Krakatau Reunion Economic Jazz Live XXI – Mesin Waktu Yang Berulang

Menyaksikan dan menikmati pertunjukan Krakatau Reunion di pagelaran Economic Jazz Live (EJL) XXI seperti menyaksikan pertunjukan sebuah band lewat sebuah mesin waktu yang berulang.

Krakatau, band bergenre fusion jazz yang merajai panggung dan industri musik Indonesia di era 1980-an, pada pagelaran yang digelar tanggal 10 Oktober 2015 lalu di gedung Grand Pacific menampilkan permainan yang tak jauh berubah dari apa yang dulu mereka tampilkan di tahun 1987 di Sport Hall Kridosono. Kalau pun ada yang beda itu terletak pada musik mereka yang mengandung unsur kekinian sebagai bukti bahwa mereka bermain musik dengan lentur.

Membawakan total 14 komposisi dengan kunci yang sama, kecuali pada lagu baru ‘Aku Kamu Kita’, seperti yang mereka mainkan pada saat mereka aktif di rentang tahun 1980an sampai awal 1990an sebelum akhirnya mereka mengubah genre menjadi ethnic jazz dan terjadi perubahan personil, Krakatau Reunion tampil memuaskan penonton yang rindu kenangan dan kejayaan masa lalu saat mereka menggandrungi band yang menorehkan tinta emas pada industri musik Indonesia.

Krakatau Reunion memulai pertunjukkan mereka tepat pukul 19.45 setelah Farhan sebagai MC memberikan pengantar ucapan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini. Kehadiran mereka di panggung langsung disambut tepuk tangan riuh penonton. Trie Utami sebagai lead vocal langsung membawakan ‘Kembali Satu.’ Sebuah lagu yang ada di album Kembali Satu (1990). Ini adalah sebuah lagu yang ketika mereka buat, mereka tak membayangkan suatu saat bisa menyatukan mereka kembali dalam format reuni.

Enam menit berikutnya, mereka membawakan ‘Kemelut’ dari album pertama mereka (First Album, 1987) yang mengantarkan mereka menjadi super group di Indonesia. Album pertama ini memiliki dua versi dalam susunan lagu. Selesai membawakan lagu ini dalam durasi lima menit, Trie Utami memberikan kata pembuka dan langsung mengajak penonton untuk ikut mendoakan Indra Lesmana yang malam itu batal hadir karena harus menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Denpasar.

Masih dari album pertama mereka, Krakatau melanjutkan pertunjukan mereka dengan ‘Dirimu Kasih’. Tak jauh dari apa yang bisa didengarkan di kaset, lagu ini berdurasi hampir sama, sekitar 4 menit. Mereka melanjutkan perjalanan pertunjukan malam itu dengan lagu ‘Perjalanan’ dari album yang sama dengan lagu yang membuka pertunjukan ini. Sesuai lagu ‘Perjalanan’, Trie Utami bercerita bagaimana Krakatau memiliki emotional binding dengan Economic Jazz Live karena malam itu adalah kali kedua Krakatau tampil di EJL setelah sebelumnya mengisi EJL kedua di tahun 1988.

Pertunjukan dilanjutkan dengan ‘Cita Pasti’ dari Second Album (1988). Banyak penonton ikut larut dengan lagu yang merupakan lagu favorit salah satu penonton bernama Yulianto. Yulianto yang menyukai Krakatau sejak tahun 1988 pada saat duduk di bangku SMP sepanjang pertunjukkan tak berhenti ikut bernyanyi dan menikmati komposisi instrumental yang dibawakan Krakatau. Pada lagu ini, Gilang Ramadhan menunjukkan gebukan drumnya yang masih bertenaga, tak jauh beda dengan apa yang dia lakukan 28 tahun yang lalu.

