Vina Panduwinata – Bintang Besar Nan Rendah Hati

with VP text res

Di suatu siang di tahun 1980an awal, ketika saya masih SMA, sekolah pulang lebih awal. Bersama teman bernama Agus Arimbawa, saya main ke rumah Budi Suliswanto, teman sekelas juga. Rumahnya di daerah Tembaan di kota Jember. Pembicaraan tanpa rencana dan topik itu akhirnya sedikit terfokus pada musik ketika pemutar kaset di kamar Budi memperdengarkan lagu-lagu album Citra Ceria milik Vina Panduwinata.

Kemudian kami mulai berdiskusi tentang penyanyi itu dan lagu Di Dadaku Ada Kamu yang saat itu menjadi hits. Album itu adalah album ketiga Vina Panduwinata sejak dia berkarya di Indonesia. Diskusi juga membahas tentang lagu-lagu dari album sebelumnya yang membuat Vina menjadi penyanyi top  termasuk Citra Biru dan September Ceria ciptaan James F Sundah.

Bagi saya yang saat itu lebih suka lagu-lagu dari luar negeri, membeli kaset Indonesia bukanlah sebuah prioritas. Lagu-lagu Vina lebih banyak saya dengarkan lewat radio-radio yang memang sering memutar lagu Vina dan Chrisye. Tentu, ada cara lain untuk mendengarkan dengan lebih intens yaitu meminjam pada teman.

Budi dan Agus boleh jadi menjadi provokator saya untuk mendengarkan lagu-lagu Vina Panduwinata karena dari pertemuan itu saya meminjam kaset Budi dan menjadi hafal dengan lagu-lagunya. Tapi, sebenarnya, provokator pertama saya adalah teman lain bernama Sugeng Hardjanto yang saat itu juga jagoan dalam pengetahuan musik.

Sejak itu, lagu-lagu Vina menjadi menu utama saya. Ketika lulus SMA dan melanjutkan studi di Yogya, telinga saya lebih dimanjakan oleh lagu-lagu Vina Panduwinata karena di kota ini, jumlah radio lebih banyak.

Album Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) 1985 adalah album kompilasi yang berisi suara Vina Panduwinata yang pertama saya beli. Album kompilasi itu sendiri berisi lagu-lagu yang bagus namun alasan saya membeli lebih karena lagu Burung Camar dan Satu Dalam Nada Cinta. Di ajang itulah, Vina mendapatkan gelar Burung Camar karena lagu yang dinyanyikannya.

Ketika album Cinta dirilis di tahun 1985, lagu Kumpul Bocah, Cinta dan Aku Cinta Kepadamu adalah menu seharian meskipun hanya lewat radio. Tapi, ketiga lagu itu sangat sering diputar sehingga tanpa harus memiliki kasetnya, saya sangat hafal dengan ketiga lagu itu. Saat itu, membeli album belum menjadi hobi saya. Saya lebih suka membeli album kompilasi yang boleh dibilang murah karena dengan harga yang sama bisa dapat banyak lagu bagus.

Album Cium Pipiku yang dirilis tahun 1987 menjadi starting point dimana selanjutnya saya tak pernah luput membeli album-album Vina Panduwinata sampai sekarang. Lagu-lagu di album itu tiap hari saya putar di pemutar kaset yang saya miliki sekaligus album ini menjadi album favorit saya. Hampir tiada hari tanpa memutar album ini. Tak perlu lagi menunggu lagu-lagu itu muncul di radio karena request. Saya sudah bisa setiap saat memutarnya. Saya khatam Surat Cinta, Cium Pipiku, Biru, Logika, Si Bogel, dan semua lagu di album itu.

Ketika Vina merilis album WOW di 1989, saya langsung membelinya. Wajib hukumnya membeli album-album Vina yang telah jadi favorit saya. Dan ini berlanjut ke album Rasa Sayang Itu Ada (1991), Aku Makin Cinta (1996), Vina 2000 (2000), Bawa Daku (2002) sampai Vina for Children (2002) maupun kompilasi-kompilasi terbaik yang semuanya tidak resmi serta satu-satunya album kompilasi terbaik yang resmi, Terbaik 1981 – 2006 (2006).

