Jikustik 20 Tahun – Tetap Berjalan

 

Duapuluh tahun. Dua dasawarsa. Sebuah usia band yang kata orang layak digelari legenda meskipun arti legenda adalah “cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah” (http://kbbi.web.id/legenda). Sebuah istilah yang sebenarnya agak salah penggunaannya. Tapi mungkin bisa dipahami maksudnya bahwa legenda adalah sesuatu yang bisa jadi cerita abadi. Bahasa memang bukan matematika. Setuju kan?

26 Februari 2016. Jikustik menginjak usia itu. Dua puluh tahun. Usia legenda. Jikustik sendiri tidak terlalu setuju dengan sebutan band legenda karena mereka masih aktif, mereka masih membawakan karya-karyanya dan personil dan band ini masih ada..Mereka lebih setuju disebut sebagai band yang masih bertahan. Mereka tertantang untuk menyajikan yang terbaik dengan segala sejarah yang jadi perjalanan hidup band ini.

Sebagai kumpulan beberapa orang dengan segala macam karakter dan kepentingan, tak mudah untuk sebuah band bisa bertahan mencapai usia ini. Ketika mulai menyukai band ini, saya punya harapan yang waktu itu saya pikir sederhana dan mudah (baca di sini). Ternyata …… (baca saja tautan di atas). Akhirnya saya harus menyadari pergantian personil band adalah (dianggap) sebuah kelaziman meskipun kelaziman itu kadang tak memberikan kenyamanan. Ya sudah, terima saja kelaziman itu. Toh kelaziman bukan kezaliman  Dan seperti kata orang bijak, tak ada yang abadi di dunia kecuali perubahan itu sendiri. Dan, Abadi, lengkapnya Abadi Bayu, sekarang adalah bassist Jikustik.

Karena saya percaya karya lebih penting daripada personil, Jikustik tetap saya ada buat saya. Dengan segala penyesuaian, Jikustik tetaplah Jikustik. Bagi beberapa orang – yang sok tau – pergantian personil adalah ketidaknyamanan. Ya, karena mereka tak pernah beranjak dari zona nyaman. Saya percaya cinta bisa ditumbuhkan. Menerima segala kelebihan dan kekurangan adalah sebuah sikap cinta. Jadi, masihkah menyebut diri pecinta ketika tak nyaman lagi dengan perubahan?

Tujuh tahun sejak perubahan besar terjadi, orang masih membandingkan versi out of date dengan versi up to date. Sosial media yang sekarang dengan sangat mudah digunakan untuk menyampaikan unek-unek menjadi saluran untuk menunjukkan perbandingan. Jumlahnya boleh dibilang masih banyak. Mungkin mereka berpikir ocehan mereka bisa mengabulkan harapannya. Sementara bagi Jikustik sendiri, formasi sekarang sudah memberi kenyamanan yang saat ini berada dalam hubungan personil ternyaman yang sangat kekeluargaan. Pertanyaan atau perbandingan yang dilakukan orang-orang yang sebenarnya tidak tahu perkembangan itu menjadi tak ada artinya karena Jikustik saat ini memang berkonsentrasi melanjutkan berkarya.

Melangkah ke depan pasti tak bisa lepas dari pengalaman masa lalu. Personil Jikustik yang saat ini berusia di atas 30 kecuali sang vokalis sudah mengalami naik turunnya perjalanan band ini seperti roda. Merangkak dari bawah, perlahan naik, pernah di atas, lalu menurun lagi. Masa-masa itu semua adalah pelajaran berharga. Darah muda yang menggelora saat memulai karir dan emosi yang masih labil adalah tahapan yang wajar terjadi. Perasaan menjadi “orang baru”, dikenal banyak orang menumbuhkan ego yang tinggi. Tak jarang, perselisihan pendapat berujung pada perdebatan sengit atau bahkan cek cok mulut atau fisik. Semua sudah dijalani.

Umumnya, band yang berusia seperti Jikustik sudah mendapatkan kemapanan secara finansial. Dulu, mereka pernah punya kesempatan itu dengan menyisihkan hasil manggung untuk membentuk sebuah aset tetap tapi sayang hal itu tak terjadi. Seperti sebuah jalan yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, band ini mengalami perubahan ekstrim. Bisa jadi perubahan itu membuat band ini tak mendapatkan kemapanan sebagaimana harapan awal dan kondisi pada umumnya. Tapi inilah Perjalanan Panjang seperti judul album mereka di tahun 2002.