Selepas ‘Cita Pasti’, terjadi komunikasi antar personil dimana Dwiki Dharmawan memuji Trie Utami yang kemudian rehat menuju belakang panggung karena setelah itu, mereka memainkan komposisi ‘Haiti’ yang tanpa vokal. Ini adalah komposisi favorit Tony Prasetiantono, CEO EJL sejak awal sampai sekarang. Komposisi ini sangat favorit di kala itu sehingga sempat dijadikan backsound siaran sebuah acara di radio seperti yang disampaikan Pak We, seorang penyiar radio senior yang kala itu adalah penyiar di radio Unisi. Kekayaan improvisasi lagu ini membuat Krakatau memainkannya sepanjang delapan menit, tiga menit lebih lama dari yang ada di kaset album pertama. Menurut Dwiki, ‘Haiti’ sudah dimainkan sebanyak tujuh kali konser di Yogyakarta.

Ketika Haiti selesai, Trie Utami kembali berinteraksi dengan penonton, menyebut beberapa nama orang Yogyakarta yang punya ikatan dengan Krakatau seperti Kimpling yang adalah orang pertama mementaskan Krakatau di Yogyakarta tahun 1985 dan 1987, kemudian Djaduk Ferianto yang juga hadir. Tak ketinggalan dia juga menyebut nama gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Pramono Anung, Sekretaris Kabinet Indonesia,  yang malam itu juga berada di antara penonton.

Selanjutnya mereka membawakan lagu baru ‘Aku Kamu Kita’ yang rencananya akan segera dirilis dalam bentuk album. Lagu dengan tema kekeluargaan yang dimiliki Krakatau dengan para pecintanya ini juga menunjukkan bahwa Krakatau memiliki banyak karya yang tidak terkonsentrasi pada lagu cinta antara pasangan. Karya-karya mereka terdiri dari banyak tema yang universal. Lagu berdurasi lima menit ini dilanjutkan dengan ‘Imaji’ dari album pertama.

Trie Utami memberi sedikit pengantar untuk lagu ‘Ironis’. Menurutnya, ini adalah lagu yang “menyiksa” ketika harus dinyanyikan pada kunci yang sama dengan 30 tahun lalu ketika dia masih remaja. (Faktor U, mbak e…… – penulis). Tapi, ini sekaligus sebuah pembuktian vokal Trie Utami masih prima dan tak berubah. Tantangan yang berat bisa ditaklukkannya. Dan pada lagu ini, Donny Suhendra memberikan sentuhan rock yang kental.

Berlanjut dengan lagu yang menurut Trie Utami sangat jarang dibawakan di pertunjukkan mereka, ‘Seraut Wajah’ dari album Kembali Satu. Banyaknya penonton yang ikut menggerakkan bibir mereka mengikuti lagu ini menjadi pembuktian begitu kuatnya lagu Krakatau bagi fans mereka. Pada lagu ini, Dwiki melakukan improvisasi dengan meninggalkan peralatan kibornya dan menuju ke tengah panggung dengan keytar berwarna merah.

Sebagaimana pertunjukan musik jazz sebenarnya, di komposisi ini Dwiki dan Trie Utami saling menunjukkan kepiawaian mereka, saling bersahutan vokal dan bunyi keytar dan menimbulkan tawa penonton. Inilah bukti kapasitas mereka sebagai musisi. Sementara itu, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra dan Pra B Dharma pada bass ikut mengimbangi aksi kedua rekan mereka di panggung dengan menunjukkan sinergi kekompakan. Dandy Lasahido, pemain kibor tambahan, yang menggantikan Indra Lesmana dari sisi lain ikut menjaga ritme komposisi ini.

Dwiki yang kembali ke peralatan kibornya kemudian melanjutkan pertunjukan ini, memancing penonton dengan intro ‘La Samba Primadona’ dari album kedua. Lagu yang semakin mempopulerkan Krakatau disambut meriah oleh penonton yang sangat akrab dengan lagu ini. Teriakan histeris membahana di gedung berkapasitas 4000 penonton. Lagu yang dimainkan selama enam menit ini dilanjutkan dengan solo drum Gilang Ramadhan yang tetap prima di usia yang tak lagi remaja.

