Tulus – Gajah

Tulus - 2014 Gajah wmKesuksesan yang diraih Tulus di album pertama yang merupakan album self-titled dua tahun lalu nampaknya akan berlanjut di album keduanya, Gajah, yang dirilis 20 Pebuari 2014. Lewat judul album yang merupakan panggilannya ketika kecil, Tulus ingin semakin dekat dengan pendengarnya lewat cara menyuguhkan cerita yang personal. Sebagaimana di album pertamanya yang bertema cinta dan liriknya berupa essay, di album ini Tulus masih melakukan hal yang sama dengan menggunakan kiasan pada beberapa judul lagunya.

Beberapa nama pendukung di album pertama Tulus masih ada di sini seperti Ari Renaldi pada drums, piano, perkusi dan keyboard; Rudy Zulkarnaen pada bass atau kontrabas; Topan Abimanyu dan Anto Arief pada gitar; Brury Effendi pada trumpet dan flugethorn. Selain nama-nama tadi, ada juga dukungan dari Matt Ashworth pada saksofon, Raga Dipa Eka Kirana, Laksmitada Dewi Nurul Qolbiah dan Tommy Ilham Junaedi pada biola; Andan Adrian pada selo; Ammy Kurniawan pada gitar serta Ferry Nurhayat dan Lia Amalia sebagai backing vocal.

The Songs
Album yang berisi sembilan lagu ini dimulai dengan lagu berjudul Baru yang sudah sering didengar di radio-radio. Lagu ini bercerita tentang sebuah kisah cinta lama yang dulu ditolak tapi sekarang orang yang dikagumi tersebut ingin kembali. Namun karena sakit hati, sang pengagum tak lagi bersedia menerima. Inilah satu-satunya lagu di album ini yang diciptakan Tulus bersama Ferry Nurhayat. Lagu yang berirama beat menjadikan lagu ini bukan seperti lagu sedih.

Di track kedua ada lagu Bumerang. Penggunaan kiasan bumerang menjadi gambaran yang kurang lebih sama dengan lagu sebelumnya. Dengan tempo sedang, lagu ini sedikit terdengar seperti sebuah lagu folk.

Lagu ketiga adalah Sepatu. Sama halnya dengan Baru, lagu ini sudah sering didengar di radio-radio. Ceritanya tentang cinta yang tak bersatu. Penggunaan kiasan ‘sepatu’ adalah pilihan cerdas untuk menggambarkan cinta yang tak bisa menyatu itu. Irama mellow yang dihasilkan beberapa alat musik seperti string, biola dan selo di lagu ini mendukung sempurnanya cerita di lagu ini.

Bunga Tidur adalah lagu keempat. Lagu ini bercerita tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Musik yang lambat dan vokal Tulus yang tebal di lagu ini membuat Tulus bak seorang yang sedang bercerita dengan artikulasi yang jelas.

Di track kelima, ada lagu Tanggal Merah yang bercerita tentang sebuah pengorbanan demi kebahagiaan orang lain. Iringan musik yang sederhana di lagu ini menjadi ciri Tulus sebagaimana lagu-lagunya di album pertamanya.

Gajah yang menjadi judul album juga merupakan judul lagu yang ada di track keenam. Gajah merupakan panggilan Tulus ketika kecil. Panggilan yang tak begitu nyaman buat Tulusakhirnya dijadikan pemicu untuknya menjadi lebih baik. Kesederhanaan musik di lagu ini menjadikan lagu ini bernada akustik.

Lagu Untuk Matahari menjadi lagu ketujuh di album ini. Lagu ini adalah sebuah penyemangat bagi orang yang dizolimi. Iramanya cukup rancak dan mengingatkan pada musik group manca, The Real Thing.

Di urutan kedelapan, lagu berjudul Satu Hari Di Bulan Juni bercerita tentang sebuah kekaguman dan perasaan cinta terhadap seseorang. Dalam bahasa alm. Gombloh, “kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat”. Tentu saja, Tulus menceritakannya dengan bahasa yang halus dan indah. Musik di lagu ini mengingatkan pada trend lagu tahun 70an.

Album ini ditutup dengan lagu yang judulnya anomali dengan judul lagu cinta pada umumnya, Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Jika umumnya orang meminta mencintai apa adanya, lagu ini justru meminta sebaliknya dengan tujuan agar ada sebuah cambuk pada hubungan mereka. Musik lembut yang mengiringi menjadikan lagu ini begitu syahdu.

Dari kesembilan lagu itu, lirik yang diciptakan Tulus memang tidak lazim seperti lagu umumnya yang mementingkan keindahan rima. Liriknya lebih merupakan sebuah essay, sebuah bentuk karya sastra yang gemar dilakukan oleh Tulus.

Jika dibandingkan dengan album pertama, jenis musik di album ini lebih variatif dan tetap nyaman didengarkan. Tapi entah kenapa, Tulus tak menggenapinya menjadi sepuluh lagu seperti album sebelumnya?

Distribusi
Jika belakangan ini mendapatkan fisik album musik terbilang sebuah kesulitan, ini tak terjadi pada album Gajah produksi Demajors Independent Music Industry. Sehari sebelum rilis resmi, karya dalam bentuk cakram ini sudah bisa diperoleh di toko. Tentu hal ini sangatlah menyenangkan karena tak harus menunggu sekian lama untuk bisa menikmati sebuah karya musik bagus nan original yang dipersembahkan seorang pemuda yang sedang dicari karyanya. Kemasan standar yang membungkus album ini membuat fisiknya awet disimpan tanpa harus khawatir kemasannya rusak.

Bagi penggemar Tulus tapi tak mau repot dengan urusan menyimpan fisik album, lagu-lagunya bisa dibeli di portal i-Tunes. Tapi, menyimpan karya bagus tetaplah lebih menyenangkan dan membanggakan karena bisa menjadi bukti kecintaan terhadap musik Indonesia, bukan hasil copy & paste dari satu gadget ke gadget lain kan?

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s