Dwiki Dharmawan – Collaborating Harmony

Dwiki Dharmawan - 2014 Collaborating Harmony wmOrang boleh bilang industri musik mati suri tapi kreasi tak pernah mati. 30 tahun berkarya di dunia musik Indonesia, Dwiki Dharmawan membuktikannya. Lagu-lagunya yang dulu menjadi hits diinterpretasi ulang oleh penyayi-penyayi yang sebagian belum lahir pada saat lagu-lagu itu membahana. Tak hanya lagu-lagu yang sudah pernah direkam dan menjadi hits pada waktunya, di album Collaborating Harmony yang dirilis dalam rangka 30 tahun berkarya juga terdapat tiga lagu yang belum pernah diproduksi dan masuk ke dalam sebuah album. Inilah bukti kreativitas yang tak pernah mati.

Dwiki Dharmawan yang namanya populer karena group fusion jazz Krakatau tak sekedar bermain alat musik. Ia juga produktif sebagai penulis lagu. Banyak ciptaan lagunya ada di album-album Krakatau, baik komposisi instrument maupun yang berlirik. Ketika Krakatau tak seaktif sebelumnya, di awal 90an musik Indonesia “kawin” dengan dunia pertelevisian (swasta) yang saat itu sedang merekah, lagu-lagu ciptaan Dwiki banyak menghiasi sinetron-sinetron.

Seiring perjalanan hidupnya, dia juga menciptakan lagu rohani yang menjadi lagu generik yang banyak dinyanyikan kaum Muslim dan banyak orang tak sadar (aware) bahwa lagu itu adalah ciptaan Dwiki Dharmawan. Perjalanan musikalnya berlanjut ke musik yang lebih grande yaitu orkestra. Dia membentuk World Peace Orchestra (WPO) yang bertujuan menciptakan kedamaian dunia lewat musik. Di WPO ini, interaksinya dengan musisi level dunia semakin melebar. Dia juga mengajak penyanyi-penyanyi potensial yang namanya tak banyak dibicarakan di industri musik Indonesia.

The Album
9 album dwiki CH wmAlbum ini berisi duabelas lagu. Sembilan lagu merupakan karya lama yang diaransemen ulang dengan gaya dan selera masa kini, satu lagu menjadi theme song sebuah acara yang ditayangkan di televisi dan dua lagu adalah lagu baru. Ketiga lagu itu diaransemen sendiri oleh Dwiki. Dari keduabelas lagu yang ada di album ini, ada satu lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi yang sama. Lagu-lagu lainnya diinterpretasi ulang atau dinyanyikan oleh penyanyi baru.

