Jikustik 19 Tahun, Prima Menuju Legenda

Jikustik all albums wm

Saya pernah membaca, sebuah band atau seorang musisi mendapat gelar legendaris ketika mereka berkarya sampai 20 tahun di dunianya. Meskipun, kata “legenda” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) punya arti cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Artinya, legenda juga memiliki pengertian bahwa yang disebut legenda adalah masa lalu atau sudah mati. Tapi, orang kemudian menambahkan kata ‘hidup’ untuk menghadirkan sebuah cerita yang masih ada, legenda hidup.

Hari ini, salah satu band yang saya suka berhari jadi. Jikustik. Jikustik berusia 19 tahun. Setahun menuju usia yang disebut orang menjadi legenda. Tentu, tahun depan itu harapan saya Jikustik tak sekedar menjadi legenda tapi legenda hidup.

Ketika mulai menyukai band ini, saya punya harapan besar agar band ini bisa berjalan terus dengan semua personil yang ada sejak mereka memiliki album yang diproduksi oleh perusahaan rekaman level negeri alias major label. Sejak album Seribu Tahun (2000 dan 2001), Perjalanan Panjang (2002), Sepanjang Musim (2003) sampai Pagi (2004), Siang (2006) dan Malam (2008) saya terus berharap group ini akan terus berjalan bersama.

Waktu terus berlalu. Ketika album Malam dirilis, salah seorang personilnya yang sudah tak lagi tinggal di kota ini kesibukannya di kota itu semakin melebar. Di sana dia membentuk group baru bersama teman-temannya yang bersifat proyek tapi ternyata juga menyita waktu. Dan akhirnya harapan saya di awal hanya tinggal mimpi. Leading role yang dipegangnya terlepas.

Mau tak mau, kerepotan mulai terjadi. Dinamika sebuah band dimana terjadi pergantian personil atau ditinggal personil satu per satu terjadi juga di band ini. Sempat satu per satu hendak meninggalkan band ini dan hanya menyisakan dua personil dan bahkan hampir tinggal kenangan, sebuah suntikan energi kembali bersinar. Waktu memang berpihak pada mereka. Dengan kecintaan dan idealisme yang masih tersimpan mereka mulai bangkit lagi.

Setelah menemukan vokalis baru, mereka menapak jejak kembali. Belum lagi jejak itu tertancap, seorang personil mengundurkan diri. Mau tak mau, harus diakui perginya sang bassist juga sempat membuat kapal ini oleng. Dua personil yang selama ini menjadi hits maker harus pergi.

Bagaikan seorang bayi yang belajar berjalan, Jikustik pun harus mengalami proses jatuh bangun agar bisa berjalan tegak dan benar. Fase itu bisa dilalui. Setapak demi setapak mereka mengumpulkan tenaga sambil terus berjuang untuk tetap bermusik dan mengisi ruang dengar romantika penikmat musik Indonesia.

Dirilisnya album Live Acoustic di tahun 2014 bisa jadi penanda mereka mulai berjalan tegak lagi. Album yang menjadi karya dengan personil yang ada sekarang ini jauh dari hingar bingar publikasi sebagaimana layaknya sebuah album yang dijual dengan proses promo besar-besaran lewat media layar kaca yang buat banyak orang selalu jadi patokan popularitas. Tanpa harus melakoni prosedur komersial, album ini menurut catatan mereka sudah dicetak sebanyak 13000 keping dan penjualannya dilakukan dengan sistem bundling dengan distro dan tempat perawatan kulit.

Album yang sedianya hanya menjadi bonus untuk perawatan kulit ini terbukti tak hanya sekedar menjadi bonus bagi pelanggan pusat kecantikan itu sebagaimana “pemerkosaan” yang terjadi ketika sebuah karya seni dijual di restoran ayam goreng cepat saji. Ada juga orang yang maunya membeli album ini dan perawatan kulit yang dijalani menjadi bonus. Indah bukan?

Sementara itu, album ini juga bisa menjadi penanda kebangkitan mereka meraih pasar baru. Jikustik yang dulunya memiliki pendengar pasca remaja alias mahasiswa kini telah menjadi pengisi ruang dengar para remaja. Dengan lirik yang lebih sederhana dan tetap bertema romantika, Jikustik berubah menjadi pujaan anak-anak berusia belasan. Mereka mulai banyak tampil di panggung-panggung anak SMA.

Apa salahnya berubah? Bukankah band ini juga punya lagu berjudul Tak Ada Yang Abadi? Lagu itu kini telah membuat Jikustik tampil lebih segar dalam balutan musik yang sesuai dengan keinginan para remaja. Bermodalkan lagu Bila Ada Cinta Yang Lain, Untuk Cinta, dan Pujaan Hatiku dan beberapa lagu lama yang dikenal dan digemari orang serta keramahan para personilnya, Jikustik terus berjalan dan tak menjadi sebuah band yang hanya Untuk Dikenang.

Angka 19 memang tak seperti angka 5 yang disebut lustrum, 8 yang disebut windu atau 10 yang disebut dekade dimana orang biasanya memperingatinya dengan besar-besaran dan gampang membuat tajuk untuk hari jadi tersebut. Tapi, 19 adalah angka bilangan prima yang memiliki definisi “bilangan yang hanya dapat dibagi oleh dua bilangan berbeda, yakni bilangan itu sendiri dan 1” (http://www.jendelasarjana.com/2014/03/pengertian-bilangan-prima-contoh.html). So?

Bukankah 19 juga angka istimewa? Angka yang langka. Dan, setahun menjelang, Jikustik akan menjadi legenda hidup yang ada di ruang dengar yang penuh romantika bagi penikmat musik Indonesia.

Tetaplah bertahan karena segala jatuh bangun sudah pernah dirasakan, dialami dan dilewati. Bukankah kalian juga pernah berikrar seperti di bawah ini?

Aku harus bisa mengalahkan
Malam-malam kesepian
Yang menjadi musuh besarku

Aku harus bisa menaklukkan
Hari-hari sendirian
Yang menjadi lawan tangguhku

Tak ada yang akan bisa
Meruntuhkan niatku
Tuk bertemu memeluk dan menyanding

Meski surya membenamkan
Tubuhku di lautan
Kutunggu sampai samudra mengering
Kutunggu sampai samudra mengering

Selamat ulang tahun Jikustik…. Setahun lagi kalian menjadi legenda hidup. Tetaplah bertahan sampai Samudra Mengering.

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Advertisements

2 thoughts on “Jikustik 19 Tahun, Prima Menuju Legenda

  1. Pingback: Jikustik 20 Tahun – Tetap Percaya | singolion

  2. Pingback: Jikustik 20 Tahun – Tetap Berjalan | singolion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s