Konser Gajah Tulus – Rumah Tulus Sebenarnya

Ini Konser. Konser Gajah Tulus. Bukan pertunjukan alias show.

Apa bedanya? Tulus adalah tuan rumah pada pertunjukan yang tidak sekedar pertunjukan biasa. Dalam pertunjukan yang biasa atau sering terlaksana, Tulus menjadi bagian dari pertunjukan itu. Bisa saja ia hanya sebagai pelengkap dari pertunjukan yang diisi beberapa musisi, group atau penyanyi solo tapi bisa juga ia menjadi bintang.

Pada Konser Gajah ini, Tulus langsung tancap gas memuaskan pengagumnya tanpa harus didahului oleh penampilan musisi lain. Agak terlambat dari jadwal yang ditentukan karena pelaksana memang menginginkan kesempurnaan dalam konser ini. Seluruh musisi pendukung masuk dari kanan dan kiri panggung dalam balutan kostum putih yang rapih dan bersih bak pengiring pengantin alias raja sehari.

Diiringi intro lagu ‘Baru’ dari album keduanya, Gajah, Tulus masuk dari sisi belakang panggung dengan pintu yang terbuka seolah dia keluar dari dalam rumah dan menyapa para tamunya malam itu. Para tamu menyambutnya dengan meriah karena ingin segera berjumpa. Dentuman musik yang menggelegar namun tetap dalam batas tak memekakkan telinga langsung dilanjutkan Tulus dengan menyanyikan lagu ‘Baru’ diiringi tepuk tangan meriah penonton.

Selesai lagu pertama, Tulus melanjutkan dengan ‘Diorama’ dari album pertamanya yang bercerita tentang sebuah kebersamaan tanpa ada interaksi, tentang tak terucapnya sebuah perasaan bak diorama, sebuah “akuarium” yang berisi patung-patung. Lagu ini berlanjut dengan Bumerang. Selesai lagu tersebut, Tulus menyapa para penonton dengan kata pembuka. Suaranya yang empuk memberikan kesejukan di antara penonton yang riuh meneriakkan namanya.

Lagu Gajah mengalun. Seusai lagu ini Tulus bercerita tentang inspirasi lagu ini yang diambil dari masa kecilnya dan juga tentang seorang ibu yang anaknya mendapatkan ejekan dari teman-temannya tapi setelah mendengarkan lagu ini, sang anak menjadi bersemangat bersekolah lagi. Setelah Gajah, meluncurlah ‘Satu Hari Di Bulan Juni’ yang musiknya beraliran Motown yang langsung disusul dengan ‘Teman Pesta’ dan ‘Kisah Sebentar’.

Setelah selesai lagu itu, tim property menyiapkan seperangkat sofa. Sambil menunggu setting, Tulus menyeka keringatnya yang mengucur dengan handuk persembahan Teman Tulus Yogya bertuliskan namanya. Band yang mengiringinya memainkan lagu ‘Whisky And Soda’ (Roberto Delgado) yang biasa digunakan sebagai backsound pertunjukan Srimulat. Nampaknya teman-temannya ingin menganalogikan Tulus dengan lawakan Srimulat yang umumnya menampilkan pembantu dengan handuk disampirkan di bahu.

Tulus cukup kaget dengan permainan nakal teman-teman bandnya yang terdiri dari Fuad Rudyan pada drum, Sindhu Banyusekti pada bass, Topan Abimanyu dan Anto Arief pada gitar, Yonathan Godjali pada piano dan Destanto Putrandito pada kibor sebagai pimpinan band.

Penambahan property di panggung mengubah suasana menjadi lebih homy. Terlihat lebih hangat untuk suasana kongkow dan kemudian Tulus bersama para penyanyi latar Devi Remondi, Lia Amalia, Sekar Teja Inten dan Adi Sigerra membawakan ‘Tuan Nona Kesepian’ tanpa iringan musik alias akapela dengan posisi duduk yang santai. Teknik tinggi olah vokal ditunjukkan oleh Tulus dan teman-temannya.

Suasana dengan setting ini dipertahankan saat mengalun lagu ‘Mengagumimu Dari Jauh’ yang merupakan lagu demo Tulus ketika menawarkan karyanya pada label pada awal karirnya, ‘Bunga Tidur’ dan ‘Tanggal Merah’. Di lagu yang disebut terakhir, Tulus dibantu oleh Rudy, Ari dan Ami yang juga personil band 4Peniti dan turut berperan dalam karya-karya Tulus. Pada ‘Tanggal Merah’, mereka memasukkan beberapa lagu daerah seperti ‘Cublak Cublak Suweng’ dan ‘Gundul Gundul Pacul’ sebagai improvisasi kebijakan lokal .

