang telah 20 tahun berkarya secara profesional di dunia musik Indonesia.

Duapuluh tahun berkarya di industri musik Indonesia dilaluinya dengan aneka macam peristiwa; senang, susah, stress, bahagia, puas, kecewa dan lain-lain. Kumpulan perasaan dan kejadian nyata inilah yang dirangkum oleh Capung untuk dibagikan kepada anak band. Tujuannya jelas, demi sebuah kebaikan atau bahkan kesuksesan.

Sebagai bapak “sejuta band” Indonesia, pasti Capung selalu berharap semua band yang ditanganinya bisa hidup dari karir nge-band. Dunia band baginya adalah tempat terbaik untuk mencari kehidupan. Di sanalah gairah (passion) tumbuh dan hidup. Di sana ada kehidupan; interaksi dengan berbagai macam manusia, memahami kepribadian beribu sifat orang lain, menjadi tempat curhat yang menjadikannya semakin bijak dan harus selalu mau jujur dalam berkarya.

Apa yang dialaminya dengan membuat lagu, datangnya inspirasi, menangani artis, mengelola emosi artis dan beberapa hal yang sifatnya lebih psikologis juga ditulisnya di buku ini. Sharing yang tertuang di buku ini tentu tak lepas dari bagaimana ia melihat bahwa tak semua band yang ditanganinya bisa bertahan dan meraih sukses. Bukankah tak semua buah dari satu pohon enak dimakan? Pasti ada yang kurang layak dikonsumsi dan akhirnya mati. Hikmah dari peristiwa yang tak baik itulah yang jadi bahan berbagi cerita di buku ini dari sisi non-musikal.

Di buku ini terdapat pengalaman-pengalaman musikal Capung secara teknis. Dengan bahasa yang sederhana, istilah-istilah teknis yang dijabarkan sangat mudah dipahami (friendly user) bagi anak band. Segala hal yang berkaitan dengan teknis alat musik ada di sini. Ada juga apa yang bisa dilakukan oleh musisi dalam menyiasati menurunnya penjualan karya. Buku ini berisi banyak tips dan masukan yang tentunya sangat berguna bagi band yang ingin memulai karirnya. Apalagi tips ini ditulis langsung oleh Capung yang mengalaminya, mulai dari jaman analog sampai digital.

Tips lain yang bersifat non-teknis musikal juga dipaparkan di buku ini. Misalnya bagaimana agar bisa memiliki tentang kontrak, budgeting, scheduling, memilih label atau bahkan menyikapi perkembangan jaman dari sisi teknologi. Apa yang bisa disiasati di jaman serba canggih ini dengan pemanfaatan media sosial. Tak ketinggalan pula bagaimana harus bersikap agar menjadi seorang bintang.

Di salah satu bab, terdapat tulisan-tulisan singkat yang pernah ia kicaukan di Twitter dengan cagar #tipsAnakband. Ini adalah sebuah kumpulan tips. Sangat praktis bagi yang ingin sukses dengan mencari jalan cepat alias shortcut. Tentu saja, kumpulan kicauan di bab ini tak bisa menjamin kesuksesan. Tak ada sukses yang datang secara instan. Untuk bisa sukses di dunia musik, perlu (salah satunya) membaca buku ini secara utuh agar bisa memahami dan meniru seorang yang berpengalaman di dunia industri musik supaya bisa menyamai atau bahkan melebihi Capung.

Sebagai seorang “guru” tentu Capung akan merasa bangga jika bisa melahirkan murid yang lebih sukses darinya. Itulah kebahagiaan lain darinya sehingga rela blak-blakan membagikan resepnya, bukan menyembunyikan dan menyimpan untuk diri sendiri. Bukankah “Kebahagiaan yang dibagikan akan menjadi berlipat; kesedihan yang dibagikan akan menjadi berkurang”?

Selain berisi tulisan, di buku ini juga terdapat CD album kompilasi Uniqsoundheart yang salah satunya berisi lagu baru Java Jive, band yang menjadikan Capung menjadi seperti sekarang ini. Sayangnya, buku ini kurang mengupas peran Noey, tandemnya dalam menjadi produser. Noey, menurut saya, adalah nama yang tak bisa lepas dari Capung karena mereka adalah soulmate dalam memproduseri band-band yang sekarang menjadi besar seperti Peterpan/Noah, Letto atau D’Masiv.

Kesaksian dari vokalis band Letto yang diproduserinya, Noe, perlu dicantumkan untuk menutup catatan ini. Menurut Noe: “Sebagai suhu, Kang Capung tidak ‘panas’ atau ‘dingin’. Dialah yang justru paham bagaimana membuat ‘panas dingin’”.

Last but not least, jika anak band bisa menjadi berhasil berkat membaca buku ini, mereka akan bernyanyi:
Kau yang terindah hadir dalam mimpiku
Kini bertemu dalam jalinan kisah
(‘Kau Yang Terindah’, Capung & Java Jive, 1994)

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s