Kurnia Candra – I Was Born To Sing

13 Febuari 2016 yang lalu, Band Kerispatih yang beranggotakan Andika sebagai bassist, Anton pemain drum, Arief pemetik gitar,  Badai pada kibor dan Fandy sang vokalis menggelar Konser Mahakarya Untuk Cinta di GoetheHaus. Konser dengan penonton terbatas 300 orang memenuhi kapasitas gedung itu. Sepanjang konser dari awal sampai akhir seluruh penonton tak ada yang tak bernyanyi. Mereka yang mencintai karya Kerispatih begitu antusias ikut menyanyi.

Inilah konser pertama Kerispatih selama 12 tahun berkarir di dunia musik Indonesia. Konser akustik ini sekaligus merupakan pembuktian bahwa Kerispatih adalah sebuah band yang memang piawai memainkan alat musik secara langsung sebagaimana album mereka yang sudah dirilis pada Agustus tahun lalu menggunakan format yang sama.

Dalam konser itu, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Kerispatih yang biasanya berada di panggung dengan kelima personil pria, pada kesempatan itu ada dua personil tambahan sebagai penyanyi latar. Dari kedua penyanyi latar itu, salah satunya juga memainkan biola. Namanya Nanda Candra. Siapa Nanda dan bagaimana dia bisa bergabung dengan Kerispatih di konser bersejarah bagi Kerispatih itu? Tentu tak sembarangan bagi Badai sebagai leader di Kerispatih untuk mengajak seseorang ikut menyukseskan konser ini karena Badai adalah orang yang kukuh mempertahankan kualitas.

Di dunia musik Indonesia, nama Nanda memang belum dikenal. Tapi di kota kelahiran dan tempat ia tinggal, Yogyakarta, Nanda yang bernama lengkap Kurnia Candra Lutfiyanti sudah menjadikan menyanyi sebagai profesinya. Kemampuannya bermain biola semakin memperkuat dan melengkapi penampilannya sebagai penyanyi yang lebih suka memakai nama panggung Nichan, singkatan dari nama aslinya. Tak jarang ia mengisi acara pesta perkawinan atau gathering perusahaan yang membutuhkan hiburan musik sebagai pelengkap acara tersebut.

Sebagai penyanyi sekaligus pemain biola yang punya banyak teman, Nanda bisa berada di acara-acara tersebut sebagai bagian dari group bentukan bersama teman-temannya. Saat ini, ia bersama DJ Sourra dan Siska Vox membuat group Dreammetes, sebuah group DJ & Live PA plus violin yang setiap minggu melakukan pertunjukan baik di Yogyakarta maupun di kota-kota lain. Selebihnya, ia bisa berada di antara teman-teman lain sebagai session player atau singer. Ia merasa lebih leluasa dan bisa terus mengasah diri mengembangkan hobinya bermusik dan bernyanyi.

Peran yang dilakoninya sebagai penyanyi dan pemain biola merupakan sebuah garis lurus kehidupannya sejak kecil. Mahasiswa tingkat akhir ISI Yogyakarta jurusan biola ini dibesarkan di keluarga musik. Ibunya merupakan guru musik di sebuah SD swasta dan ayahnya guru musik di sebuah SMP swasta juga. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Lingkungan yang menciptakan suasana kondusif bermusik serta keluarga yang demokratis dan mendukungnya membebaskan pilihan hidupnya membuatnya seakan berkendara di jalan tol tanpa hambatan menekuni musik.

Kehidupan Nanda kecil dikelilingi musik sehingga membuatnya mendapat exposure musik yang utuh. Sempat belajar piano klasik, akhirnya Nanda memilih menekuni biola karena merasa terkesan dengan pertunjukan orkestra yang ditontonnya. Baginya, string session pada sebuah orkestra sangatlah keren. Sejak itu ia jatuh cinta pada biola. Ditambah lagi, waktu itu ia sering mendengarkan dan menonton video Vanessa Mae, pemain biola wanita kelas dunia, yang semakin meyakinkan dirinya untuk memilih alat musik ini.