Seusai itu, tata panggung kembali ke semula dan Tulus menyanyikan ‘Bengawan Solo’ dengan suara yang lantang yang rencananya akan dimasukkan ke album berikutnya jika tak ada aral melintang sebagai penghargaan terhadap si pencipta lagu, Gesang. Lagu ‘Bengawan Solo’ dilanjutkan dengan ‘Jatuh Cinta’, ‘Teman Hidup’, ‘Lekas’ dan ‘Lagu Untuk Matahari’.

‘Lagu Untuk Matahari’ yang juga bergaya Motown nan rancak bak menjadi lagu pesta malam itu. Pendukung konser ini yang terdiri dari Fitrah Ramadhan Hidayat, Fadliansyah, Raga Dipa Negara, Asri Dewi Lestari, Arisa Sofiyani Abidin dan Mega Aria pada strings section serta Bonny Buntoro, Billy Ramdhani, Brury Effendi dan Egi Bayu Pratama pada brass section ikut menunjukkan keriaannya

Konser malam itu memang milik Tulus. Dia bebas melakukan apa saja karena gedung pertunjukan dan malam itu memang miliknya, rumahnya. Sesekali ia berkomunikasi dengan penonton, mendatangi penonton yang di kelas Festival, menerima beberapa karangan bunga dari penonton yang tak dihalangi oleh petugas sehingga semakin membuat Tulus dekat dengan pecintanya. Caranya menyapa dengan bercerita, bertanya atau bahkan membaca surat yang terselip di coklat pemberian pengagumnya bernama Mega lalu mengajaknya naik ke panggung untuk berfoto memenuhi harapan sang pemuja semakin menunjukkan bahwa Tulus memang tulus menghadapi fans nya.

Suasana konser semakin meriah dan akrab ketika Tulus membawakan lagu yang sangat dikenal milik Jikustik berjudul ‘1000 Tahun Lamanya’. Seluruh penonton ikut menyanyikan lagu yang sudah berusia 15 tahun ini. Karaoke massal lagu ‘1000 Tahun Lamanya’ masih berlanjut di lagu ‘Sewindu’ yang melambungkan nama Tulus lewat album perdananya. Dan ketika intro lagu ‘Sepatu’ dimainkan, penonton pun berteriak histeris.

Lagu yang sedianya menjadi penutup konser malam itu tak dapat diterima penonton. Mereka tak beranjak dari tempat konser dan terus menyuarakan permintaan lagu tambahan. Untuk memuaskan penonton, Tulus menuju panggung lagi dan lagu yang sangat populer dari album Gajah berjudul ‘Jangan Cintai Aku Apa Adanya’ meluncur. Tak bisa dihindari, seluruh gedung ikut bernyanyi lagu yang judul dan isinya anomali dari lagu kebanyakan tapi suara Tulus bisa membuat lagu ini justru menjadi hits luar biasa.

Tepat pukul 23.00, Konser Gajah selesai. Seluruh musisi bersama Tulus memberi hormat pada penonton yang berjumlah di atas seribu. Target penonton memang tak dibuat memenuhi gedung berkapasitas 3000an. Pemberian sekat di tengah gedung pertunjukan adalah cara cerdas yang mengesankan gedung terlihat penuh dan konser terlihat intim.

Konser Gajah Tulus sudah diadakan di Jakarta dan Bandung. Yogyakarta menjadi kota terakhir rangkaian konser ini karena bagi Tulus Yogya adalah kota yang banyak memberi inspirasi baginya. Dan, menurut Asthie Wendra, Show Director Tulus Production, banyaknya Teman Tulus di Yogya juga menjadi alasan bagi Tulus untuk menggelar konsernya di kota ini. Aura kebahagiaan terpancar dari wajah Tulus yang sumringah sepanjang maupun setelah konser berakhir. Ia berhasil menjadi raja sehari bersama para pengiringnya untuk menyenangkan “rakyat”nya.

Saat setelah menyanyikan ‘Teman Hidup’, Tulus menceritakan bagaimana ia pertama kali konser di Yogya setahun setelah albumnya dirilis. Ia begitu terkesan dengan sambutan penonton saat itu yang begitu antusias padahal ia sempat khawatir apakah lagu-lagunya sudah dikenal. Di atas panggung, Tulus pun menyatakan “tak pernah tak asik kalau manggung di Yogya”.

Yogya memang istimewa kan, Tulus? Apresiasi dan interaksi yang ditunjukkan penonton memberikan kenyamanan dan kehangatan serta keinginan untuk selalu kembali ke kota ini. Jadi, kapan Konser Gajah yang diadakan tanggal 21 Maret 2015 oleh Tulus Production bekerja sama dengan Garam Production diadakan lagi di kota ini? Atau, konser Tulus yang lain juga boleh ……

Tj Singo
Penikmat Musik Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s