Ruth: Tiga Kali Sepuluh (The Unheard Songs)

Ruth Tiga Kali SepuluhRuth: Tiga Kali Sepuluh (The Unheard Songs)

• Penulis: Tamara Geraldine
• Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
• Cetakan: I, Mei 2015
• Tebal: 280 halaman

 

Pada halaman sampul belakang, buku ini tertulis sebagai buku kategori Biografi/Social Science/Inspirasi. Mengapa biografi ini dikelompokkan juga sebagai inspirasi?

Sebuah biografi umumnya memang sebuah cerita hidup seseorang. Pengkategorian Inspirasi dimasukkan dalam buku ini karena buku ini memang tidak sekedar bercerita tentang seorang Ruth Sahanaya dari lahir sampai sekarang; perjalanan hidupnya sebagai seorang anak kemudian fase remaja lalu perjalanan karir, cinta dan rumah tangganya tapi juga bagaimana cerita Ruth bisa dijadikan sebuah contoh atau teladan untuk orang-orang yang berprofesi sama dengannya.

Cerita bagaimana Ruth kecil harus hidup dengan kondisi ekonomi keluarga yang tak mewah karena ayahnya idealis untuk tak bersentuhan dengan kemewahan dari uang kotor dan bagaimana keluarga itu menyandarkan kehidupan sepenuhnya pada Tuhan sebagai dasar pijakan hidup yang religius menjadi sebuah poin inspiratif di tengah kehidupan masyarakat kita yang selalu mengukur kesuksesan dengan berlimpahnya materi yang dimiliki.

Ruth yang sudah punya nama besar menyebutkan nama guru SD (Bu Emma) yang pertama kali menemukannya sampai akhirnya mengembangkan talentanya ke dunia tarik suara menjadi sebuah contoh penyanyi besar berbadan kecil ini adalah kacang yang tak lupa kulitnya. Dan, Bu Emma diberi ruang khusus di buku ini di antara nama-nama besar lain yang memberi kesaksian tentang Ruth.

Buku yang berisi 30 bab karena disesuaikan dengan judulnya ini menggiring pembaca mengenal Ruth secara pribadi. Pada bab-bab awal, cerita berkisar tentang Ruth secara pribadi; mulai dari silsilah keluarga sampai kehidupan asmara dan rumah tangganya bersama sang suami, Jeffry Waworuntu, yang merupakan pangeran impiannya ketika belum menjadi miliknya.

Di awal sepertiga kedua buku ini, cerita mulai berkisar tentang hal-hal yang menempel pada Ruth sebagai penunjang karirnya seperti busana, sepatu dan rambut yang akhirnya diterimanya sebagai sebuah anugrah. Setelah itu kembali lagi pada sisi personal Ruth seperti kelemahannya dan bagaimana dia memilih bersikap diam ketika menghadapi jurnalis. Di bagian akhir sepertiga kedua buku ini, ada pertanyaan yang jawabannya berupa tulisan tangan Ruth. Sang penulis, Tamara Geraldine, membiarkan pembaca menilai Ruth berdasarkan interpretasi masing-masing. Semacam karya sastra yang akhir ceritanya diserahkan pada pembaca.

Bab lain merupakan sebuah kesaksian saling puji antara Ruth dan Widyawati yang jadi idolanya dan juga antara Ruth dan Titi DJ yang sudah lama jadi sahabatnya. Bab 20 merupakan bab dimana sang anak (Nadine dan Mabel) mengutarakan pendapatnya tentang Ruth. Dari bab ini bisa terlihat bagaimana hubungan keluarga ini.

Sepuluh bab terakhir berisi lebih banyak tentang karir Ruth dan segala pernik-perniknya dengan sisipan tentang keluarga, kisah cinta dan perkawinannya. Bab terakhir menyajikan hasil karya Ruth yang telah dihasilkannya dan segempok prestasinya. Satu bab sebelum bab terakhir merupakan “bab hitam” karena tak terisi seperti harapan Ruth. Ruth sangat kecewa bab ini kosong.

Kala negara tak terlalu peduli pada pekerja seni khususnya musisi dengan membiarkan karya mereka dibajak habis-habisan, Gramedia Pustaka Utama (GPU) sebagai penerbit buku terkemuka di negara ini memberi apresiasi pada pekerja seni dengan menerbitkan buku-buku (oto)biografi musisi. Setelah Chrisye (2007), Dewa Budjana (2007), Titiek Puspa (2008), Gigi (2009) dan Kris Dayanti (2009), kini GPU menerbitkan kisah hidup Ruth Sahanaya. Masih banyak kisah hidup musisi Indonesia yang bisa dibukukan oleh GPU.