Peran orangtuanya begitu besar dalam menyediakan sarana dan prasana bermusik untuknya meskipun dalam perjalanannya, ia memilih outsourcing dalam memperdalam ilmu musik dibanding belajar pada ibunya sendiri. Ia menemukan sesuatu yang lebih ketika belajar pada orang lain. Toh, orangtuanya tak memaksanya untuk harus belajar gratis tanpa biaya. Selama masa kecilnya, Nanda hidup dengan penuh aktivitas. Tak banyak jadwal kosong karena ia mengikuti berbagai macam kursus seperti bidang studi, tari Jawa, lukis, nyanyi, biola serta piano.

Mengikuti kursus biola hanya satu bulan, Nanda kemudian belajar piano klasik selama 2 bulan saja. Ia juga mengikuti berbagai macam lomba nyanyi. Salah satu temannya yang selalu bersama ikut lomba nyanyi adalah Riosa yang sekarang menjadi vokalis Batiga. Selesai SMP, sebenarnya Nanda ingin melanjutkan ke SMA karena ingin menjadi dokter. Kapasitasnya memungkinkan karena nilai mata pelajaran di bidang eksakta bagus sejak SMP dan ia diterima di sebuah SMA Negeri.

Ibunya sempat mengingatkannya apakah ia tak ingin menjadi pemain orkestra seperti yang dulu diimpikannya. Reminder ibunya mengubah pikirannya untuk masuk ke SMM dan ia memilih jurusan biola dan harus mulai belajar lagi dari nol karena apa yang dipelajarinya di kelas 3 SD sempat ditinggalkannya.

Ketika masih di SD menuju ke SMP, Nanda mulai menggemari Kerispatih dan Samsons. Menurutnya, kedua band ini memiliki kesamaan. Kecintaannya pada Kerispatih terus berlanjut seiring mandegnya Samsons setelah Bams mengundurkan diri dari band itu. Lagu Rindu menjadi favoritnya karena lagu ini berisi orkestrasi; lagu ini merupakan lagu Kerispatih yang dikenal semua orang, tak ada orang yang mengatakan lagu ini lagu jelek.

Nanda tak pernah bosan memutar lagu ini. Menurutnya, Lagu Rindu memiliki nyawa tersendiri dan bisa menghipnotis pendengarnya karena saat mendengarkan lagu ini, orang bisa langsung merasakan kangen seseorang. Sebagai seorang anak, dia hanya memperhatikan judul lagu saja. Belum terlintas di benaknya sebuah lagu adalah sebuah karya dan karya itu ada penciptanya. Dan saat di SMM itulah, Nanda mulai sadar tentang karya dan mulai melihat sebuah lagu karya siapa.

Karya-karya Badai sudah menghipnotis Nanda. Wajar jika ia sangat ingin bertemu Badai. Setelah bertahun-tahun menunggu kesempatan bertemu Badai, momentum itu akhirnya terjadi ketika di Warung Musik Kampayo diadakan acara Lagu Rindu Kerispatih yang dihadiri Badai pada tanggal 15 Oktober 2015. Nanda sudah berniat bertemu dan berfoto dengan Badai. Mungkin inilah yang namanya senyawa. Nanda yang sudah hafal lagu-lagu Kerispatih tapi tidak ingin menonjolkan diri bisa ngejam dengan Badai ternyata secara acak dipilih oleh Badai untuk bernyanyi ketika Badai turun ke tengah penonton.

Nanda pun menyambut mic yang disodorkan Badai yang saat itu membawakan lagu Demi Cinta dari album Tak Lekang Oleh Waktu (2008). Meskipun sebenarnya Nanda khatam dengan lagu itu, toh ia tak bisa lari dari rasa grogi karena begitu excited. Apa yang diingatnya jadi hilang sampai ia harus mengulang lagu itu tiga kali. Di acara itu, Nanda seolah mewujudkan sepersekian dari mimpinya, bertemu dengan komposer idola dan berfoto. Ditunjuk Badai untuk ikut bernyanyi adalah bonus besar yang tak akan dilupakannya.

Acara Lagu Rindu Kerispatih tak berhenti. Warung Musik Kampayo sebulan berikutnya memfasilitasi Badai yang ingin mencari penyanyi untuk album karyanya mengadakan acara Badai Cari Bintang pada 12 November 2015. Pada audisi terbatas ini, Ain Warnain sebagai penanggung jawab hiburan di Warung Musik Kampayo menawari Nanda untuk ambil bagian karena melihat Nanda memiliki potensi. Ia diliputi keraguan mengikuti acara ini karena melihat para pesaingnya yang sudah punya nama di dunia entertainment di Yogyakarta.