Sebagai seorang fans, tentu ada keingingan untuk bertemu idola. Normal lah…. Dan, saya percaya serta optimis suatu saat pasti saya bertemu dengan Vina Panduwinata idola saya. Kesempatan itu akhirnya datang juga. Kira-kira tahun 2001, seorang teman yang sering menjadi MC di acara-acara gathering mengirim info bahwa dia akan menjadi MC acara ulang tahun dan bintang tamunya adalah VINA PANDUWINATA!

Maka, saya tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk menemuinya. Terima kasih mbak Ninda Kariza yang sangat “kutau yang kau mau”. Dengan baju yang keren, kotak-kotak tapi bukan baju Jokowi yang saat itu tak terbayangkan akan jadi pemimpin hebat di negara ini, dengan semprotan parfum sewangi mungkin, saya bergegas menuju hotel tempat acara itu diadakan. Saya tak keberatan menunggu sang idola selesai menyanyi meskipun sebenarnya saya ingin menyaksikannya.

Malam itu saya membawa semua cover album yang melibatkan Vina Panduwinata. Tak hanya album solo Vina Panduwinata tapi album-album kompilasi lainnya. Saya lupa tanggalnya, karena waktu itu tanggal di kamera bermerek Pentax yang saya bawa sudah rusak. Tak lagi bisa mencatat tanggal pada foto. Saat itu, buat saya tak penting. Yang penting adalah bertemu dengan idola. Tapi entah kenapa sekarang saya menyesal tidak mencatat tanggal itu secara manual.

Interupsi sebentar ah. Sebenarnya, pertemuan dengan sang idola saat itu bukanlah pertemuan pertama. Pertemuan pertama dengan sang idola sebenarnya sudah pernah terjadi tapi saat itu saya tak menyadari bahwa orang yang saya salami itu adalah Vina Panduwinata. Ceritanya, saya menghadiri pesta pernikahan seorang teman di Graha Sabha Pramana UGM. Suami teman saya ini merupakan saudara dari suami Vina Panduwinata. Hubungan detilnya saya lupa.

Vina Panduwinata dan suami menjadi among tamu di acara itu. Saat menyalaminya, saya merasa seperti kenal dengan orang itu. Setelah lewat, baru saya sadar itu adalah Vina Panduwinata. Untuk meyakinkan diri, saya bertanya pada sang mempelai wanita yang mengiyakan pernyataan saya. Oalah…. Koq saya gak tau ya? Apa karena tidak menyangka atau karena saking “manglingi” sehingga saya tak tahu orang yang saya salami adalah idola saya? Ah, lupakan saja. Yang penting toh pernah bertemu …..

Nah, sekarang balik lagi ke malam pertemuan itu yang saya anggap sebagai pertemuan pertama. Menemui seorang bintang membuat saya kadang grogi, khawatir kalau sang bintang tidaklah sebaik yang saya kira. Jika ini terjadi, pertemuan akan berakhir dengan kekecewaan. Vina Panduwinata adalah sebuah nama besar. Sebesar nama Chrisye, idola saya lainnya. Ketika saya menyodori cover-cover album untuk minta tanda tangan, ternyata Vina menyambut saya dengan baik. Wussssss…. Lega hati saya.

Begitupun ketika saya meminta kesempatan berfoto bersama. Duh, groginya minta ampun….. Dan detak jantung yang tak berarturan itu tak segera berakhir ketika pertemuan selesai. Saya pulang dengan membawa hati yang deg-degan bercampur kebahagiaan. Ketemu idola geto lho …..

Setelah pertemuan itu, keinginan bertemu lagi memang ada. Tapi, kapan? Saya berharap banyak tapi juga realistis. Di tahun 2008, tepatnya bulan Juni tanggal delapan, saya ke Jakarta untuk menonton konser kecil Rumpies di sebuah café yang saya lupa namanya. Peristiwa itu terjadi karena provokasi teman-teman media sosial Multiply yang sudah almarhum. Pertemanan dunia maya yang hangat saat itu membuat saya terprovokasi untuk bisa ke Jakarta menonton Rumpies plus jumpa darat dengan teman-teman dunia maya.

Jadilah nonton Rumpies waktu itu sebagai pertemuan berikutnya dan kesempatan foto bersama idola kedua kalinya. Saat itu, pertemuan dengan Vina difasilitasi oleh penyanyi wanita favorit saya lainnya, Trie Utami. Trie Utami memang ikut memprovokasi saya untuk nonton Rumpies dengan iming-ming bisa ketemu Vina. Ah…..

