Yovie Widianto, An Irreplaceable Musician

Yovie for article crop res

Rabu, 30 Juli 2008. Hari itu merupakan kesempatan pertama saya bertemu dengan Yovie Widianto, seorang musisi Indonesia yang namanya besar karena karya-karyanya. Karya-karya lagunya yang kebanyakan bertema cinta.

Sudah lama saya menantikan kesempatan bertemu dengan musisi ini. Ketika itu, dia datang bersama groupnya Yovie & Nuno untuk sebuah acara di Yogyakarta. Saat itu, saya masih belum banyak tau tentang pertunjukan musik. Yang saya tau hanya mendengarkan musik tanpa menonton. Tapi, menemui Yovie sudah menjadi harapan saya sejak lama.

Segala persiapan sudah saya lakukan untuk pertemuan itu. Semua album (kaset) yang berisi karyanya baik Kahitna, Yovie & Nuno maupun group jazz nya yang hanya merilis satu album, Indonesia 6. Tak lupa kamera. Kira-kira satu jam saya menunggu di lobby hotel Quality sampai akhirnya saya melihatnya turun dari mobil dan saya langsung mendekati dan meminta tanda tangannya di album-album itu.

Melihat koleksi (kaset) Kahitna saya yang komplit, Yovie heran. Tapi, tanpa keluhan, dia membubuhkan tanda tangannya di kaset-kaset yang berjumlah tujuh. Waktu itu, hanya album kompilasi The Best Of yang bergambar sofa merah saya tak punya karena saya memang awalnya tak suka kaset kompilasi pilihan terbaik. Tanda tangan berlanjut ke album-album Yovie & Nuno.

Ketika saya menyodorkan kaset Indonesia 6, Yovie sedikit terkejut. “Punya juga yang ini?” tanyanya. Dia melanjutkan, “Kalau masih ada kaset yang ini, saya mau, mas.”
Ya. Saya berjanji, jika ada pertemuan berikutnya, saya akan carikan kaset itu untuk mas Yovie.

Dua bulan kemudian, tepatnya 27 Agustus 2008, saya kembali bertemu dengan Yovie Widianto. Kali ini, bersama rombongan Kahitna dan Yovie & Nuno (lagi). Saat melihat saya di restoran tempat mereka menginap, Yovie langsung memperkenalkan saya ke anggota Kahitna lainnya. Dia mengatakan pada teman-temannya: “Ini mas Singo. Koleksi Kahitna-nya lengkap.” Inilah pertemuan pertama saya dengan Kahitna yang lagu-lagunya sangat akrab di telinga saya.

Saat itu, sekalian saya juga menepati janji memberinya kaset Indonesia 6 yang dia inginkan.

Sejak saat itu, tak terhitung lagi berapa kali saya bertemu. Kadang bersama Kahitna, sesekali bersama Yovie & Nuno. Sayangnya, tak di setiap pertemuan saya selalu berfoto. Tapi buat saya, berfoto di setiap pertemuan bukanlah sesuatu yang wajib. Yang lebih penting adalah bagaimana saya bisa punya sedikit waktu berbicara tentang karya-karyanya. Dan sampai sekarang, saya masih ingin mendapat sedikit waktu ngobrol dengannya dengan lebih akrab.

Yovie yang termasuk pendiam – menurut saya – hampir tak pernah bersentuhan dengan infotainment. Popularitas yang diraihnya lebih karena karyanya, bukan sensasinya. Dia lebih senang berbicara lewat karya. Lagu-lagunya yang banyak bercerita tentang cinta dan sering bikin cewek-cewek jadi klepek-klepek (terkapar) adalah karya yang polos, bukan oplos. Dalam sebuah kesempatan, dia mengatakan dalam membuat lagu, dia tidak menambah atau mengurangi ceritanya. Ya begitu itu.

Perjalanan karir bermusiknya dimulai sejak belia. Saudara sepupu almarhum Elfa Secioria ini membentuk Kahitna di tahun 1986. Di tahun 1988, bersama Indonesia 6, dia merilis album Indonesia 6 yang beranggotakan Iwan Wiradz, Desi Arnaz, Hentriesa, Bubi Iradiadi, Yani Danuwijaya dan Yovie Widanto. Sayangnya, group beraliran jazz latin ini hanya merilis satu album.

