Pongki Barata – Pongki Meets The Stars

Pongki Barata - 2014 Pongki Meets The Stars wmMenginterpretasi ulang karya-karya lama yang sudah populer menjadi satu album kompilasi dengan artis-artis yang berbeda dari sebelumnya bukanlah barang baru. Di tahun 2003, Sony Music Indonesia merilis Tribute To Ian Antono, sebuah album yang berisi karya-karya ciptaan Ian Antono sang gitaris God Bless dan Gong 2000 yang dinyanyikan para musisi yang bernaung di bawah label perusahaan rekaman tersebut.

Di tahun 2004, label tersebut merilis Salute To Koes Plus/Bers yang berisi lagu-lagu legendaris Koes Plus dan atau Koes Bers di bawah komando Erwin Gutawa yang memang sejak kecil sudah mengagumi kelompok band bersaudara tersebut. Musisi yang terlibat di album itu juga mereka yang bernaung di label tersebut.

Di awal tahun ini, tepatnya bulan Februari, Sony Music kembali melakukan hal ini dengan karya-karya Dwiki Dharmawan yang dirangkum dalam album Collaborating Harmony. Album ini dirilis dalam rangka 30 tahun Dwiki Dharmawan berkarya. Detil ulasan album ini bisa dibaca di sini.

Tahun 2011, Lilo, gitaris KLa Project mewujudkan impiannya membuat sebuah karya yang berisi interpretasi ulang lagu-lagu KLa Project yang memang merajai dunia musik Indonesia sejak akhir tahun 1980 sampai awal 2000. Karya itu diberi tajuk A Tribute To KLa Project. KLa Project yang bernaung di perusahaan sendiri, KLa Corp, memiliki keleluasaan memilih musisi untuk membawakan karya-karya mereka. Selain leluasa, Lilo juga memiliki tantangan tersendiri menggabungkan para musisi yang bernaung di bawah perusahaan rekaman yang berbeda-beda.

Salah satu musisi yang membawakan karya KLa Project di album itu adalah Pongki Barata yang di tahun ini menjadi komandan mengumpulkan musisi untuk menginterpretasi ulang karya-karyanya dalam satu album, Pongki Meets The Stars. Album yang diproduksi oleh Music Factory yang memiliki outlet distribusi gerai restoran ayam goreng cepat saji yang berasal dari negara Paman Sam di seluruh nusantara sedikit berbeda dengan album-album yang telah disebut di atas karena terdapat tiga lagu baru ciptaannya.

Pola menampilkan lagu-lagu yang sudah populer (baca: laris) memang cocok dengan cara dagang Music Factory yang lebih suka menjual produk yang pasti laku, baik artis maupun lagu, sehingga tak mengherankan jika Music Factory bersedia menangkap tawaran Pongki dibanding artis lain yang hendak menjajakan karya barunya. Inilah sistem dagang yang tak bersedia rugi yang tentu juga disenangi siapa saja.

Sama halnya dengan A Tribute To KLa Project, Pongki juga leluasa memilih musisi yang membawakan karya-karyanya dengan harus berkompromi dengan label-label naungan para artis sambil memberi label “courtesy of…….” yang tentu saja kalkulator label-label tersebut dalam posisi ON.

Pongki yang lebih suka menyebut berkarya dibanding bekerja (di musik) memang salah satu song writer berkualitas di dunia musik Indonesia. Kemampuannya menciptakan lagu tak usah diragukan. Sejak mendapatkan kado sebuah gitar akustik dari ayahnya di tahun 1990, hidupnya langsung berubah karena ia tak mau gitar itu diminta kembali oleh ayahnya jika dalam dua bulan ia tak berkarya.

Tantangan (sekaligus ancaman?) dari ayahnya dan kekhawatiran kehilangan gitar itu membuat lelaki kelahiran Pontianak dan seorang sarjana Pendidikan Bahasa Inggris ini tancap gas menghasilkan karya-karya indah. Bersama Jikustik, group band yang menaikkan namanya, ia berkarya. Tentu saja, tak semua karyanya bisa dibawakan oleh group yang akhirnya ia tinggalkan di tahun 2010 karena setiap band pasti punya “pakem” sendiri.

Karya-karyanya melebar, tak hanya untuk Jikustik. Sebagai orang yang memiliki talenta, tentu ia ingin mencoba “kesaktian”nya untuk diuji musisi lain. Kesaktiannya semakin “mandraguna” ketika karya-karyanya sukses di pasar. Selain menciptakan lagu untuk penyanyi yang saat itu baru memulai karirnya, Pongki termasuk “nekat” karena ia juga menciptakan lagu di awal karirnya untuk penyanyi yang sudah punya nama besar.