Nanda sempat tak lagi ingin mengikuti ajang ini untuk mewujudkan mimpinya. Namun, peran teman bernama Tommy Boly yang menyanyikan lagu-lagu Kerispatih saat acara Lagu Rindu Kerispatih memberi support luar biasa dan meyakinkan Nanda untuk ambil bagian. Nanda akhirnya jadi melangkahkan kaki karirnya di acara ini. Membawakan lagu Kesempurnaan Cinta (Rizky Fabian) dan Like I’m Gonna Lose You  (Meghan Trainor), Nanda menjadi satu dari dua peserta yang akhirnya dipilih Badai untuk proyek pribadinya.

Sebelum merealisasikan rencana proyek pribadinya dan dengan potensi yang dimiliki Nanda, Badai terpikir menjadikan Nanda sebagai backing vocal dan additional violinist di Kerispatih. Badai memang pernah berpikir untuk memberi sentuhan lain pada penampilan Kerispatih di tahun ini dan sentuhan lain itu adalah penambahan Nanda yang memiliki kapabilitas untuk itu. Saat dihubungi Badai untuk menjadi backing vocal dan additional violinist, Nanda sangat gembira.

Selain sebuah kebanggaan menjadi bagian dari Kerispatih, Nanda terusik secara emosional karena Kerispatih merupakan band idolanya sejak dulu. Hal ini juga menjadi tambahan portofolionya yang pernah menjadi violinist untuk Batiga, sebuah band dari Yogya dan CND peserta Rising Star RCTI. Menjadi bagian konser Mahakarya Untuk Cinta juga membuat Nanda tersentuh. Di atas panggung ia melihat bagaimana para penonton, para Mahapatih, ikut bernyanyi tanpa henti sepanjang pertunjukan. Nanda bangga, merinding dan juga terharu.

Berada di panggung sebagai backing vocal dan additional violinist di konser Kerispatih bukanlah yang pertama buat Nanda. Di 12 Desember 2014, Nanda menjadi additional violinist untuk CND di event Konser Sepenuh Cinta yang menghadirkan Kahitna sebagai bintang utama malam itu. Ada sedikit penyesalan ketika berada di event itu karena Nanda tak sempat berfoto dengan Kahitna yang juga diidolakannya karena pekerjaan lain di tempat yang berbeda telah menunggunya. Tiga hari yang lalu, Nanda menjadi backing vocal untuk Melly dan Vina Panduwinata di Mega Konser di Yogyakarta. Tentu ini juga momentum penting bagi perjalanan karirnya karena Melly dan Vina Panduwinata adalah nama besar di dunia musik Indonesia.

Mimpi lain yang Nanda pendam saat ini dan sangat ingin ia wujudkan adalah berduet dengan penyanyi solo pujaannya, Afgan. Entah harus bagaimana jika mimpi ini terwujud. Bisa saja Nanda penggemar warna coklat ini tak berdaya dan salah tingkah. Tapi, bisa juga Nanda menjadi lebih bersinar. Semoga yang kedua yang terjadi. Bukan begitu Nanda?

Perjalanan hidup Nanda ingin menjadi penyanyi sudah dirintisnya. Fasilitas yang didapatkan di keluarga sejak kecil adalah sebuah jalan lurus yang cenderung mulus. Perjalanan yang terus berlanjut sampai bertemu pencipta lagu idola, menjadi backing vocal di beberapa event dengan musisi yang sudah berada di level nasional nampaknya semakin mendekatkan keinginannya menjadi penyanyi profesional di kancah musik nasional. Bagi Dika, bassist Kerispatih, Nanda adalah seorang pemain biola dengan kualitas vocal dan pengetahuan nada yang baik, tidak neko-neko dan sangat berbakat.

Nanda seolah terlahir menjadi penyanyi, seperti cerita lagu I Was Born To Sing yang dinyanyikan Maribeth, penyanyi Filipina, di album yang sama dengan judul lagu itu. Album yang dirilis di tahun 1994, tahun Nanda dilahirkan, sepertinya memang bisa menggambarkan hidupnya yang menuju ke sana pada usianya ke-22 hari ini. Selamat ulang tahun, Nanda. Semoga cita-citamu segera tercapai.

I Was Born To Sing crop res

Tj Singo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s