Tantri Kotak – Lady Rocker Indonesia Berikutnya…..

Singo & Tantri 2011 11 30

Siapa saja Lady Rocker Indonesia? Sebutlah Sylvia Saartje yang melambung di tahun 70an dan dinobatkan sebagai lady rocker pertama Indonesia. Lalu Renny Djajoesman, Nicky Astria dan Ita Purnamasari yang berkibar di tahun 80an. Di tahun 90an ada cukup banyak. Sebut saja Anggun C Sasmi, Conny Dio, Inka Christie, Mel Shandy, Nike Ardilla dan Yosie Lucky. Nah, di awal 2000an, rasanya tak ada lady rocker yang menonjol. Kini, memasuki 2010 kedepan nampaknya gelar itu bisa ditujukan untuk Tantri yang bernama asli Tantri Syalindri Ichlasari. Tapi, bagaimana Tantri sendiri menyikapi sebutan itu?

Ditemui beberapa saat yang lalu, Tantri menyediakan waktunya khusus sebelum latihan lagu baru yang akan dibawakannya manggung malam itu. Kami membuka obrolan dengan pertanyaan apakah ia setuju dengan sebutan lady rocker untuknya. Yang terjadi malah Tantri justru mempertanyakan apa arti lady rocker. Ah, cewek manis ini ditanya, malah balik tanya. Seperti lagu lirik ‘Question’ dari Manfred Mann’s Earth Band ya? Itu lho, lagu terkenal yang cuplikan liriknya “They answered my questions with questions”.

Bagi dia, kalau sebutan itu diartikan sebagai perempuan yang bisa menyanyikan lagu rock, ya bolehlah. Tapi kalau membandingkan sebutan itu dengan para senior yang disebut di awal tulisan ini, dia sendiri merasa belum pantas untuk sebutan itu. Dia merasa berat dengan predikat lady rocker jika dibandingkan mereka. Ah, Tantri merendah nih. Apa alasannya sehingga dia merasa belum pantas? Salah satunya adalah kemampuan dia menyanyi pada oktaf yang tinggi. Dia menyontohkan bagaimana Nicky Astria – yang awal berkarirnya di tahun Tantri belum lahir – masih mampu bernyanyi dengan santai dan stabil pada nada-nada di oktaf tinggi. Namun, Tantri bertekad untuk terus belajar agar bisa seperti para lady rocker itu. Dia selalu membeli DVD Workshop Vokal Bersama Indra Aziz dan juga CD Latihan Vokal VokalPlus untuk menyempurnakan kemampuan tarik suaranya.

Tantri yang kini vokalis Kotak sejak kecil memang suka bernyanyi. Adalah ayahnya yang menjadi inspirasi pertamanya karena ayahnya juga seorang penyanyi. Dari ayahnyalah dia belajar bernyanyi dan boleh dibilang ayahnya adalah orang yang “menjebloskan” Tantri ke dunia tarik suara. Awalnya ayahnya tidak yakin dengan kemampuan sang anak. Tapi, ketika SMP, Tantri mengikuti lomba vokal dan berhasil menyabet juara ketiga sehingga ayahnya melihat bakat sang anak. Kemudian ayahnya mengirim Tantri ke kursus vokal meskipun hanya 2 bulan dan tidak berlanjut karena faktor biaya. Tapi, waktu dua bulan itu sudah memberikan pelajaran berharga buatnya. Ayahnya sering memutar lagu-lagu rock lama seperti ‘Panggung Sandiwara’, ‘Mimpi’, ‘Mengapa’, lagu-lagu AC DC, Queen dan lain-lain. Pulang sekolah, dia berlatih menyanyikan lagu-lagu itu lewat peralatan karaoke di rumahnya. Dan, ‘Panggung Sandiwara’ (Duo Kribo) menjadi lagu yang paling dia hapal luar kepala, “hapal mampus”, istilah Tantri.

Ihwal bagaimana suaranya sekarang bisa menjadi “pecah”, Tantri menceritakan itu adalah sebuah blessing in disguise. Lagu pertama – sekaligus lagu rock yang paling dia suka – yang dia kulik bersama band pertamanya adalah ‘Killing In The Name’ milik Rage Against the Machine Killing. Gara-gara menyanyikan dengan frame gak jelas alias salah cara, ia malah mendapatkan suaranya seperti sekarang ini. Nampaknya Tuhan memang menciptakan Tantri lewat cara itu ya?