Karya-karyanya bersama Jikustik dan yang ia ciptakan untuk musisi lain ditambah tiga karya baru menghiasi album yang tak bisa sepenuhnya disebut tribute to atau semacamnya. Dan sebagaimana sebuah album yang berisi lagu interpretasi ulang, tak semua lagu akan bisa sesukses versi awal namun juga bukan tidak mungkin ada lagu yang justru menjadi sebuah hits baru. Ulasan di bawah ini tentu tak bisa lepas dari sebuah perbandingan tapi juga mengingatkan betapa sebuah karya juga membutuhkan pembawa pesan yang tepat untuk bisa diterima oleh pendengar.

 

The Songs
Album ini awalnya direncanakan berisi delapan lagu yang kalau saja terjadi bisa memenuhi kriteria “tribute to”. Proses pemilihan lagu dilakukan terlebih dahulu baru kemudian memilih musisi yang cocok membawakan laguya. Selain kemampuan dan karakter, faktor bisa bekerja sama juga menjadi kata kunci bagi Pongki untuk membuat mereka bergabung di album ini.

Namun, hasil diskusi antara Pongki dan pihak label membuat album ini akhirnya berisi 14 lagu dimana enam lagu tambahan itu termasuk karya-karya yang belum pernah masuk di album dan tambahan lagu duet Pongki & Sophie (Setia), Astrid serta Blink.

Dari 14 lagu yang ada di album ini, separoh persis merupakan karya Pongki yang dibawakannya bersama Jikustik dimana satu lagu dibawakan oleh penyanyi yang berbeda. Lagu-lagu yang dulunya dibawakan oleh Jikustik yang ada di album ini adalah: 1000 Tahun, Bahagia Melihatmu Dengannya, Setia, Untuk Dikenang, Selamat Malam Dunia dan Pandangi Langit Malam Ini.
• Di album ini, 1000 Tahun Lamanya dibawakan oleh Tulus, penyanyi yang sangat populer saat ini. Lagu yang sudah ada sejak Jikustik merilis album indie mereka, Bulan Di Jogja (1999) dan berlanjut ke album dengan major label (Seribu Tahun, 2000 dan versi repackage tahun 2001) ini versi awalnya agak jazzy menjadi sangat jazzy dibawakan oleh Tulus. Suara Tulus sangat cocok membawakan lagu ini.
Bahagia Melihatmu Dengannya dari album Pagi (2004) dibawakan oleh Astrid bersama Pongki tanpa perubahan yang mencolok kecuali suara Astrid yang manja.
• Lagu Setia yang ada di album 1000 Tahun Repackage (2001) dibawakan oleh Mike Mohede dengan irama jazzy namun sayang temponya terlalu lambat sehingga kurang sentimental seperti versi Jikustik. Sementara untuk versi yang dibawakan Pongki bersama sang istri, Sophie Navita, lagu ini menjadi syahdu karena dominasi musik akustik. Bahkan boleh dibilang lebih baik dibanding versi Jikustik.
Untuk Dikenang dari album Sepanjang Musim (2003) dibawakan oleh duo suami istri Endah N Rhesa yang memang beraliran akustik. Lantunan suara Endah tak seperti ketika ia membawakan lagu-lagunya sendiri. Betotan bass Rhesa menambah uniknya lagu yang dibawakan oleh pasutri ini.Nuansa akustik yang kental dan suara Endah yang selalu bernyanyi seperti seorang story teller memberi nuansa baru pada lagu ini.
Selamat Malam Dunia yang ada di album Malam (2008) dulunya berirama pop techno. Lagu yang dibawakan oleh Kotak di album ini menjadi sangat “rock” dan sangatlah Kotak. Kegarangan petikan gitar Cella sangat menonjol. Sangat pas dibawakan Kotak dan bukan tak mungkin lagu ini menjadi populer kembali dinyanyikan bersama Kerabat Kotak. Namun, mestinya, lirik “kumenunggu di rumahmu” yang dinyanyikan Tantri bisa diganti “kau menunggu di rumahku” atas alasan azas ketimuran.
Pandangi Langit Malam Ini diambil dari album Perjalanan Panjang (2002). Di album ini, Pongki membawakannya bersama Aji Mirza Hakim alias Icha yang juga mantan Jikustik. Nuansa akustik yang sangat kental membuat lagu ini lebih mellow dan sedikit berbeda dengan versi awal. Wajar jika fans Jikustik yang mengikuti mereka sejak awal mendapatkan lagu ini sebagai kenangan indah masa lalu.
• Lagu di track kelima adalah Seperti Yang Kau Minta yang dibawakan sendiri oleh Pongki dengan bantuan Baim pada gitar. Lagu ini dulunya dibawakan oleh Sang Legenda musik Indonesia, Chrisye, di album Dekade (2002). Inilah kenekatan yang dimaksud di atas. Pada saat itu, Chrisye adalah sebuah nama besar dan Pongki sudah menciptakan lagu untuk Sang Legenda. Lagu ini mencatat sukses pada masanya. Interpretasi ulang yang dibawakan Pongki lebih terasa akustiknya dan memberikan kesegaran baru.
• Lagu Menangis Semalam yang dipopulerkan Audy di album pertamanya, Audy (2002) yang membuat Audy langsung meroket dengan album ini. Di versi Lea Simanjuntak pada album ini, tak ada perbedaan yang mencolok kecuali suara Lea yang lebih melengking dengan tambahan beberapa kata dalam bahasa Inggris.
Rio Febrian bersama Pongki menyanyikan lagu Aku Bukan Pilihan yang dulu diciptakan Pongki untuk Iwan Fals yang berkharisma tinggi untuk album In Collaboration With (2003). Ini juga kehebatan dan kenekatan Pongki yang lain yang menciptakan lagu untuk orang yang sudah punya nama besar di musik Indonesia. Kharisma Iwan Fals memang tak bisa dipungkiri sehingga ketika dibandingkan dengan Rio Febrian, lagu ini terasa lebih asik dibawakan Iwan Fals.
Seindah Biasa diciptakan Pongki untuk Siti Nurhaliza di album Prasasti Seni (2004). Di album ini, lagu ini dibawakan oleh Blink, sebuah girlband baru. Nuansa baru muncul di sini karena tuntutan gaya musik band cewek. Dan, lagu ini memang sangat menjual karena masih dalam lingkaran tren yang sedang in.
• Selain ke sebelas lagu yang sudah diuraikan di atas, ada tiga lagu yang belum pernah dirilis dalam album. Salah satunya adalah Stay Close yang dibawakan Pongki bersama istrinya. Lagu ini dulu sistem distribusinya lewat email dengan sistem apresiasi sukarela. Terobosan yang dilakukan Pongki saat itu cukup berhasil. Angka apresiasi yang variatif membuat Pongki meraih keuntungan di atas ongkos produksi sebuah album.
• Berikutnya ada Ada Kamu Disini dan Bertanya-tanya yang dibawakan oleh Pongki. Ada Kamu Disini bernuansa pop yang sangat generic sedangkan Bertanya-tanya sedikit terdengar country sebagaimana banyak lagu yang dibuat Pongki untuk album solo pertamanya, Sunrise (2011) yang nampaknya salah dalam distribusi dan promosi sehingga tak begitu laris. Padahal, secara karya album tersebut tak mengecewakan.