  • Album ini dibuka dengan lagu Imaji, ciptaan Dwiki Dharmawan bersama Mira Lesmana, yang dinyanyikan Shena Malsiana, penyanyi hasil kontes ajang pencarian bakat, X-Factor. Lagu ini aslinya ada di album pertama Krakatau tahun 1987 dengan vokalis Trie Utami. Shena berhasil membuat lagu ini memiliki “imaji” baru, keluar dari image Trie Utami yang begitu kuat. Lagu yang populer saat Shena belum lahir ini musiknya dikerjakan oleh Badai Kerispatih. Kredit juga perlu diberikan kepada Badai. Selengkapnya tentang Imaji, baca di sini.
  • Lagu kedua, Biru Selintas Rindu dinyanyikan oleh Dalagita, sebuah kelompok vocal yang juga hasil X-Factor. Syair lagu ini ditulis oleh Ferina dan Donny Adoen. Versi aslinya dibawakan oleh almarhum Utha Likumahuwa di album Festival Lagu Populer Indonesia 1984. Karena untuk kebutuhan festival, nuansa grande ada di sana. Di versi interpretasi ulang, Dalagita menyanyikannya tidak serancak versi awal. Suara keenam gadis belia ini mengingatkan pada trio vocal RSD (Rida Sita Dewi) yang juga asal Bandung. Aransemen lagu ini dikerjakan oleh Tanto “The Groove”.
  • Di urutan ketiga, ada lagu Sekitar Kita yang syairnya ditulis oleh Pra B Dharma dan Trie Utami. Versi aslinya ada di album Krakatau, Let There Be Life tahun 1992. Lagu yang di album ini dibawakan oleh TheOvertunes dan aransemennya yang dikerjakan oleh Erwin Bragi ini tak bisa keluar dari versi aslinya sehingga mau tak mau perbandingan dengan lagu aslinya harus terjadi dan versi aslinya yang begitu kuat tak bisa dihilangkan.
  • Hati Seluas Samudra yang dibawakan oleh Nindy dan aransemennya dikerjakan oleh Tito P Soenardi menjadi lagu keempat. Karya yang syairnya ditulis oleh AGS A Dipayana ini aslinya dibawakan oleh Uchie Amyrtha KSP di album OST Hati Seluas Samudera tahun 1994. Peran keyboard dan synthesizer di lagu aslinya mengalami perubahan dengan irama lebih rancak. Nuansa kekinian sangat terasa di sini.
  • Ketika Novia Kolopaking membawakan lagu Dengan Menyebut Nama Allah di album kompilasi Dengan Menyebut Nama Allah tahun 1993, mungkin tak banyak yang tahu (aware) lagu ini ciptaan Dwiki Dharmawan dan syair oleh AGS A Dipayana dan akhirnya menjadi semacam “lagu wajib” yang banyak dilagukan kaum Muslim terutama pada bulan Ramadhan. Lantunan suara Novia yang lembut menjadikan lagu ini khusuk. Di versi interpretasi ulang aransemen musiknya digarap oleh Tito P Soenardi. Lagu yang dibawakan oleh Lana Nitibaskara yang namanya mencuat karena perannya di film Ambilkan Bulan dan sekaligus menyanyikan lagu itu di album OST tersebut terasa segar tanpa mengurangi kekhusukan lagu ini. Syair yang begitu kuatlah yang membuat lagu ini tak kehilangan roh sebagai lagu rohani.
  • Lagu Sia-sia Kumenunggu aslinya dibawakan oleh Dwiki Dharmawan sendiri di album solonya, Dwiki Dharmawan, 1991. Satu hal yang sangat jarang dilakukannya. Karya ini terinspirasi oleh puisi karya KH Toto Tasmara. Di album ini, lagu ini diaransemen oleh Sumantri dan dinyanyikan oleh kelompok boyband XO – IX. Dengan garapan musik yang lebih modern dengan tambahan rap, XO-IX berhasil menghilangkan kesan pop jazz yang terdapat di versi aslinya.
  • Deru Debu aslinya dinyanyikan almarhumah Nike Ardilla di albumnya, Sandiwara Cinta (1995) dan juga merupakan OST Sinetron dengan judul yang sama. Di album ini, lagu ini diaransemen Baron, eks gitaris band Gigi dan dibawakan oleh Margareth. Versi interpretasi ulang ini menunjukkan kemampuan Baron yang lebih ramai dibanding versi aslinya yang lebih sederhana.
  • Melangkah Di Atas Awan adalah judul sinetron sekaligus judul lagu. Lirik lagu ditulis oleh Putu Wijaya dan lagu aslinya dibawakan oleh Ronnie Sianturi di album OST Melangkah Di Atas Awan (1997). Di album ini, musik diaransemen oleh Badai Kerispatih dan lagu dinyanyikan oleh Alex Rudiart, penyanyi yang juga berasal dari kontes X-Factor. Dibanding dengan versi aslinya yang “sederhana”, versi baru ini dibuat oleh Badai dengan kesan grande, menyesuaikan karakter suara Alex yang rock sehingga terciptalah nuansa pop rock di lagu ini.
  • Lamarelas’s Dream sebagai lagu kesembilan adalah lagu baru. Syair lagu ini ditulis oleh Ivan Nestorman yang selalu menyertai Dwiki sejak proyek WPO. Lagu yang bercerita tentang keindahan Lamalera dinyanyikan oleh Dira Sugandi yang suaranya bak Whitney Houston. Kedahsyatan suara Dira membuat lagu ini
  • Lagu kesepuluh adalah Bidadari Yang Terluka yang syairnya dibuat oleh Eddy D Iskandar. Inilah satu-satunya lagu di album ini yang versi aslinya dinyanyikan oleh penyanyi yang sama, Ita Purnamasari. Aransemen yang dulunya dikerjakan oleh Dwiki, di album ini dibuat oleh Takaeda. Tak banyak perbedaan mencolok di versi aransemen ulang ini kecuali irama yang lebih modern dan nge-rock.
  • Sita Nursanti, salah seorang anggota trio RSD, menyanyikan lagu baru, Kerinduanku sebagai lagu kesebelas. Lagu yang diciptakan Dwiki atas kerinduan yang dalam kepada ibunya ini dibuat pada 17 November 2013. Tentu ini lagu yang sangat baru. Suara sopran Sita memberi kesan lagu ini bak lagu opera yang grande.
  • Album ini ditutup dengan lagu We Are Many We Are One yang dibawakan Nicky-Kiki XO-IX & Hesty-Lia OMG. Lagu yang diciptakan di tahun 2012 awalnya dinyanyikan oleh Dira Sugandi dan syairnya ditulis oleh Ivan Nestorman. Ini adalah lagu untuk OST Ring of Fire Adventures yang ditayangkan Metro TV. Ring of Fire Adventure adalah sebuah perjalanan yang dilakukan seorang ayah dan anak-anaknya dengan menggunakan motor melintasi Indonesia untuk menunjukkan keindahan negara ini.

Sebagai seorang musisi yang konsisten berkarya selama tiga dekade, pantaslah seorang Dwiki Dharmawan memiliki banyak karya dalam karirnya. Tak mungkin memaksa generasi masa kini untuk mendengar lagu-lagu yang hits pada saat mereka belum lahir. Waktu terus berputar. Penyesuaian pasti harus terjadi. Yang bisa dilakukan adalah mengaransemen ulang lagu-lagu itu sesuai perkembangan jaman. Aransemen ulang atau versi baru adalah istilah yang tepat, bukan daur ulang karena karya seni bukanlah sampah! Karya seni bersifat langgeng, dan menarik pula mengutip apa yang dikatakan oleh Badai kepada saya bahwa seni itu dinamis, mengikuti jaman.

Ditambah kreasi baru yang tak pernah habis dari seorang Dwiki, lagu-lagu yang tampil dengan nafas baru berarti menyelaraskan karya-karya yang dulunya menjadi hits agar kembali menjadi hits. Mungkinkah itu yang dimaksudkan dengan collaborating harmony? Menyelaraskan karya lama agar tetap harmonis dengan masa kini …..

Distribusi, Kemasan & Kredit
Album produksi Sony Music yang diluncurkan secara resmi tanggal 25 Pebruari 2014 ini sudah tersedia di toko-toko CD umum sebelum tanggal peluncuran. Peredarannya yang masif membuat penggemar musik tak mengalami kesulitan mendapatkannya. Dengan kemasan standar casing mika, album ini bisa awet dikoleksi.

Sayang, beberapa data mengenai penulis lirik dan tahun yang ada di kredit album ini kurang akurat saat dibandingkan dengan album aslinya. Padahal, data itu penting karena tak bisa lepas dari sejarah.

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s