Tak pernah ada kata bosan untuk bertemu idola. Di tahun 2010 ketika Vina Panduwinata merilis album Kekuatan Cinta, sebenarnya saya mendapat undangan untuk hadir di acara launching album itu. Undangan disampaikan oleh Ine Atilla, sang manager via komunikasi dengan pesan singkat. Saya sungguh menghargai sang manager yang benar-benar menjadi humas untuk sang bintang.

Saya mengalami bagaimana beberapa manager artis lebih berfungsi sebagai “watch dog” daripada humas. Mereka lebih banyak menutup akses pertemuan sang idola dan penggemarnya. Ine adalah manager yang humas dan humanis, bukan watch dog. Sayangnya, saya tak bisa menghadiri acara itu karena harus berada di rumah menjaga anak-anak. Meskipun tak hadir di acara itu, Ine mengirim album itu ke saya. Album yang dikirimkan menjadi spesial buat saya karena itu edisi “Not For Sale”. Tapi, saya tetap yakin selalu akan ada pertemuan berikutnya.

Di tahun 2011, tepatnya tanggal 17 Maret, saya kembali bertemu idola yang selanjutnya dipanggil Mama Ina ini. Mama Ina datang ke Yogya mengisi acara gathering sebuah bank. Kali ini, saya meminta lebih banyak tanda tangan di cover-cover albumnya yang belum sempat ditandatangani sebelumnya. Tak hanya itu, album-album kompilasi seperti FLPI, LCLR atau yang lain tapi resmi saya mintakan juga tanda tangan idola saya ini. Salah satunya adalah sebuah album kompilasi rohani Remembrance of Allah (2009) yang edar terbatas untuk kalangan sendiri. Saya mendapatkan album ini dari sang produser, Adi Adrian, pemain kibor KLa Project, secara gratis.

Saat itu, saya tak lagi meminta sign di album-album kompilasi yang tidak resmi. Saat pertemuan pertama saya jadi tahu bahwa banyak album kompilasi Vina Panduwinata (juga Chrisye) yang terbit tanpa pemberitahuan ke sang artis. Saya menyebutnya album kompilasi haram. Tidak meminta sign di album seperti ini buat saya adalah lebih ke penghargaan pada sang artis yang menjadi “korban” kapitalisme yang mengabaikan hak ekonomi artis.

Setelah album Kekuatan Cinta, saya masih mendapatkan kiriman album berikutnya yang juga edar terbatas. Album itu adalah Abdimu (2011). Sebuah album berisi karya-karya Ria Prawiro yang didedikasikan untuk sang almarhum ayah, Radius Prawiro. Album ini berisi tulisan Ria Prawiro sebagai hadiah ulang tahun untuk saya yang sudah lewat dari saat album ini dirilis bulan Mei. Hanya selisih beberapa hari. Bukankah hadiah ulang tahun boleh diterima kapan saja, bahkan sampai ulang tahun berikutnya? Ha…ha…ha….. Sekali lagi, terima kasih buat Ine yang sudah mengirimkan album ini untuk saya.

Hampir setiap tahun, saya selalu mengirim ucapan ulang tahun untuk idola saya ini. Sebelum kenal Ine, saya selalu menitipkan ucapan itu lewat teman yang mengenal Vina. Entah disampaikan atau tidak, itu menjadi tak penting. Semenjak mengenal Ine, setiap tahun saya menitipkan ucapan ulang tahun untuk Vina Panduwinata dan ucapan itu pasti disampaikannya. Pernah juga, ucapan saya dibalas dengan ucapan terima kasih yang direkam dan dikirim oleh Ine ke saya. Tak ada kebahagiaan lain selain dibalasnya ucapan itu.

Tahun ini, saya mengirimnya secara langsung lewat aplikasi Whatsapp. Ini bukan tanpa alasan. Saya merasa tersanjung ketika beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan broadcast message dari Vina bahwa dia akan tampil di sebuah acara televisi. Ini artinya, sang idola menyimpan nomer saya. Wow….. ku melihat cinta, di bola matanya…

Vina Panduwinata, seorang penyanyi Indonesia yang besar namanya namun sangat rendah hati. Dia mengingat dan tak mengabaikan pemujanya yang bagi beberapa bintang kehadiran seorang fans belum tentu punya arti.

Mama Ina….
Happy birthday ya….
Selalu Sehat, selalu bahagia…..

Begitu ucapan yang saya kirim hari ini…..

Singo
biar bogel (bocah gelo) aku cinta kamu …

 

Capture21_51_56

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s