Continue Or Leave? Catatan Atas Sebuah Kehilangan

Mencintai adalah kenikmatan. Mencintai dengan totalitas akhirnya melibatkan hati. Semua rasa cinta tertumpah sehingga yang ada adalah cinta buta. Tak ada cacat. Yang terbayangkan hanyalah yang indah saja. Ketika terjadi perubahan ekstrim, kecintaan itu tetap coba diperjuangkan agar tetap ada. Tapi jika tak bisa, pasrah adalah jawabnya. Mau lanjut mencinta atau meninggalkannya?

Itulah gambaran ketika seseorang mencintai sebuah group band. Dan inilah yang saya alami ketika terjadi perubahan keluarnya Lilo dari group idola saya, KLa Project, di tahun 2001. Seketika itu, forum diskusi di laman resmi group tersebut dipenuhi protes para KLanese yang ingin Lilo kembali ke sana. Banyak kekecewaan terekspresikan. Namun tak ada hasil baik yang terjadi (pada saat itu). Saya termasuk yang kecewa karena buat saya KLa Project adalah Katon, Lilo & Adi. Sebuah trisula yang ketika salah satu ujungnya patah, maka trisula itu tak akan berfungsi maksimal.

Belajar dari apa yang terjadi pada KLa Project, saya pernah mengungkapkan harapan pada Jikustik agar apa yang terjadi pada band idola sebelumnya tak terjadi di band ini. Ini saya sampaikan pada mereka lewat sebuah tulisan yang saya kirim langsung pada mereka di tahun 2007. Namun kenyataan berkata lain. Harapan tinggallah harapan. Pongki akhirnya juga meninggalkan Jikustik. Tentu, ini menjadi kekecewaan yang berulang.

Dua peristiwa yang sama mengajarkan pada saya mencintai sebuah group band harus juga berjaga-jaga jika harapan agar mereka terus bersama sepanjang usia tak bisa jadi nyata. Dan itulah yang saya terapkan ketika saya mengidolakan Kerispatih sebagai pujaan baru.

Sebagai pujaan baru sejak mengenal mereka dengan karyanya Lagu Rindu (2005) saya terus berusaha mengenal semua karya lanjutan mereka. Konsistensi mereka berkarya dalam menghasilkan lagu-lagu yang indah membuat saya semakin jatuh hati dan ingin dekat. Kesempatan bertemu beberapa kali dan bagaimana sikap mereka memperlakukan saya semakin mendekatkan saya pada mereka. Hubungan idola – fans tergerus menjadi hubungan antar teman. Tapi, saya tetap tau diri. Ada hal yang saya tak ingin tau dan tak perlu tau demi menjaga obyektivitas dalam menilai karya mereka.

Tahun demi tahun berlalu. Terjadi dinamika dan perubahan pada group ini. di tahun 2010, setelah merilis album Semua Tentang Cinta (2009), sang vokalis tak lagi bersama mereka. Dari pengalaman sebelumnya, saya tak lagi harus kebakaran jenggot dengan perubahan yang terjadi. Dan sebagai bentuk kecintaan, support kepada Kerispatih tetap saya berikan. Menerima vokalis baru, menikmati suaranya dan terus mendukung karya mereka.

Hubungan baik yang terus berlanjut ini semakin membuat saya mencintai group ini dan seluruh personilnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sebuah album mini dengan vokalis baru tahun 2010 kemudian album penuh di tahun 2012 dan terakhir album Delapan yang digarap secara live acoustic tahun lalu saya nikmati. Tak ada kecintaan yang berkurang pada group ini. Kepercayaan yang mereka berikan pada saya menjadi penulis untuk Kata Pengantar di album Delapan merupakan kepercayaan sekaligus kehormatan untuk saya. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada mereka.

Dinamika terus berlanjut. Kami jadi lebih sering berkomunikasi lewat aplikasi obrolan di telepon pintar dan interaksi di media sosial. Di hari jadi mereka ke-11 dan ke-12, saya mengungkapkan kecintaan saya lewat tulisan sebagai “kado ulang tahun” di blog pribadi saya. Sayangnya, di usia mereka ke-13, saya absen menulis. Mungkin keengganan saya menulis terkait dengan sepinya mereka berkarya menghiasi panggung-panggung hiburan non-televisi. Ah, sebuah alasan yang membungkus kemalasan saja, rupanya.

Bisa iya, bisa tidak. Yang jelas, tulisan saya di hari jadi mereka ke-12 sedikit berisi harapan saya agar mereka lebih aktif dan interaktif dalam rangka menaikkan citra mereka. Namun harapan itu nampaknya tak begitu bisa jadi nyata. Padahal, apa yang saya tuliskan sejatinya demi menaikkan nama mereka juga. Kecewa? Enggak juga. Saya sudah terbiasa dengan kondisi memberi masukan tapi tetap sadar diri. Kata group Alphaville di lagu mereka Forever Young (1984), “hoping for the best but expecting the worse” lha ….