Terus, kapan pertama kali nge-band? Dengan Ares? Ternyata bukan. Penyanyi ini memulai karirnya dengan band pertamanya, Athena, dan sempat masuk dapur rekaman dengan pengerjaan yang sederhana. Albumnya hanya dibuat dan beredar terbatas di sekitaran Tangerang. Band ini memainkan musik rock di awal tahun 2000. Kemudian Tantri bersama Ares ikut Dream Band di tahun 2005. Bersama band ini, dia mulai masuk dunia industri musik. Keputusannya bergabung dengan Kotak yang juga lahir dari ajang yang sama tahun sebelumnya disebabkan dia harus move on karena kondisi ayahnya yang terkena stroke. Dia harus membuat keputusan agar lebih produktif untuk keluarganya. Di Kotak, dia tak langsung ikut manggung. Masa penyesuaian terjadi selama dua tahun. Tantri melalui sebuah proses untuk jadi seperti sekarang ini.

Gaya panggungnya yang sekarang ini tak lepas dari bagaimana dia mengidolakan Armand Maulana, vokalis Gigi. Sempat menjadi perbincangan orang sebagai jelmaan Anggun, Tantri memang menjadikan Anggun sebagai role model bagi kehidupannya. Dari Anggun lah, Tantri mendapatkan banyak pelajaran bagaimana harus menghadapi kehidupan. Ia kagum bagaimana idolanya itu cuek menanggapi suara-suara miring yang beredar dan mengatasi masalah-masalahnya.

BTW, bagaimana rencana ke depan? Tantri agak enggan bicara tentang itu. Dia lebih memikirkan bagaimana sekarang dia bisa terus berjuang bersama Kotak. Dalam waktu dekat, mereka akan menerbitkan album lagi. Bagi dia dan group nya, album tetap harus ada sebagai bentuk karya. Masalah distribusi, manajemen sudah belajar dari peredaran album sebelumnya yang lewat gerai rumah makan ayam goreng. Dengan berseloroh, Tantri mengatakan mungkin album berikutnya akan di-bundling dengan warteg saja karena warteg ada dimana-mana. Saat ini, diakui Tantri, adalah saat yang sulit untuk menjual fisik album. Sampai-sampai ia menyarankan mereka yang tertarik masuk ke dunia musik untuk berpikir seribu kali kalau mau masuk dunia industri. Jangan berharap bisa hidup jika hanya mengandalkan penjualan fisik kecuali materi albumnya bagus dan didukung manajemen yang handal, Ah, semua merasakan hal yang sama. Ini keprihatinan kita semua terhadap dunia industri musik Indonesia.

Untungnya, Tantri berada di Kotak. Jadwal manggungnya yang padat memberinya rejeki. Selain membagikan rejeki itu untuk keluarga, Tantri juga berbisnis clothing dan kuliner. Ya, inilah persiapan masa depan yang sebenarnya enggan dia bicarakan secara detil. Bisa saja 20 atau 30 tahun ke depan, ia tinggal di Yogya karena ia memang punya darah Yogya dari ibunya sambil terus melakukan kegemarannya menyanyikan lagu-lagu rock.

Kalau dia terus menyanyikan lagu rock, apa dia tak pantas disebut lady rocker? Ada ungkapan “Voc populi, voc Dei” yang artinya “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Kalau rakyat sudah memberi gelar lady rocker, apa dia bisa menolak? Yang disuarakan rakyat adalah suara Tuhan lho. Kamu tak bisa menolaknya. Terima sajalah gelar itu. Toh kamu tak memintanya. Orang-oranglah yang memberikannya padamu. Setuju kan, Tan? Pastilah suatu saat kamu akan merasa pantas mendapat gelar itu karena dari caramu bicara, kamu adalah orang yang punya tekat untuk belajar menyempurnakan talenta yang Tuhan berikan padamu. Teruslah bicara apa adanya dengan ceria sambil sesekali mengulang masa kecilmu dengan meniup balon dan menghabiskan coklat sehingga suasana wawancara ini jadi akrab. Stay rocking and stay humble ya….

 

Tj Singo

artikel ini pernah dimuat di: http://newsmusik.co/index.php/profile/female/item/886-tantri-syalindri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s