Ahmad Dhani – Sebuah Jendela

Singo & Dhani 20140327

 

 

 

Ngobrol dengan musisi yang saya koleksi karyanya adalah sebuah kesempatan menyenangkan. Terlebih jika musisi tersebut memiliki karya-karya bagus. Salah satunya adalah Ahmad Dhani, pentolan Dewa 19. Saya termasuk orang yang beruntung bisa ngobrol dengannya. Tak banyak orang yang memiliki kesempatan itu. Beberapa kali saya ngobrol dengannya, dan saya semakin mengenalinya. Kami berbicara dengan bahasa Suroboyoan yang akrab dan mengasyikkan.

Sebagai sesama kolektor kaset album Indonesia, obrolan kami tak jauh dari musik Indonesia. Pertama kali berjumpa, saya meminta sign pada kaset-kaset album Dewa 19. Lalu kami berdiskusi tentang musisi Indonesia lama, 80an. Saya yang tak bisa memainkan alat musik, menjadi tau bagaimana pandangannya tentang kualitas musik tahun 70-90an yang menurutnya bagus.

Kami tak hanya bertukar info tentang album-album musik Indonesia, tapi lebih dari itu, Dhani membuka cakrawala saya tentang aliran musik yang pada periode tertentu mengalami perubahan. Dulu saya berpikir rentang waktu pergantian musik adalah per dasawarsa tapi Dhani sebagai praktisi dunia musik telah memberikan gambaran baru pada saya. Mungkin bagi banyak orang, saya termasuk tidak cakap karena tak mengetahui hal ini sebelumnya, tapi, saya selalu percaya pengetahuan tak pernah datang terlambat.

Tak banyak musisi yang saya jumpai dan bersedia memberikan ”pencerahan” pada saya tentang pengetahuan musik. Apa yang dilakukan Dhani lebih pada tanggung jawabnya tentang kebenaran. Dia bukan orang yang pelit berbagi pengetahuan. Ketika saya memberikan informasi yang dia tak tahu, dia tak membantah. Dia bukan orang yang merasa tahu segalanya supaya dianggap lebih pintar dari orang lain. Dia menangkapnya. Yang terjadi adalah sebuah diskusi, diskusi antar teman. Bukan diskusi antara orang yang lebih tahu dan kurang tahu.

Berbicara dengan Ahmad Dhani membuat saya menjadi lebih tahu pandangannya tentang banyak hal. Tak hanya soal musik tapi juga tentang pengetahuan agama sebagaimana biasa dia kicaukan di lini masa akun Twitternya. Pandangannya tentang agama adalah pandangan yang universal. Dia tak terkotak pada sebuah ruang yang bernama fanatisme sempit sementara beberapa orang merasa sudah menjadi nabi bagi agamanya ketika mengetahui banyak hal tentang agamanya namun hanya berputar di sana tanpa menerapkan toleransi.

Tak jarang pula muncul kelucuan-kelucuan spontan ketika berbicara dengannya. Dhani adalah orang dengan sense of humor yang bagus. Ia bisa saja membuat joke tentang pendapat orang terhadapnya sebagai sosok yang kontroversial. Apa yang disampaikannya lebih banyak bersifat faktual meskipun kadang bagi beberapa orang itu adalah kesombongan. Saya pribadi tak menangkap itu sebagai kesombongan tapi sebuah fakta yang dibungkus dengan gaya bicara humor. Well, setiap orang punya cara pandang yang berbeda. Tinggal bagaimana kita berpendapat saja.

Berbicara dengannya membuat pembicaraan bisa kemana saja. Tak terbatas pada musik tapi juga hal-hal keseharian yang membuat saya semakin mengaguminya. Rasanya tak ada lagi sekat yang menghambat tapi saya harus tahu diri untuk tidak menanyakan hal-hal yang sifatnya tidak dia sukai. Atau, suatu saat saya bisa bernasib seperti wartawan infotainment yang tak semua bisa diterima untuk mewawancarainya.

Tak pernah bosan berbicara dengannya. Mungkin kali lain, saya masih bisa berbicara dengannya sambil menikmati beberapa cangkir lemon tea, minuman kesukaannya.

 

Tj Singo

Advertisements

2 thoughts on “Ahmad Dhani – Sebuah Jendela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s