Kisah hidup dan karya Ruth memang layak dibukukan karena konsistensinya di dunia industri musik. Ruth yang berpendapat fans adalah bagian penting dalam perjalanan karirnya tentu memiliki banyak cerita menarik yang pantas dibagikan dan dijadikan inspirasi bagi musisi lain di negeri ini.

Buku yang berisi kesaksian beberapa orang inner circle Ruth Sahanaya dan orang yang punya nama di dunia karirnya, mulai dari mantan manager, anak, teman baik, musisi, penyanyi dan lain-lain menjadi semacam penyeimbang yang biasanya hanya menceritakan kebaikan saja sementara dalam kehidupan tak ada orang yang sempurna.

Orang-orang yang memberikan kontribusi berupa penuturan di buku ini adalah orang-orang yang memahami Ruth secara baik. Ada Biece dan Ita Sahanaya, sang kakak. Iwan Zen dan Lita Zen yang merupakan sahabatnya. Hendar Waskito, Jos Pattipeilohy, Marcia Simauw, Raymond Pattirane, Robin Legiman dan Wempy Pattipelohy yang berada di pusaran karirnya. Juga Samuel Wattimena sang perancang busana.

Dari pihak musisi ada Addie MS, Aminoto Kosin, Candra Darusman, Dian HP, Edwin Saladin, Harvey Malaihollo dan James F Sundah. Beberapa dari mereka bersama Ruth sejak awal karirnya. Penuturan mereka pasti tak sembarangan karena mereka punya nama baik. Sayangnya, orang yang mengawal karir Ruth sejak album Seputih Kasih (1987) sampai album Kasih (1999) tak memberikan pandangannya tentang Ruth. Seandainya beliau memberikan penuturannya, buku ini menjadi semakin lengkap karena dia termasuk orang penting dalam karir Ruth.

Pada bab terakhir tentang discography, ada karya yang tak dimasukkan di sana. Walaupun album Pop Amboina (1983) sudah disinggung di Being Ruth, mestinya album yang melibatkan Anggoman Bersaudara ini bisa dicatat pada discography mengingat Ruth menyanyikan seluruh lagu yang berjumlah sebelas di album itu.

Ruth menyanyikan satu lagu ciptaan Hermawan/Inge Maskun berjudul ‘Ini Dan Itu’ sebagai salah satu lagu finalis di Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) 1989. Ruth juga membawakan tiga single berjudul ‘Sepanjang Jalan Kenangan’, ‘Melodie D’Amour’ dan ‘Persembahanku’ pada album (kaset) yang diproduksi dalam rangka 35 Tahun Pertamina di tahun 1992. Meskipun album ini tak dijual tapi layak juga dimasukkan sebagai karya Ruth.

Ketika Ruth merilis album Yang Terbaik di tahun 1994, album ini juga dirilis di Jepang di bawah bendera Pony Canyon dengan tambahan satu lagu yaitu ‘Jika Daku Jatuh Cinta’. Artinya, karya Ruth sebenarnya juga goes international dan perlu juga dimasukkan ke daftar discography.

Satu hal yang agak tak nyaman ketika membaca buku ini adalah urutan. Seandainya bagian yang berhubungan dengan fashion sebagai penunjang penampilan Ruth bisa dijadikan bab yang berurutan tentu lebih nyaman dibaca. Begitu juga tulisan tentang kehidupan pribadi yang ada di bab-bab awal, kemudian ada juga di tengah dan juga ditemukan di bab 23.

Dan, sebagai seorang bintang yang mengakui pentingnya fans, ada baiknya juga dimasukkan salah satu penuturan fans yang mengenal Ruth di buku ini untuk semakin melengkapi bagaimana lingkaran luar melihat seorang idolanya yang bernama Ruth Sahanaya.

Last but not least, catatan atas Ruth: Tiga Kali Sepuluh (The Unheard Songs) ini dibuat sebagai kekaguman penulis pada Ruth Sahanaya sebagai salah satu idola di dunia musik Indonesia. Seperti halnya Bu Emma yang begitu bahagia ketika Ruth menyebutkan namanya di wawancara dengan majalah Bobo tahun 2002, penulis juga seperti bu Emma saat Ruth melihat catatan ini sebagai catatan positif. Kebahagiaan itu akan bertambah jika Ruth bersedia berteman di salah satu media sosial dan mau menanggapi setiap pendapat yang disampaikan penulis agar penulis tak harus menyanyikan ‘Adakah Tempat Di Hatimu‘ sebagai seorang fans.

 

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s