Ngayogjazz 2014 – Tung Tak Tung Jazz

ngayogjazz 2014 2Tak terasa, seminggu lagi, tepatnya 22 November, Ngayogjazz 2014 akan digelar. Ini adalah gelaran ke delapan sejak 2007. Ngayogjazz yang pertama diadakan secara sederhana di Padepokan Bagong Kussudiardja berangkat dari semangat yang sederhana pula. Namun siapa sangka akhirnya acara ini menjadi acara yang ditunggu-tunggu ulang tahunnya?

Apa sih yang menarik dari acara ini? Buat saya yang suka nonton pertunjukan musik, Ngayogjazz tak sekedar pertunjukan musik (jazz) dimana penonton hanya terfokus pada sebuah panggung, berdiri atau duduk sekitar 60 menit lalu bubar membawa kenangan. Ngayogjazz memberikan hal yang berbeda daripada sekedar menonton pertunjukan musik. Bagi saya yang tak pernah menonton pertunjukan musik besar bersifat internasional karena alasan ruang dan waktu (dan duit juga), Ngayogjazz adalah pilihan tepat.

Selain menikmati pertunjukan musik yang akarnya adalah musik rakyat, di sana ada interaksi antar manusia yang bisa saja jadi ajang reuni atau pertemuan dengan manusia baru yang berujung pada persahabatan atau bahkan romantika. Di sana ada pasar – pertemuan antara konsumen dan penjaja barang dagangan – kala lapar dan dahaga melanda. Atau, pasar yang berupa oleh-oleh yang bisa dibawa pulang seperti mainan dan makanan tradisional, kaos, CD musik dan barang-barang lain yang dijual oleh penduduk desa yang sehari menjadi wiraswasta alias pedagang dengan pendapatan berkali lipat dari keseharian mereka.

Seminggu lagi, Desa Brayut yang menjadi tuan rumah Ngayogjazz 2012 kembali akan ramai. Desa yang sehari-harinya senyap, Sabtu depan akan kembali bergairah dan berpesta, punya hajatan layaknya sebuah rumah tangga yang punya hajatan mantu (perkawinan). Akan banyak umbul-umbul terpasang berjajar seperti penanda janur melengkung pada sebuah tanda pesta perkawinan.

Ya, perkawinan. Perkawinan apa? Perkawinan antara kehidupan sederhana desa dengan ribuan tamu yang hidupnya sudah tersentuh modernisasi. Sejenak para kaum modern akan kembali ke akar kehidupan awal. Kehidupan yang sunyi sebagaimana kehidupan desa.

Seperti yang terjadi tahun-tahun sebelumnya, beberapa penonton menghadiri Ngayogjazz ketika para pengisi acara mulai memainkan berbagai alat musik mereka yang membentuk harmoni nada. Dan itu terjadi sejak sore menjelang senja (yang sejenak terpotong waktu Sholat Magrib) sampai malam, sampai selesainya acara. Padahal, menikmati Ngayogjazz sejak awal acara dibuka sangatlah asik. Ngayogjazz yang biasanya dibuka dengan cara dan acara tradisional, bukan acara pengguntingan pita sebagaimana biasanya pejabat meresmikan sebuah acara, memberi kesan bahwa acara ini jauh dari segala formalitas, birokrasi dan mentalitas feodalisme.

Selama bertahun-tahun hadir di Ngayogjazz (tak hadir hanya pada dua penyelenggaraan pertama), acara ini selalu memberikan suasana yang berbeda. Acara yang awalnya hanya lingkup kecil, kini sudah menjadi sebuah gelaran yang juga diinginkan para musisi untuk bisa mengisi acara ini. Mereka menjadi bagian dari acara ini bukan karena honornya tapi lebih ke ajang idealisme, berekspresi. Selain pengisi acara yang berganti, ada pula beberapa nama yang menjadi pelanggan pengisi acara. Semacam pulsa telepon isi ulang. Mereka datang lagi, bertemu dengan penonton yang baru maupun yang langganan. Mereka memberikan sajian yang sudah dikenal maupun yang baru.

Suasana berbeda yang terjadi tahun ini juga pasti ada. Setelah Pemerintah melarang perusahaan rokok berpromosi secara terang-terangan dan besar-besaran, Ngayogjazz tahun ini pengisi acara tak akan sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Entah apa yang ada di benak Pemerintah melarang perusahaan rokok untuk berpromosi tanpa memberi solusi pada acara-acara yang bersifat kebudayaan seperti Ngayogjazz ini.

Kalau mereka takut bahwa rokok meracuni generasi muda, mengapa pihak aparat tak menindak para perokok di bawah umur yang melakukan aktivitas ini di ruang-ruang publik? Anak-anak itu melakukan aktivitas merokok tak lagi gelap-gelapan tapi sudah terang-terangan. Bukankah melarang produsen rokok tanpa melakukan tindakan hukum sama saja dengan omong kosong? Toh pelarangan publikasi sebuah acara dengan memajang produk rokok tak mengurangi jumlah perokok pemula. Ini artinya, upaya pemerintah itu gagal, hon.