Kepiawaian Gilang bermain drum yang memasukkan unsur-unsur musik etnik dan tradisional tak pelak mengundang tepuk tangan penonton beberapa kali. Selama sepuluh menit memainkan drum secara solo, Gilang menyelipkan permainan “nakal” yang mengecoh perkiraan penonton. Gilang yang merupakan guru bagi banyak drummer di Indonesia memang menunjukkan kualitasnya pada pertunjukkan ini.

‘Kau Datang’ menjadi lagu berikutnya setelah permainan solo drum Gilang Ramadhan. Lagu yang ada di mini album Top Hits Single (1989) dan Kembali Satu termasuk lagu yang ditunggu oleh para penonton. Karaoke massal membahana di ruang pertunjukkan. Saat intro yang berisi suara Trie Utami hendak menuju ke lagu yang utuh, Gilang kembali membuat “kericuhan” kecil. Sebelum drum ditabuh, dia menyeka keringatnya sehingga lagu ini sempat terhenti sejenak dan menimbulkan ledakan tawa penonton. Tak ayal, lagu ini menjadi koor bersama.

Koor bersama berlanjut ketika Krakatau memainkan lagu ‘Sekitar Kita’ dari album Let There Be Life (1992). Ini adalah album Krakatau yang menyisakan Dwiki Dharmawan, Pra B Dharma dan Trie Utami dari formasi sebelumnya sekaligus album terakhir Krakatau memainkan genre fusion jazz dan kemudian berganti menjadi ethnic jazz alias world music. Koor massal lagu populer yang menjadi jembatan pecinta Krakatau generasi 80an dengan generasi 2000an ini ditangkap oleh Trie Utami dengan membiarkan penonton bernyanyi. Trie Utami sekaligus menjadi leader interaksi penonton sebagai bagian dari pertunjukkan ini.

Tanpa terasa, mereka membawakan persembahan terakhir malam itu. ‘Gemilang’ dari album pertama mereka sekaligus menjadikan group ini sebagai group jazz Indonesia yang gemilang menggema pada akhir pertunjukkan mereka. Penonton tak henti ikut bernyanyi, memberikan kesan kerinduan akan band yang memang pantas dikagumi sebagai salah satu ikon industri musik Indonesia.

Donny Suhendra pada gitar, Dwiki Dharmawan pada kibor, Gilang Ramadhan pada drum, Pra B Dharma pada bass, Trie Utami pada vokal dan Dandy Lasahido sebagai pemain kibor tambahan karena faktor di luar rencana yang terjadi pada Indra Lesmana malam itu menghadirkan tontonan pemuas dahaga pecinta Krakatau. Permainan mereka yang rapi tak hanya seperti sekedar menonton mereka di masa lalu. Permainan mereka tetaplah prima seperti dahulu bahkan adaptasi tren masa kini mereka kuasai. Tata suara yang dipegang oleh Donny Hardono juga mendukung kualitas pertunjukan. Tata lampu yang megah sangatlah bersahabat bagi para fotografer yang ikut mengabadikan pementasan ini.

115 menit kehadiran Krakatau di panggung EJL XXI rasanya tak cukup mengobati kerinduan pecinta Krakatau. Masih banyak hits mereka seperti ‘Winter Grays’, ‘Pelican’, ‘Senja’, ‘Mega Pagi’, ‘Ananta’, ‘Peterpan’, ‘Sayap-sayap Beku’, ‘Tiada Abadi’, ‘Dunia’, ‘Feels Like Forever’ yang tak dibawakan karena durasi pertunjukkan memang terbatas. Menyatukan keenam personil yang masih eksis di dunia musik dengan kesibukan dan tanggung jawab masing-masing merupakan kesulitan tingkat tinggi. Sebagaimana arti reunion yang tak selalu mudah direalisasikan, membawa mereka kembali ke panggung dengan label Krakatau Reunion adalah sebuah perhelatan istimewa. Salut untuk panitia Economic Jazz Live yang bisa menghadirkan mereka di antara puluhan tawaran yang mereka tolak.

 

Tj Singo

Advertisements

2 thoughts on “Krakatau Reunion Economic Jazz Live XXI – Mesin Waktu Yang Berulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s