Perjalanan panjang yang pernah mereka lalui sampai tak pulang ke rumah dua bulan ketika berada di puncak karir terus berlanjut. Siklus kehidupan berjalan. Perubahan ekstrim yang terjadi di tahun 2009 seolah menenggelamkan nama mereka. Dengan sisa-sisa tenaga mereka bertahan. Dengan pergantian vokalis baru, mereka melanjutkan perjalanan. Tetap berkarya. Pembandingan yang dilakukan banyak orang saat itu memang tidak adil.

Sang vokalis memiliki peran besar untuk membawa Jikustik kembali jaya atau sebaliknya. Sebagai anggota baru, ia mendapat bimbingan dari anggota lain agar yang menjadi yang terbaik untuk mengorbitkan Jikustik lagi. Ia diberi pilihan untuk memilih model yang cocok. Ia sempat mengimitasi menjadi penyanyi A atau B agar bisa menggiring Jikustikan dan pendengar musik lainnya mengidolakannya. Ia sudah mencoba walau akhirnya menemukan bentuk sendiri, tak menirukan siapa pun, tapi menjadi dirinya sendiri.

Industri hiburan khususnya televisi yang tak lagi bersahabat pada karya musik Indonesia bagus tak lagi menampilkan mereka di layar kaca. Beberapa orang yang mengaku pendengar musik Indonesia bahkan di sosial media bertanya apakah Jikustik masih eksis. Semua keraguan dijawab dengan karya. Tanpa harus gembar gembor di media yang lebih suka menampilkan urusan pribadi semacam infotainment, Jikustik tetap berjalan. Bukti nyata karya mereka ada di album Live Acoustic di tahun 2014 yang diproduksi sendiri tanpa label dan bisa terjual 12000 keping.

Perjalanan-perjalanan kecil mereka jalani seperti awal mereka meniti karir. Kehadiran sang vokalis yang masih segar usia menjadi kekuatan baru Jikustik.Dipercaya menciptakan lagu bertema dinamika hidup remaja dan pra dewasa seusianya, Jikustik menemukan penggemar baru. Lagu-lagu Jikustik mengalami perubahan. Panggung pensi dengan penonton anak-anak SMA atau mahasiswa menjadi pasar baru. Sang vokalis menjadi gacoan baru. Para penggemar baru Jikustik telah lahir. Mereka kenal Brian adalah vokalis Jikustik. Mereka mengenal lagu Kembali Indah, Pujaan Hatiku, Bila Ada Cinta Yang Lain dan Puisi sebagai lagu Jikustik.

Jadi, tak ada lagi gunanya berharap Jikustik kembali seperti dulu. Mereka sudah mendapatkan Jikustikan baru. Ocehan yang bersifat komplain dan dirasa menggangu ketika membandingkan formasi sejarah dan formasi masa kini bisa dijawab Jikustik dengan menyanyikan:

Ini bukan kesalahan
Mereka kita tinggalkan
Karna kita merasakan
Getaran yang sama

Ini bukan kesalahan
Biar Tuhan yang tentukan
Berapa jauh berjalan
Mampukah bertahan
 
Yang bisa kita lakukan
Melepaskan semua
Dan menjadikan mereka
Kenangan

Perjalanan panjang yang berlanjut dari panggung ke panggung saat ini mulai terasa menambah kemakmuran hidup para personilnya. Sedikit demi sedikit, mereka mulai naik. Selain konsisten berkarya, kini mereka sudah punya anggota keenam, manajemen. Setelah bertahun-tahun manajemen dirangkap oleh mereka semua, kini Jikustik sudah bisa berkonsentrasi pada karya. Kurang dari setahun ini mereka bergabung dengan manajemen Fadeout.