Dan tidak bersedianya perusahaan rokok menjadi sponsor acara besar seperti ini tentu berefek pada banyaknya pengisi acara yang bisa tampil. Dan, apa yang dilakukan Pemerintah terhadap acara-acara apresiasi seni yang biasanya didukung oleh produsen rokok? Memberi dana sebagai pengganti? Ah, mbel. Menciptakan masalah dengan masalah.

Tapi, penyelenggara Ngayogjazz yang sudah berpengalaman pasti tak kurang akal. Kreativitas mereka untuk menampilkan musisi yang namanya sudah berkibar di kancah hiburan dan dunia musik Indonesia tetap patut diacungi jempol. Yang penting bukanlah nama besar musisi tapi bagaimana mengemas festival (pesta) rakyat ini menjadi sebuah sajian menarik.

Ini bicara kemampuan musikal para pengisi acara. Penonton sekarang sudah pintar. Mereka tak hanya ingin melihat penampilan musisi yang sudah punya nama tapi mereka juga ingin mendapat hiburan. Dan mendapatkan hiburan bisa didapatkan dari para penampil yang atraktif dan skillful. Lha wong kadang setelah tepuk tangan menyaksikan kepiawaian musisi beraksi, penonton lupa nama musisinya koq.

Dan untuk urusan itu, serahkan saja pada penyelenggara. Dari beberapa penyelenggaraan Ngayogjazz, tak jarang para penampil yang namanya tak dikenal di tataran industri musik malah memberi kepuasan pada penonton. Tepuk tangan riuh diberikan ketika mereka menampilkan aksi mereka memainkan musik.

Selain dari sisi tontonan, penyelenggaraan tahun ini juga berbeda dalam memfasilitasi para penonton. Selama bertahun-tahun penyelenggara menyerahkan sepenuhnya masalah transportasi pada penonton. Mau ke venue naik perahu, truk, tronton, mobil, motor, andong, becak, sepeda atau jalan kaki, itu urusan penonton. Nah, tahun ini, ada fasilitas baru yang bisa dimanfaatkan penonton yang ingin menuju ke desa Brayut untuk bersama-sama bergembira pada pesta jazz rakyat ini. Penyelenggara menyediakan bis jemputan (shuttle bus) menuju dan dari desa Brayut. Info lengkapnya silahkan click tautan ini.

Nampaknya penyelenggara telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Banyak pertanyaan lewat interaksi di media sosial bagaimana menuju dan pulang dari venue. Bisa jadi penyelenggara di tahun sebelumnya menyaksikan penonton Ngayogjazz harus baris-berbaris seperti fans sebuah band yang selalu memenuhi jalan-jalan kota dan kadang harus sedikit mengemis pada sopir mobil terbuka untuk mengantar mereka pulang ketika band itu manggung. Ini namanya penyelenggara yang tak hanya berpikir tentang bagaimana membuat acara tapi juga punya tanggung jawab sosial. Tentu saja, ini adalah sebuah percobaan yang nantinya dievaluasi. So, jangan harap tahun-tahun mendatang fasilitas ini pasti ada.

Apalagi ya? Ah, ini yang menarik buat saya. Bagaimana penyelenggara berinteraksi dengan peminat acara ini lewat media sosial Twitter. Admin yang selalu menyapa perespon kicauan mereka dengan sebutan “Hon” menurut saya berhasil membangun sebuah komunitas yang semakin melekatkan acara ini pada peminatnya. Interaksi dari ribuan follower mau tak mau bisa dibaca sebagai sebuah silahturahmi yang ramah, yang “nguwongke” para peminat acara ini.

Dengan cara bergurau dan respon yang seringnya lucu dan cerdas, admin Twitter akun @ngayogjazz telah membangun sebuah sinergi antara Ngayogjazz dan peminatnya. Ini juga membuat seolah tak ada batas dan sekat antara “juragan” Ngayogjazz dan konsumennya. Tak seperti penyelenggaraan pertunjukan musik pada umumnya yang sering pasang tampang garang seolah mereka yang berkuasa.

Ini bukan basa-basi. Coba datang dan rasakan kehangatan yang ada di acara ini. Warga desa siap menyambut dengan suka cita sebagaimana orang desa pada umumnya yang selalu gembira kedatangan tamu. Lihatlah bagaimana panitia tak membatasi gerak pengunjung yang ingin bertemu idolanya. Dan rasakan pula bagaimana musisi yang tampil juga gembira berinteraksi dengan pemujanya.

Buat saya, inilah pesta yang sebenarnya. Sebuah festival untuk rakyat berbalut musik jazz sebagai medianya. Jazz memang berasal dari rakyat dan jazz tidak wangi seperti kata Trie Utami – yang pada tahun ini absen mengisi acara ini – pada awak media beberapa hari yang lalu. Tak ada harum parfum lebay seperti pada pertunjukan jazz di gedung-gedung tertutup nan megah. Yang ada adalah rakyat yang berbaur menjadi satu, dengan pakaian yang tidak mewah, tak harus pakai sepatu, boleh pakai sandal, bernaung di bawah langit yang sama yang biasanya mencurahkan hujan untuk menambah romantisme suasana sambil – seperti lagu KLa Project – nikmati bersama suasana Yogya……

Tj Singo
Penyuka Ngayogjazz

Advertisements

2 thoughts on “Ngayogjazz 2014 – Tung Tak Tung Jazz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s