 

Comment On The Album
Album ini merupakan perpaduan sebuah karya, idealisme dan cara dagang yang ciamik. Pongki yang produktif dan berada di jalur idealisme bisa membaca dan memadukannya dengan faktor komersial. Ia cerdas menangkap kemauan dan pola Music Factory dalam berjualan. Pemilihan Music Factory yang memiliki jalur distribusi yang saat ini dianggap paling menjual semakin menegaskan bahwa Pongki tak hanya berkarya namun juga berpikir bagaimana agar karyanya bisa jadi laku bak kacang goreng.

Memasukkan Tulus dan Endah N Rhesa yang merupakan dua nama yang saat ini laku keras adalah keputusan brilian. Dimasukkannya Blink juga salah satu strategi Music Factory untuk menjangkau pembeli lebih banyak karena alasan tren.

Keseriusan Pongki dalam merilis album ini dikerjakannya dengan profesional. Ia membuat website khusus (http://pongkimeetsthestars.com/) yang berisi cuplikan lagu-lagu, credit dan lain-lain beberapa saat sebelum album ini dirilis secara resmi. Dengan rajin, ia berkicau tentang album ini di Twitter untuk membangun “awareness” prospek pasarnya. Apa yang dilakukannya menimbulkan curiosity bagi para pengagumnya.

Album yang layak dikoleksi ini mestinya diimbangi dengan kemasan yang mendukung keawetan (usia) koleksi. Seandainya tak berbalut hanya kertas tipis, album ini akan terlihat lebih bagus dan tahan lama. Music Factory yang tak pernah mengubah kemasan album yang diproduksinya mungkin hanya berpikir tentang biaya produksi murah belaka dan profit yang besar tanpa mempertimbangkan durability sebuah produk yang layak disimpan sampai beberapa tahun ke depan. Sayang sekali.

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s