Di tengah adem ayemnya kegiatan mereka, saya tergabung di group obrolan telepon pintar yang beranggotakan beberapa pecinta karya Kerispatih plus Badai sebagai penghasil banyak karya Kerispatih. Di group tersebut, semua anggotanya jelas terlihat begitu cinta dan memberi support penuh pada group ini. Termasuk kepada Badai yang tak pernah meletakkan tembok antara “orang terkenal” dan “orang biasa”. Sebuah hal yang positif.

Meskipun group ini tak bisa dibilang aktif sehingga tak sering terdengar notifikasi, semua merasa nyaman saja di sini. Kenyamanan ini berubah menjadi sebuah keterkejutan dan kesedihan ketika tanggal 24 Mei 2016 pagi, tujuh menit selepas pukul delapan pagi, Badai memberikan pernyataan bahwa dia per hari ini resmi mundur dari Kerispatih. Group ini langsung ramai. Semua memberikan komentar yang menyayangkan hal ini harus terjadi meskipun beberapa tetap bisa mengambil hal positif dan tetap memberi support kepada Badai yang selanjutnya akan berkarya secara pribadi.

Bagi saya yang telah mengalami dua kejadian keluarnya personil dari band idola, kejadian pagi itu lebih bisa saya terima tanpa harus salah tingkah. Sedih? Pasti! Tanpa terasa, saya hampir menitikkan air mata membaca pernyataan Badai dan teman-teman lain yang bereaksi atas peristiwa besar ini. Emosi saya agar teraduk. Teraduk antara sedih dan harus tetap memberi dukungan pada Badai yang tak hanya sekedar idola tapi juga teman dan juga tetap memberi support pada anggota Kerispatih lain yang juga teman.

Kali ini, saya lebih siap menerima kenyataan seperti ini; band idola yang tak tau bagaimana nanti. Ini karena dalam interaksi dan memantau kegiatan mereka di media sosial, saya merasakan ada kemungkinan kemandegan yang terjadi. Apa yang saya tulis sebagai kado ulang tahun ke-12 tak berujung pada perubahan yang baik. Tapi, sekali lagi, saya tau diri seperti yang saya sebutkan di atas. Ada yang saya tak pernah tau dan tak perlu tau karena itu adalah dapur mereka.

Antara kegalauan, kesedihan, kekecewaan tapi juga kegembiraan harus diaduk menjadi sebuah harapan baru. Harapan terbaik untuk seluruh personil Kerispatih dan band itu sendiri. Haruskah saya meninggalkan mereka atau tetap bertahan pada kesetiaan yang selama ini saya baktikan? Entahlah. Saya tak bisa menjawabnya sekarang. Saya sedang sedih. Yang jelas, karya-karya mereka telah membuat saya memiliki kemampuan berbahasa indah sebagaimana karya-karya mereka yang selalu saya nikmati karena keindahannya.

Bagi Badai sendiri, lagu berjudul Cinta Putih yang bukan ciptaannya mungkin (sekali lagi mungkin) menjadi cocok untuk situasi saat ini

Apa jadinya hati yang terbagi
Diseparuh perjalananku
Rusaklah sudah cinta putih ini
Keinginan tiada sejalan dengan kenyataan hidup

Betapa ku pasrahkan hatiku
B’tapa aku mencintaimu
Tapi apa yang kau beri untukku
Kau tukar semua dengan luka dan kesakitanku
 

Reff:
Khianati…
Sebisa dirimu mengkhianati
Karena kupastikan kelak kau mohon aku
Untuk kembali padamu lagi ..
 

Sementara bagi Mahapatih, Lagu Rindu bisa menjadi soundtrack yang pas atas situasi yang terjadi saat ini

Bintang malam katakan (sampaikan) padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
 
Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan

Dan melihat apa yang terjadi dengan KLa Project setelah Lilo kembali bersama di tahun 2008, lagu ciptaan Badai di album Kenyataan Perasaan bisa saja akan menjadi nyata beberapa tahun yang akan datang:

Tak pernah ku bayangkan
Tempati sisi hatimu yg kosong
Jadi yg paling bahagia
Dapati cinta itu
 
Perlahan duka pun pergi
Jauh tenggelam tinggalkan gundah
Bertahun ku coba sendiri
Berteman caci maki
 
*
Takkan ku lepas lagi
Kehadiranmu oh anugerah
 
Reff:
Sepanjang usia
Kita trus bersama
Mengarungi hidup dengan cinta
Turut kehendaknya
 
Sepanjang usia
Ku tak mau terpisah
Memberikan hatiku seutuhnya
Hanya kepada dirimu
 
Perlahan duka pun pergi
Jauh tenggelam tinggalkan gundah
Bertahun ku coba sendiri
Berteman caci maki

Sebuah catatan atas sebuah kehilangan

Tj Singo
Pengagum Kerispatih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s