Di tahun 1987, lagu ciptaannya berjudul Pastikan dinyanyikan Imaniar masuk di final Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI). Ini bukan ajang main-main. Festival yang saat itu menjadi barometer musik Indonesia selalu diikuti ratusan bahkan ribuan pencipta lagu sampai kemudian disaring menjadi sepuluh lagu. Lagu ini kembali direkam dan dinyanyikan oleh Kahitna dan masuk di album Kahitna Cerita Cinta 25 Tahun tahun 2011.

Di tahun 1989, Yovie kembali menancapkan karyanya di FLPI. Bersama Wieke Gur, dia menciptakan lagu Semoga Saja yang dinyanyikan Emillia Contessa serta Berdua yang dinyanyikan Mus Mujiono.

Di tahun 1990, bersama Iwan Wiradz, karyanya yang berjudul Cinta Cinta Cinta dinyanyikan oleh Trio Libels untuk ajang festival yang sama. Dia juga menciptakan lagu Kepastian yang dinyanyikan almarhumah Andi Meriem Mattalatta di festival itu juga.

Di FLPI terakhir tahun 1991, Yovie menciptakan dua lagu, Katakanlah (dinyanyikan oleh Tetty Manurung) dan Bagaimana (dinyanyikan oleh Elfa’s Boys). Kedua lagu itu dia ciptakan bersama Dewayani yang adalah istrinya. Bagaimana juga dinyanyikan Kahitna di album Cerita Cinta (1994).

Perjalanan bersama Kahitna secara profesional dimulai ketika mereka menyabet gelar 1st Outstanding Winner pada ajang Light Music Contest (LMC) 86. Saat itu, Kahitna masih memainkan latin jazz rock, beranggotakan delapan personil dengan Trie Utami sebagai vokalis. Di tahun 1989, bersama Kahitna, lagunya berjudul Adakah Dia masuk di album kompilasi 10 Bintang Nusantara 2.

Di tahun 1994, Yovie merilis album pertama bersama Kahitna dengan hits Cerita Cinta yang sekaligus judul album. Lagu ini tak pelak lagi memberi image kepada Yovie dan Kahitna. Sejak saat itu, karyanya tak terbendung lagi. Tak hanya membuat karya untuk Kahitna, Yovie juga membuat karya untuk penyanyi atau group lain. Astrid, Audy, Bening, Glenn Fredly, Hedi Yunus, Lingua, Rida Sita Dewi, Rossa, The Groove dan masih banyak lainnya adalah penyanyi atau group yang pernah membawakan karyanya.

Yovie yang selalu mengedepankan kualitas, tak mau tinggal diam ketika trend musik beralih ke boyband yang sempat marak beberapa tahun yang lalu. Dengan caranya sendiri, dia membentuk 5 Romeo, sebuah boyband sebagai sebuah band yang tak hanya mengedepankan penampilan fisik. Buatnya, kualitas vokal tetap kriteria utama. Dan terbukti, 5 Romeo menjadi band yang berisi boy tapi dengan kualitas vokal yang oke punya.

Di tahun 2013, Yovie berkolaborasi dengan banyak penyanyi dan group dan merilis sebuah album yang diberi tajuk Irreplaceable. Album ini berisi sebelas lagu dimana 10 lagu merupakan karya yang sudah ada sebelumnya dan satu karya baru. Yovie memang tak pernah berhenti berkarya. Penamaan album ini memang tepat karena Yovie memang tak tergantikan. Tak ada musisi lain yang menyamainya karena memang karya tak pernah sama. Kalaupun mau disamakan, mungkin Yovie boleh dibilang sama dengan David Foster, maestro dunia yang menjadi idolanya. Sama dengan level yang berbeda. Tapi, tetap saja, di Indonesia, Yovie punya ciri sendiri yang tak tergantikan.

Selamat ulang tahun mas Yovie. Panjang umur, sukses dan tetap berkarya untuk musik Indonesia Sampai Akhir Waktu.

Tj Singo
Pengagum Karya Yovie Widianto

Advertisements

4 thoughts on “Yovie Widianto, An Irreplaceable Musician

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s