Proses bergabungnya Jikustik dan manajemen Fadeout bukanlah sebuah proses instan. Mereka berkenalan tiga tahun lalu. Pulung Agung sebagai pimpinan manajemen Fadeout yang merupakan sekolah DJ melihat Jikustik sebagai sebuah band yang sayang jika harus diperlakukan tak semestinya. Sebuah aset yang perlu dirawat dan dibesarkan kembali. Komunikasi yang terus terjadi akhirnya membuat Jikustik bersedia bergabung sejak September 2015. Bergabungnya Jikustik ke manajemen ini terbukti semakin membuat band ini lebih aktif manggung. Dengan jaringan yang dimiliki manajemen, kuantitas show bertambah dan semua jadi lebih tertata..

Perjalanan panjang sudah dimulai sejak 20 tahun yang lalu. Merangkak dan berlari sudah dijalani. Surut juga pernah terjadi. Kini, di usia ini, mereka secara pelan tapi pasti hadir lagi di dunia musik Indonesia. Mereka sudah menghasilkan karya baru berupa album Tetap Berjalan yang baru bisa dibeli lewat laman unduh berbayar. Sayang, peringatan hari jadi ke-20 ini tak dibarengi dengan rilis album fisik. Entah apa yang jadi pertimbangan label yang mestinya harus bisa melihat keberhasilan mereka menjual fisik album mini Live Acoustic dengan hitungan penghargaan platinum saat ini. Jika yang diharapkan label adalah bisa mendapatkan jaminan jumlah pembelian menyamai ketika Jikustik merilis album pertama (Seribu Tahun, 1999), jelas itu adalah – meminjam istilah Asmuni Srimulat – hil yang mustahal.

Dua puluh tahun adalah usia yang panjang. Sudah saatnya Jikustik menggelar konser tunggal. Dengan jumlah karya sekitar seratus atau lebih, tak sulit memilih dan membawakan 20 lagu di sebuah konser tunggal. Bila memungkinkan, konser itu bisa dihadiri semua orang yang ada di sejarah Jikustik sambil bernyanyi Kawan Aku Pulang. Bukankah ini sebuah Rencana Besar yang baik dan bisa terjadi?

Selamat hari jadi Jikustik. Jikustik yang Adhit, Bayu, Brian, Carlo dan Dadik. Teruslah berkarya. Jangan hanya jadi group yang hanya Untuk Dikenang. Masih ada yang Setia menunggu Sampai Samudra Mengering sambil Pandangi Langit Malam Ini dan ku siap tuk berpesta ……
Tj Singo

Advertisements

9 thoughts on “Jikustik 20 Tahun – Tetap Berjalan

  1. Jikustik, dengan segala kekurangan dan kelebihannya…
    Dari merangkak, tertatih hingga berlari…
    Segala kisah sedih hingga bahagia…
    Aku yakin, Allah punya jalan dan skenario yang lebih indah…
    Tetaplah bertahan, tetaplah berjalan…

    Jikustik sudah menjadi sebagian dari hidup..
    Terluka dan memaafkan membuat hidup menjadi lebih bijak dan dewasa…

    Aku
    Disini…
    Akan selalu mencintai, dengan rasa yang sama..
    Apapun yang terjadi..

    Selamat 20tahun 💝

  2. Terimakasih banyak om Singo atas segala dukungan, saran, ide, semangat, dan apapun semua yang telah terjadi selama 20 tahun jikustik berkarya .. Tulisan yang sangat “So Sweet” untuk 20 tahun jikustik .. “kamu yang sangat peka, menulis tanpa kuminta” penggalan lagu So Sweet … hehehe
    Maturnuwun .. Terimakasih .. Thank you .. Kamsia ..
    Tetap Berjalan dengan selalu merasa Bahagia Melihat mu Dengannya .. hidup akan selalu merasa So Sweet ..
    God Bless You All ….

  3. Saya pribadi masih susah untuk bisa menikmati Jikustik pasca Pongki pergi. Kekuatan liriknya jadi berkurang. Yah memang bukan hal adil sih untuk membandingkan. Toh kita harus menghargai orang-orang yang tetap berusaha membuat band ini tetap bertahan. Yang jelas banyak momen-momen dalam kehidupan saya yang punya soundtrack tepat di tangan Jikustik hehe

  4. Menunggu trilogi berikutnya setelah mereka kembali indah dan masih tetap berjalan
    .
    tulisan mas sepuitis lagu jikustik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s