Bintang Indrianto Trio ++ – Festival: When East Meets West

Bintang Indrianto Trio++ - 2015 Festival 3 wm

Festival, menurut Kamus Merriam Webster, memiliki definisi antara lain “sekumpulan pertunjukan yang ditata”. Melihat definisi tersebut dan cover album Festival oleh Bintang Indrianto Trio ++ maka cocoklah isi album tersebut disebut festival. Album yang awalnya hanya “kertas kosong” berisi delapan komposisi ini oleh Bintang Indrianto diserahkan pada Rhesa Aditya (Endah N Rhesa). Terserah mau diapakan.

Atas interpretasinya terhadap delapan komposisi tersebut, Rhesa menerjemahkan sekumpulan pertunjukan yang ditata itu sebagai pasar malam. Kemudian ia menuangkannya dalam artwork cover album ini dan akhirnya menamakan album ini Festival. Lalu, apa hubungan artwork yang bertema pasar malam dan lagu-lagu di album ini?

Artwork pasar malam ini kemudian menggiring pendengar album ini untuk membayangkan berada di pasar malam yang seringkali diasosiasikan dengan sebuah pertunjukan di lapangan dengan pengunjung dari kelas ekonomi bawah dimana musik yang menghiasi kegiatan di sana tak jauh dari musik yang digemari pengunjung itu yaitu musik dangdut, musik rakyat.

Bintang memang sedang mengeksplorasi musik dangdut yang memiliki identitas sebagai musik rakyat khususnya orang Indonesia. Tapi, Bintang tak sedang menelanjangi musik dangdut secara vulgar dengan cara copy paste jenis musik yang bukan menjadi genre musiknya. Sebagai pencabik bass musik bergenre jazz, Bintang secara cerdas memadukan musik dangdut dengan jazz yang secara historis juga adalah musik rakyat di negara asalnya.

Delapan komposisi yang tersaji di album ini berisi musik yang merepresentasikan suasana dan perasaan yang biasanya terjadi di sebuah pasar malam. Situasi pasar malam yang umumnya gembira karena di sana terjadi pemenuhan kebutuhan kebahagiaan lewat cara bermain terwakili oleh komposisi penuh keriaan seperti pada ‘Nyet’, ‘Kendang Kribow’, ‘Rest Area’ dan ‘Woy’.

Namun, di dalam pasar malam, tentu juga ada kesedihan. Orangtua yang sedang mencari kesenangan kadang alpa menjaga anaknya sehingga lepas dari gandengannya. Dan, ketika dicari, sang anak sudah tak ada di sebelahnya. Di situ ada penyesalan dan kesedihan. Kemudian segala upaya dilakukan untuk menemukan anak kembali. Dan saat sudah ditemukan, perasaan gembira kembali muncul.

Suasana awal yang sedih kemudian menjadi gembira tadi bisa didengarkan lewat ‘Dr Spc Paru’ yang inspirasinya didapat dari rasa syukur ketika teman yang terbaring karena sakit bisa sembuh dan kembali bersama bermain musik dan juga komposisi ‘Duniah Pantati’ yang merupakan penyamaran dari Dunia Fantasi, wahana rekreasi yang ada di Jakarta.

Sementara komposisi yang berirama sedang bisa didengarkan lewat ‘Opening’ dan ‘Teng Teng’. Komposisi ‘Opening’ yang berakhir klimaks seolah menggambarkan para pekerja di pasar malam yang harus tetap semangat menjaga keberlangsungan segala permainan di sana yang tetap harus hidup. Sementara ‘Teng Teng’ yang berakhir anti klimaks seperti hendak menggambarkan para pekerja di pasar malam yang kehabisan tenaga setelah pertunjukan usai. Anda puas, saya lemas. Begitu kira-kira.

Bintang Indrianto Trio ++ yang terdiri dari Bintang Indrianto pada bass, Denny Chasmala pada gitar, M Iqbal pada drum mewakili instrumen musik modern yang biasa digunakan pada band modern semacam group jazz yang aslinya dari dunia barat sedangkan Bang Madhun pada gendang, Sofyan pada suling dan Kiki Dunung pada kendang dan ceng ceng adalah orang-orang yang memainkan alat musik mereka pada musik rakyat dari timur semacam group dangdut.

Perpaduan jazz dan dangdut di album ini memang menggambarkan sebuah kolaborasi yang sama-sama disebut musik rakyat, jazz dan dangdut. Dalam bahasa kerennya boleh juga delapan komposisi di album ini disebut east meets west. Dan, perpaduan itu memang enak. Tak kalah enaknya dengan sajian singkong keju yang sekarang bisa banyak ditemukan di kaki lima dan juga di pasar malam.

Singkong keju yang bisa ditemukan dimana-mana itu sama seperti album ini. Di bawah distribusi De Majors yang sekarang merupakan perusahaan distribusi produk musik dengan jaringan paling bagus dan massive, album ini mudah ditemukan di gerai penjualan CD, baik yang permanen maupun nomaden di pameran atau event pertunjukan musik.

Menikmati musik rakyat, menyantap makanan rakyat hasil perpaduan budaya timur dan barat di sebuah pasar malam? Enaaaak tenan……..

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s