Sisi Lain Seorang Bintang

Ariel & a boy

Seorang bintang memiliki ribuan penggemar dan di antara ribuan itu, selalu ada satu atau dua yang memiliki keterbatasan. Orang-orang yang memiliki keterbatasan ini kadang semangatnya mengalahkan orang yang normal ketika ia ingin menemui idolanya. Menunggu agak lama sudah mengeluh lalu pergi dan tak jadi menemui idolanya lalu berbicara bisik-bisik di belakang dengan mengatakan bahwa idolanya adalah orang yang “sombong”. Ini menjadi justifikasi satu sisi.

Tapi, kejadian semalam yang saya lihat membuat saya trenyuh. Acara yang terpublikasi dimulai pukul 22.00 dan ternyata mundur tak menyurutkan anak ini untuk menunggu kedatangan sang idola. Saya tiba di sana pukul 21.00 dan anak itu sudah ada di sana. Diberi privilege oleh Liquid Cafe Yogyakarta untuk berada di area parkir dimana mobil yang membawa sang artis akan berhenti, sang anak menunggu dengan sabar. Ayahnya sesekali mengajarkan dan mengingatkannya untuk memanggil dan memberi hormat pada sang idola saat bertemu nanti, ia menganggukkan kepalanya sambil disertai suara yang sedikit menggumam sebagai tanda ia adalah anak dengan keterbatasannya.

Yang ada di benak saya adalah ia akan memanggil Ariel dengan suara yang biasa saja dan cara bicara cadel. Beberapa kali terlihat seolah mobil yang membawa sang idola akan datang. Dari matanya terpancar rona kegembiraan sampai akhirnya mobil yang membawa idolanya benar-benar datang.

Baru saja pintu mobil di sisi tempat duduk sang idola dibuka, anak ini langsung berteriak dengan lantang: “Arieeeeellllll” dengan ucapan yang sempurna, tidak cadel. Lantang dan keras sampai Ariel mendengarnya. Didampingi beberapa orang, Ariel langsung mendatanginya. Sang bocah langsung memeluk Ariel dengan eratnya sambil terisak-isak. Ia tak mau melepaskan pelukannya. Kemudian Ariel berbicara beberapa kalimat padanya dan mengajaknya masuk untuk menyaksikan pertunjukan malam itu.

Sayang, keterbatasan itu tak bisa membuat sang anak bisa menyaksikan penampilan idolanya yang selalu ditontonnya di layar kaca. Dengan santun, Ariel mengatakan ia harus segera masuk ke ruangan untuk persiapan pertunjukannya.

Ariel meninggalkan anak itu untuk tugas profesionalnya sementara sang anak masih terisak-isak. Mungkin ia terharu karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan idolanya, mendapat pelukan hangat sang idola dan merasakan betapa idolanya yang biasanya jauh dari jangkauannya akhirnya bisa hadir persis di depannya.

Ariel bisa saja tak melayani bertemu anak ini dengan alasan profesional. Tapi ia memilih menghampiri anak ini dan memuaskan dahaga sang anak demi kebahagiaan pemujanya.

Sehari sebelumnya, seusai cek in di hotel, Ariel bergegas menuju kamar. Ariel dipagari beberapa orang namun seorang ibu dan anaknya mendesak ingin berfoto dengan Ariel. Ariel juga melayani permintaan berfoto dengan sopan. Meskipun tanpa obrolan seperti halnya anak yang memiliki keterbatasan tadi, Ariel menunjukkan ia bersedia melayani keinginan pemuja yang menjadikannya seorang bintang.

Anak yang memiliki keterbatasan tadi mengajarkan bahwa keterbatasan tak harus menjadi halangan untuk mewujudkan keinginan. Kesabaran juga dibutuhkan untuk itu. Kadang orang yang tak memiliki keterbatasan malah lebih gampang memberi cap buruk atas dasar asumsi saja karena keinginannya tak terpenuhi.

Seorang idola tetaplah seorang manusia. Orang boleh memberi kesan negatif atau positif. Dan buat saya, Ariel adalah sebuah contoh seorang bintang yang santun dan tidak sombong seperti bisik-bisik orang yang sirik.

Tj Singo
12102014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s